Indonesia dalam Aksi Adaptasi Perubahan Iklim di CAS 2021

  • Whatsapp
perubahan iklim
Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Saat Mengikuti kegiatan Inaugural Annual Ministerial Dialogue on Adaptation Action dalam acara Coalition Ambition Summit CAS 2021 secara virtual. (istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Presiden Jokowi mengatakan, negara kepulauan sangat dipengaruhi oleh dampak perubahan iklim. Banyak bencana alam yang terjadi di Indonesia merupakan bencana yang berkaitan dengan hidrometeorologi.

Hal tersebut disampaikan saat dirinya hadir dalam acara Coalition Ambition Summit (CAS) 2021 secara Virtual Senin 25 Januari 2021 malam.

Baca Juga

Di kesempatan itu, Presiden Jokowi mengajak negara-negara di dunia untuk bekerja keras bersama-sama atasi perubahan iklim sekaligus pandemi COVID-19.

BACA JUGA: Tahun 2020, KLHK Berhasil Rehabilitasi 17 Ribu Hektare Lahan Kritis Mangrove

Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) ke-8, Ban Ki-moon yang didaulat sebagai keynotes, Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, dan utusan perubahan iklim Presiden Amerika Serikat, John Kerry, dengan memberikan beberapa pesan.

Sementara itu dalam Sesi Inaugural Annual Ministerial Dialogue on Adaptation Action yang merupakan Dialog tahunan tentang aksi adaptasi, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( LHK ) Siti Nurbaya yang juga berposisi sebagai Co- Chair dalam Summit 2021 menjadi salah satu pembicara di kegiatan tersebut.

Dalam pemaparannya, Menteri Siti menekankan kembali apa yang dikatakan Presiden Jokowi bahwa sebagai negara agraris. Peningkatan suhu global akibat perubahan iklim tentu akan mempengaruhi produktivitas pertanian yang akan berdampak pada kondisi ekonomi dan kehidupan sosial.

Oleh sebab itu, kata Menteri Siti, Indonesia memasukkan adaptasi perubahan iklim dalam Nationally Determined Contributions (NDC)-nya. Selain mitigasi perubahan iklim untuk mencapai tiga bidang ketahanan yaitu: ketahanan ekonomi, ketahanan sosial dan kebutuhan dasar hidup, serta ketahanan ekosistem dan bentang alam.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Menyerukan Langkah Luar Biasa Hadapi Dampak Perubahan Iklim – Imperiumdaily.com

Dalam sesi dialog yang diikuti oleh Menteri bidang lingkungan hidup dari berbagai negara ini, Menteri Siti Juga menyampaikan, dari sisi regulasi, Indonesia telah memasukkan adaptasi dalam UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

“Roadmap NDC Adaptasi sedang disusun untuk memberikan arahan terhadap pencapaian NDC adaptasi pada tahun 2030. Panduan dan perangkat telah disiapkan dalam rangka implementasi adaptasi perubahan iklim di tingkat tapak,” ucap Menteri Siti.

Masih kata Menteri Siti, bahwa pada saat situasi pandemi COVID-19, implementasi adaptasi perubahan iklim dalam bentuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan Food Estate merupakan inisiatif pemerintah Indonesia untuk meningkatkan ketahanan nasional terhadap pandemi COVID-19.

“Inisiatif tersebut bertujuan untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi risiko dampak perubahan iklim melalui upaya Padat Karya Penanaman Mangrove oleh masyarakat dan peningkatan ketahanan pangan melalui Food Estate,” terang Menteri Siti.

Dalam hal pendanaan Menteri Siti Menjelaskan bahwa Indonesia telah membentuk Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) yang berfungsi untuk mengelola dana yang berasal dari dalam negeri, internasional, hingga sektor swasta untuk pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian perubahan iklim.

“Sebagai negara berkembang dengan wilayah yang hampir seluas benua Eropa dan jumlah penduduk nomor 4 di dunia, tentunya akan membutuhkan sumber daya yang besar untuk meningkatkan kapasitas guna meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, oleh karena itu diharapkan dengan dibentuknya BPDLH dapat mendukung pencapaian NDC baik dari segi mitigasi maupun adaptasi,” ungkap Menteri Siti.

Diakhir pemaparannya Menteri Siti menegaskan bahwa sebagai anggota G20, Indonesia juga berkontribusi membantu negara berkembang lainnya melalui South-South Cooperation.

“Mengakhiri pernyataan saya, saya ingin menekankan pentingnya adaptasi, sebagaimana tercermin dari ambisi besar kami untuk mencapai agenda pengendalian perubahan iklim,” pungkas Menteri Siti.(sir/lna)