Minggu, Mei 29, 2022
BerandaNewsMetropolitanCara Emak-Emak Intelek Atasi Suntuk, Kreatif dan Hasilkan Duit

Cara Emak-Emak Intelek Atasi Suntuk, Kreatif dan Hasilkan Duit

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

JEMBER – Sejak pandemi COVID-19 hampir semua aktivitas tidak seleluasa kondisi normal sebelumnya. Keterbatasan itu seringkali membuat jenuh.

Namun, manusia selalu memiliki cara untuk mengatasi persoalan. Bahkan, manfaatnya bisa menghasilkan uang.

Seperti yang dilakukan sejumlah dosen perempuan di Universitas Muhamadiyah (Unmuh) Jember ini. Ditengah pandemi COVID-19, mereka mempunyai ide membudidayakan bunga lewat cara kokedama.

Gagasan yang awalnya juga buat pengabdian masyarakat di kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari itu pada akhirnya juga bernilai ekonomis.

“Edukasi tentang tanaman hias saja akan kurang menarik, maka dari itu dikemas dengan Kokedama. Karena kita berasal dari Unmuh Jember, maka diberi nama KokedamaMU,” ujar Kepala Laboratorium Gaperta Unmuh Jember, Hidayah Murtyaningsih, Jumat, 30 Oktober 2020.

Menurutnya, meski beranggotakan sembilan orang dari dosen Agribisnis, Agroindustri, dan TIP, awal percobaan metode Kokedama mengalami trial and error.

Bisa Kembangkan 4 Jenis Varietas

Tapi, pada akhirnya mereka bisa mengembangkan 4 jenis varietas yaitu tanaman sukulen, golongan sansevieria, anggrek, dan golongan adam hawa.

Kokedama sendiri merupakan metode dari Jepang dimana koke artinya lumut; dan dama artinya bulatan. Campur tanaman yang dipilih dengan tanah bonsai dan lumut lalu ikat dengan tali goni membentuk bulatan.

Hidayah menjelaskan, semua tanaman yang berukuran kecil bisa memakai metode itu. Misalnya, seperti anggrek yang diberi media tanam arang dengan lapisan sabut kelapa.

Kokedama yang bentuknya unik dapat menghiasi meja ruang tamu atau diletakkan dalam pot menggantung di depan rumah tanpa khawatir kotor oleh tanah.

Hidayah dkk mulai memasarkan produk pengembangan kokedama secara lebih luas ke masyarakat.

“Kita masih menjual di lingkup internal namun konsumen juga ada yang berasal dari luar kampus. Kita akan terus mengembangkan pasar,” ungkap dosen Pertanian tersebut.

Tanaman yang paling laris yakni golongan sirih gading dan janda bolong karena sedang ngetrend. Bahkan, Hidayah mengaku, sampai kekurangan stok untuk dua jenis tanaman tersebut.

Laboratorium Faperta sedang menjalin kemitraan dengan para pedagang bunga. Harga tiap kokedama berada pada kisaran Rp 20 sampai Rp 50 ribu. Khusus anggrek masih lebih mahal dari bunga lainnya. (sut/aka)

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Fokus Permata-Kupang Gelar Paskah dan Pekan Penerimaan Anggota Baru 2022

NUSADAILY.COM - KUPANG - Forum Komunikasi Pemuda Pelajar Mahasiswa Asal Tabundung (Fokus Permata)-Kupang melaksanakan Paskah dan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB), di selenggarakan selama...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

JEMBER - Sejak pandemi COVID-19 hampir semua aktivitas tidak seleluasa kondisi normal sebelumnya. Keterbatasan itu seringkali membuat jenuh.

Namun, manusia selalu memiliki cara untuk mengatasi persoalan. Bahkan, manfaatnya bisa menghasilkan uang.

Seperti yang dilakukan sejumlah dosen perempuan di Universitas Muhamadiyah (Unmuh) Jember ini. Ditengah pandemi COVID-19, mereka mempunyai ide membudidayakan bunga lewat cara kokedama.

Gagasan yang awalnya juga buat pengabdian masyarakat di kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari itu pada akhirnya juga bernilai ekonomis.

"Edukasi tentang tanaman hias saja akan kurang menarik, maka dari itu dikemas dengan Kokedama. Karena kita berasal dari Unmuh Jember, maka diberi nama KokedamaMU," ujar Kepala Laboratorium Gaperta Unmuh Jember, Hidayah Murtyaningsih, Jumat, 30 Oktober 2020.

Menurutnya, meski beranggotakan sembilan orang dari dosen Agribisnis, Agroindustri, dan TIP, awal percobaan metode Kokedama mengalami trial and error.

Bisa Kembangkan 4 Jenis Varietas

Tapi, pada akhirnya mereka bisa mengembangkan 4 jenis varietas yaitu tanaman sukulen, golongan sansevieria, anggrek, dan golongan adam hawa.

Kokedama sendiri merupakan metode dari Jepang dimana koke artinya lumut; dan dama artinya bulatan. Campur tanaman yang dipilih dengan tanah bonsai dan lumut lalu ikat dengan tali goni membentuk bulatan.

Hidayah menjelaskan, semua tanaman yang berukuran kecil bisa memakai metode itu. Misalnya, seperti anggrek yang diberi media tanam arang dengan lapisan sabut kelapa.

Kokedama yang bentuknya unik dapat menghiasi meja ruang tamu atau diletakkan dalam pot menggantung di depan rumah tanpa khawatir kotor oleh tanah.

Hidayah dkk mulai memasarkan produk pengembangan kokedama secara lebih luas ke masyarakat.

"Kita masih menjual di lingkup internal namun konsumen juga ada yang berasal dari luar kampus. Kita akan terus mengembangkan pasar," ungkap dosen Pertanian tersebut.

Tanaman yang paling laris yakni golongan sirih gading dan janda bolong karena sedang ngetrend. Bahkan, Hidayah mengaku, sampai kekurangan stok untuk dua jenis tanaman tersebut.

Laboratorium Faperta sedang menjalin kemitraan dengan para pedagang bunga. Harga tiap kokedama berada pada kisaran Rp 20 sampai Rp 50 ribu. Khusus anggrek masih lebih mahal dari bunga lainnya. (sut/aka)