Rabu, September 28, 2022
BerandaNewsJatimHeboh Kasus Siswi Bantul Dipaksa Pakai Jilbab, Ternyata di Malang Juga Ada

Heboh Kasus Siswi Bantul Dipaksa Pakai Jilbab, Ternyata di Malang Juga Ada

Dyah meyakini para siswi tidak mampu membantah peraturan wajib jilbab. Apalagi, para guru yang meminta langsung mereka untuk mematuhinya.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

“Aku bisa membayangkan, pasti anak-anak tidak ada yang berani mendebat guru-guru itu ketika berbicara tentang kewajiban berjilbab, karena apa? Posisi yang tidak setara membuat mereka lemah, tidak punya ‘bargaining power’. Dan juga sistem pendidikan kita yang melanggengkan budaya guru selau benar, guru tidak bisa dikritik. Sampai kapan terus seperti itu,” tegas Dyah.

“Anak ABG masih dalam tahap membangun dan mengembangkannya. Jadi kalau ini disabotase oleh sekolah atau lebih parah oleh ortu, maka hasilnya akan kita tuai nanti,” lanjut Dyah.

Dalam hemat Dyah, mengenakan jilbab sepenuhnya menjadi kuasa seorang anak, tanpa perlu adanya paksaan.

“Saya mendidik anak-anak secara SEKULER, agama dan keyakinan adalah wilayah pribadi anak-anak, meski anak bungsu saya masih SMP. Saya mewajibkan dia membaca buku sains populer, baik sains alam maupun sejarah alam, dan itu ternyata membantunya membangun ‘cara berpikir mandiri’ tadi. Dan dia sudah mempunyai sikap terhadap ritual keyakinan yang dijalaninya. Saya menghormatinya,” paparnya.

BACA JUGA: Siswi Nonmuslim Pakai Jilbab, Kepsek SMKN 2 Padang: Saya Terjebak Instruksi

Dyah pun mengaku telah mencoba membeberkan persoalan ini kepada rekannya yang menjabat di Kementerian Pendidikan. Namun belum mendapatkan respons.

Saat ini, ia mengatakan, hanya mampu berusaha menjaga mental sang anak agar tak sampai depresi akibat dugaan intimidasi tersebut.

“Saya pernah mencolek pejabat teras Kemendikbud yang jadi ‘teman’ di Facebook saya, tapi nihil, membaca pesan saya saja tidak. Jadi memang saya harus membentengi anak saya dengan pemikiran yang menguatkan mentalnya sendirian, dan support teman-teman dunia maya, perempuan2 pemberani yang menginspirasiku,” tutupnya.

Hingga berita ini ditulis, unggahan Dyah tersebut sudah mendapatkan sebanyak 281 komentar dan dibagikan 104 kali.(lna)

BERITA KHUSUS

Tujuh Poktan Situbondo Bakal Dapat Bantuan Alat Jemur Tembakau

NUSADAILY.COM - SITUBONDO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo menggelontorkan anggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2022 sekitar Rp180 juta. Duit jumbo...

BERITA TERBARU

Karier Harry Maguire di MU Sudah di Ujung Tanduk?

NUSADAILY.COM - MANCHESTER - Legenda Liverpool, Jamie Carragher beri kritik kepada Harry Maguire. Katanya, bek tengah itu sudah habis waktunya di Manchester United untuk...

NUSADAILY.COM - KOTA MALANG - Beberapa waktu belakang, publik tengah dihebohkan dengan kasus seorang siswi di SMA Negeri 1 Bangutapan, Kabupaten Bantul mengalami depresi setelah diduga dipaksa mengenakan jilbab oleh guru di sekolah.

Belum tuntas kasus tersebut bergulir hingga ke ranah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), rupanya kasus serupa diduga turut terjadi di salah satu sekolah swasta di Kota Malang.

Dugaan pemaksaan siswa untuk memakai jilbab ini diungkap oleh seorang wali murid dalam akun Facebooknya, Dyah Purana.

Dyah menyebut, sang anak bersekolah di salah satu SMP umum atau swasta di Kota Malang.

BACA JUGA: KPAI dan Kemendikbudristek Temui Pihak Korban Pemaksaan Jilbab di Bantul

"Buk, Boleh Gak Sih Aku Ngaku Ateis Aja daripada Dipaksa Berjilbab di Sekolah? Hatiku langsung menangis, mendengar anak gadisku bertanya seperti itu," tulis Dyah membuka kalimatnya, dilihat Nusadaily.com, Jumat (5/7/2022).

Peraturan Tidak Tertulis

Dyah mengatakan, di sekolah tempat anaknya menimba ilmu terdapat peraturan tidak tertulis yang mengharuskan para siswi mengenakan jilbab di hari Jumat.

"Institusi pendidikan macam apa yang telah aku pilih untuk sekolah anakku, sehingga ada praktik pemaksaan yang dibungkus kalimat 'peraturan sekolah'," ujarnya.

Menurutnya, peraturan wajib jilbab tersebut digaungkan secara masif oleh para guru di forum umum seperti upacara atau acara khusus.

Bahkan, ia mengatakan, para guru menegur dan menemui langsung para siswi yang tak menjalankan peraturan tak tertulis tersebut.

"Ada juga beberapa guru yang bertanya langsung empat mata dengan anak gadisku mengapa dia tidak kunjung berjilbab padahal sudah banyak sindiran intimidasi di sekolah. Bahkan seorang guru perempuan dengan tebuka di kelasnya memarahi 4 siswi yang tidak berjilbab," katanya.

Dyah meyakini para siswi tidak mampu membantah peraturan wajib jilbab. Apalagi, para guru yang meminta langsung mereka untuk mematuhinya.

"Aku bisa membayangkan, pasti anak-anak tidak ada yang berani mendebat guru-guru itu ketika berbicara tentang kewajiban berjilbab, karena apa? Posisi yang tidak setara membuat mereka lemah, tidak punya 'bargaining power'. Dan juga sistem pendidikan kita yang melanggengkan budaya guru selau benar, guru tidak bisa dikritik. Sampai kapan terus seperti itu," tegas Dyah.

"Anak ABG masih dalam tahap membangun dan mengembangkannya. Jadi kalau ini disabotase oleh sekolah atau lebih parah oleh ortu, maka hasilnya akan kita tuai nanti," lanjut Dyah.

Dalam hemat Dyah, mengenakan jilbab sepenuhnya menjadi kuasa seorang anak, tanpa perlu adanya paksaan.

"Saya mendidik anak-anak secara SEKULER, agama dan keyakinan adalah wilayah pribadi anak-anak, meski anak bungsu saya masih SMP. Saya mewajibkan dia membaca buku sains populer, baik sains alam maupun sejarah alam, dan itu ternyata membantunya membangun 'cara berpikir mandiri' tadi. Dan dia sudah mempunyai sikap terhadap ritual keyakinan yang dijalaninya. Saya menghormatinya," paparnya.

BACA JUGA: Siswi Nonmuslim Pakai Jilbab, Kepsek SMKN 2 Padang: Saya Terjebak Instruksi

Dyah pun mengaku telah mencoba membeberkan persoalan ini kepada rekannya yang menjabat di Kementerian Pendidikan. Namun belum mendapatkan respons.

Saat ini, ia mengatakan, hanya mampu berusaha menjaga mental sang anak agar tak sampai depresi akibat dugaan intimidasi tersebut.

"Saya pernah mencolek pejabat teras Kemendikbud yang jadi 'teman' di Facebook saya, tapi nihil, membaca pesan saya saja tidak. Jadi memang saya harus membentengi anak saya dengan pemikiran yang menguatkan mentalnya sendirian, dan support teman-teman dunia maya, perempuan2 pemberani yang menginspirasiku," tutupnya.

Hingga berita ini ditulis, unggahan Dyah tersebut sudah mendapatkan sebanyak 281 komentar dan dibagikan 104 kali.(lna)