Sabtu, November 27, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaNewsCerita Perjuangan Istri Dokter yang Terpapar COVID-19: Itu Saat-saat Terburuk Bagi Kami

Cerita Perjuangan Istri Dokter yang Terpapar COVID-19: Itu Saat-saat Terburuk Bagi Kami

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – MALANG – Tak pernah terlintas di bayangan Aminah Najmah, seorang notaris asal Kota Malang, bahwa suaminya, dr. Sugiharta Tandya, SpPK akan menjadi salah satu pasien COVID-19. Kurang lebih lima bulan lamanya, Aminah ikut berjuang dalam penyembuhan suaminya dari virus ganas tersebut.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Kepada NusaDaily.com, Aminah membagikan cerita perjuangannya. Dikatakannya, sang suami yang merupakan salah satu dokter senior di Kota Malang ini terpapar COVID-19 pada pertengahan Juli 2020 lalu.

BACA JUGA: Biaya Pengobatan Pasien Covid 19 Mahal, Sekali Suntik Rp 6 Juta

Sebelum dinyatakan positif COVID-19, suaminya sempat mengalami demam. Karena tak kunjung sembuh, ia akhirnya memutuskan untuk melakukan swab test untuk sang suami.

Meski hasilnya belum keluar, perempuan behijab itu sudah curiga bahwa suaminya terpapar, melihat dari gejala-gejala yang dimiliki Tandya.

“Dia (suami) tidak merasakan apa-apa. Namun, terus merasa lemas. Saya curiga dengan gejala-gejala itu, happy hypoxia,” kata Aminah.

Mengambil langkah cepat, Aminah memutuskan mengisolasi mandiri suaminya di kamar tidur terpisah. “Alat mandi, alat makan, pakaian, semuanya kami pisahkan,” ujar dia.

Selain mendampingi suaminya yang melakukan isolasi mandiri, ia berusaha keras melindungi dua anak lelakinya agar tak sampai tertular.

Aminah memberikan pengertian kepada dua anaknya yang berusia 7 dan 4 tahun, bahwa ayahnya tengah sakit, dan belum bisa berinteraksi. Memakai masker pun sudah menjadi kewajiban bagi mereka meski di dalam rumah.

“Dua hari kemudian, suami saya diketahui positif COVID-19 dan saya sempat menunggu selama tujuh jam di IGD salah satu rumah sakit rujukan, karena kamarnya penuh. Saat itu, hasil thorax-nya, ada tiga titik di paru-parunya (yang menandakan bahwa suaminya terpapar COVID-19),” terang dia.

Sempat Ikut Jatuh Sakit

Di saat genting seperti itu, perempuan asal Banyuwangi ini sempat jatuh sakit. Padahal, sebelumnya, hasil swab Aminah dan kedua anaknya negatif.

Tak mau mengambil resiko, Aminah mengungsikan kedua anaknya ke sebuah hotel di Kota Malang. Sementara, dirinya menjalani isolasi mandiri di rumahnya. Kondisi itu terjadi selama seminggu, hingga gejala-gejala sakitnya hilang.

BACA JUGA: Pasien Covid 19 di Magetan Terus Membludak, Puskesmas Jadi Ruang Isolasi

“Saat itu saya benar-benar merasa sendirian, suami di rumah sakit, anak saya titipkan ke kerabat dekat, saya merasa hanya ada saya dan Tuhan. Selama isolasi mandiri itu, saya hanya bisa berkomunikasi melalui online dengan anak-anak,” kata dia.

Suami Kritis

Dirinya sembuh, namun keesokan harinya, sang suami mulai menunjukkan gejala kritis. Bahkan, sempat dipasang alat ventilator. Sang suami ternyata membutuhkan donor plasma konvalesen.

Saat itu, dirinya dibantu oleh sejumlah tim dokter berupaya untuk mendapatkan kantong darah. Meski tidak bisa mendampingi secara langsung, dia berusaha keras dari jauh. Mencarikan donor plasma konvalesen, meminta doa ke sejumlah panti asuhan di hingga luar kota.

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR