IBU Bedah Pemikiran Soekarno, Ribuan Mahasiswa Terpukau

  • Whatsapp
IKIP BUdi Utomo
Mahasiswa mendengarkan paparan Rektor IKIP Budi Utomo, Dr H Nurcholis Sunuyeko.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-MALANG – Lesehan, tapi gayeng dan penuh ilmu. Hal itu terjadi di Kampus C IKIP Budi Utomo (IBU) Sabtu 30 November 2019, saat menggelar Bedah Pemikiran Soekarno, presiden pertama RI.

Karena hingga saat ini, fondasi pembangunan Indonesia, banyak merujuk pada hasil karya pemikiran pria kelahiran Blitar Jawa Timur tersebut. Dijelaskan, mempelajari pola pikir Soekarno, sebagai upaya, agar mahasiswa bisa kompatibel dengan perkembangan zaman. Kata Nurcholis Sunuyeko Rektor IBU saat membuka acara.

Baca Juga

”Jadi dengan membedah pemikiran Soekarno, kita tidak sekadar sarasehan sejarah. Lebih dari itu, kita mempelajari bagaimana Sang Presiden pertama itu, bisa menjadi sosok yang paling berpengaruh. Agar kompatibel dengan zaman, Anda harus mengetahui bagaimana Soekarno. Karena banyak kejadian saat ini, adalah skenario yang disusun di masa lalu,” ujar Rektor IKIP Budi Utomo, Dr H Nurcholis Sunuyeko.

Sarasehan sejarah dengan tema Membedah Pemikiran Soekarno itu, digelar Prodi Pendidikan Sejarah dan Sosiolosi IKIP Budi Utomo. Berlangsung di kampus C, Jalan Citandui. Diikuti ribuan mahasiswa dari berbagai fakultas.

Kenapa harus Soekarno? Menurut Rektor, Bung Karno – demikian Soekarno biasa dipanggil – tidak sekadar tokoh nasional. Tapi sudah melegenda hingga mancanegara. Kemampuannya menguasai sembilan bahasa, memungkinkan Bung Karno, berinteraksi dengan dunia internasional. Di tengah keterbatasan Indonesia saat itu.

Wajar jika pola pikir Soekarno berpengaruh pada presiden-presiden selanjutnya. Termasuk Soeharto, yang menjadi presiden penggantinya.
”Dua presiden berpengaruh di Indonesia, Soekarno dan Soeharto. Keduanya peletak fondasi bangsa ini. Terlepas dari sisi negatif yang mengiringi,” lanjut Nurcholis.

Meski demikian, Nurcholis meminta agar saat mempelajari pola pikir Soekarno, harus tetap mengedepankan pemikiran akademis. Bukan hanya didasari cinta semata. Yang justru bisa menutup netralitas dan keilmuan.

”Soekarno hanya sekali lahir dan tak tergantikan. Tapi pemikir-pemikir lain, dengan warna Soekarno, akan terus lahir,” lanjutnya.

Sementara Dr Ibnu Mujib berharap setelah membedah pemikiran Soekarno, sarasehan akan berlanjut dengan membedah pemikiran tokoh-tokoh yang lain untuk memperluas wawasan mahasiswa. (adi/han)