Senin, November 29, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaNewsHari Pangan Sedunia, Khofifah: Perkuat Ketahanan Pangan dengan Tiga Langkah Sederhana !

Hari Pangan Sedunia, Khofifah: Perkuat Ketahanan Pangan dengan Tiga Langkah Sederhana !

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM- SURABAYA – Setiap 16 Oktober, dunia memperingati World Food Day atau Hari Pangan Sedunia (HPS). Sesuai tema, Food and Agriculture Organization (FAO) kali ini, yaitu “Our actions are our future – better production, better nutrition, a better environment and a better life”, diperlukan peran serta masyarakat secara aktif mengupayakan penguatan ketahanan pangan.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Untuk itu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengajak kepada seluruh masyarakat aktif mewujudkan ketahanan pangan di Jatim.

Kata dia ada tiga langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk ikut mewujudkan keinginan tersebut.

Pertama, memilih makanan yang sehat, lokal dan musiman. Artinya makanan yang bernutrisi cukup bagi individu untuk bergerak aktif dan dapat menghindari risiko penyakit.

“Alhamdullilah di Indonesia terutama Jawa Timur kaya akan sumber daya alam dan ragam jenis pangan yang melimpah. Ini menjadi syukur kita bersama,” ujar Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (16/10).

Langkah sederhana bisa dilakukan dengan mendorong program diversifikasi pangan. Dengan potensi lokal masyarakat harus memahami sumber karbohidrat itu tidak beras saja melainkan umbi-umbian, sukun, dan jagung.

Berkebun di Lingkungan Rumah Sendiri

“Cara tersebut juga sebagai bagian untuk membantu masyarakat dalam mengakses makanan sehat,” terangnya.

Kedua, berkebun atau bercocok tanam di lingkungan rumah sendiri. Cara ini efektif, mengingat ketahanan pangan bisa diraih jika masyarakat memulai dari level terkecil, yaitu di keluarga.

“Diharapkan setiap rumah tangga bisa mengoptimalisasi sumber daya yang dimiliki, termasuk pekarangannya dalam menyediakan makanan bagi keluarga,” jelasnya.

Ketiga, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai makanan dan lingkungan dengan mengurangi untuk membuang makanan.

Termasuk mengurangi sampah makanan adalah hal yang paling sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat besar.

“Food waste menurut FAO, mengacu kepada makanan yang dibuang, padahal produk makanan atau produk makanan alternatif masih aman dan bergizi untuk dikonsumsi. Misal, makanan tak habis karena soal rasa atau ambil terlalu banyak,” jelas Khofifah.

Sesuai data, Indonesia merupakan produsen sampah makanan terbesar ke-2 di dunia. Tigabelas juta ton makanan terbuang, sama dengan kebutuhan pangan 11 % orang Indonesia atau setara kebutuhan 28 juta jiwa.

Data di Bappenas, perkiraan “food waste” Indonesia di angka 23 juta-48 juta ton/tahunnya. Sedang makanan konsumsi yang terbuang di Indonesia bisa mencapai 115-184 kg perorang setahun.

Limbah Makanan Mengakibatkan Kerugian Ekonomi

“Perhitungan angka 115 – 184 kg per orang per tahun itu termasuk perhitungan dari “food loss” dari sisi produksi. Mulai dari beras ditanam sampai ke piring kita,” jelasnya.

Sementara limbah makanan itu sendiri, ternyata dapat mengakibatkan dampak kerugian ekonomi sebesar Rp. 213 triliun hingga Rp. 551 triliun pertahunnya.

Bila jumlah penduduk Jawa Timur pada 2020 mencapai 40.665.700 jiwa (Jatim Dalam Angka/BPS 2021), potensi food waste di Jatim berkisar pada 4.676.555,5 – 7.482.488,8 ton pertahun atau sekitar 15,59 % – 20,33 %.
Tingginya angka food waste tersebut tentu dapat berdampak pada perekonomian dan sektor lainnya.

“Oleh karena itu diharapkan, masyarakat bisa mulai merubah pola pikir dan kondisi saat ini dapat menyadarkan kita agar lebih bijak dalam mengelola makanan,” jelasnya.

Melihat pentingnya kesadaran masyarakat terhadap persoalan pangan, Gubernur Khofifah meminta, agar masyarakat dapat memperkirakan dengan baik jumlah makanan yang diperlukan.

Disamping itu, dia meminta untuk mencermati dalam mengolah makanan sesuai kebutuhan.

“Agar apa ? agar tidak ada lagi yang terbuang sebagai bagian dalam upaya untuk mengurangi food waste. Misalnya dengan merencanakan menu makanan di rumah secara seksama, sehingga tidak ada makanan yang menjadi limbah,” jelasnya.

Di momen ini Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga mengingatkan kepada para generasi muda agar dapat memilih bahan pangan yang sehat, aman, bergizi dan juga bermutu.

“Generasi milenial dapat menjadi duta keamanan pangan dan mengajak lingkungan disekitarnya untuk membeli panganan produk lokal. Atau melakukan inovasi menggunakan produk lokal misalnya porang yang saat ini banyak diminati negara tetangga,” ujar Khofifah.

Mantan Menteri Sosial ini pun mengajak para generasi milenial untuk menjadi konsumen yang cerdas dan kritis dalam hal memilih pangan.

“Generasi milenial adalah generasi emas yang harus menyadari pengetahuan terkait bahan pangan, karena keamanan pangan adalah tanggung jawab kita bersama dan tanggung jawab generasi muda tentunya,” jelas Khofifah.

Generasi Milenial Harus Mampu Ajak Masyarakat

Di generasi milenial saat ini harus mampu mengajak masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh di masa pandemi Covid-19. Yakni dengan mengkonsumsi pangan gizi seimbang dan cerdas kenali label gizi pada pangan.

“Generasi milenial harus proaktif menjadi agen perubahan. Selain mengkampanyekan kebiasaan baru, harus juga menebarkan semangat untuk membangun hidup sehat dan cerdas dalam memilih pangan yang aman, bermutu, dan bergizi.” katanya.

“Apalagi saat ini Jatim sudah menjadi provinsi yang swasembada pangan dengan prestasi surplus baik komoditas beras atau jagung. Sebagai provinsi yang memiliki kawasan maritim dan agraris tropis dengan potensi produksi pangan yang sangat beragam dan besar, Jatim sejatinya berpeluang untuk menjadi provinsi besar yang maju dan makmur,” jelas Khofifah.

Dalam peringatan HPS 2021, ini masyarakat bisa optimalisasi pengolahan lahan pertanian, dengan tingkat kesulitannya, dari soal irigasi, pemilik lahan tinggal di luar provinsi (perantau), atau ketiadaan modal untuk menggarap.

“Dalam pelaksanaannya, petani dan pemilik lahan bisa bekerjasama dengan berbagai pihak, misalnya kepada TNI yang selama ini sudah banyak berperan dalam mensukseskan program pemerintah. Pemilik lahan akan mendapat bagian dari hasil pengolahan lahannya. Tergantung kesepakatan kedua belah pihak,” pesan Khofifah.(ima/aka)

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR