Branding Pariwisata Malang Raya Kurang Kuat

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MALANG – Selama satu tahun terakhir, sejak pandemi covid-19 melanda, seluruh sektor usaha terkena dampaknya. Tak terkecuali dunia pariwisata. Seluruh pendapatan dari sektor ini mengalami penurunan, baik dari segi okupansi atau pendapatan hotel, kafe, restoran maupun penggerak pariwisata lainnya.

Namun, sejak awal tahun ini, pemerintah pusat sudah mulai melonggarkan aturan untuk kembali menggerakkan roda perekonomian. Sehingga, hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan pariwisata.

“Tahun lalu, saat masa awal pandemi, sangat terasa sekali. Okupansi hotel menurun dan banyak karyawan yang harus rela unpaid leave (cuti di luar tanggungan). Itu baru usaha hotel, belum supplier dan lainnya,” terang Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, Dwi Cahyono, dalam diskusi pariwisata, Senin (3/5/2021) di Rumah Makan Kertanegara, Kota Malang.

Apalagi, saat ini, ada aturan peniadaan mudik bagi masyarakat rantau yang tinggal di luar kota. Sehingga, menurutt Dwi, harus ada sttategi khusus untuk menggairahkan kembali geliat pariwisata.

Banyak yang Belum Terbiasa

“Banyak masyarakat yang belum terbiasa staycation atau berlibur di hotel yang ada di kotanya sendiri. Salah satu yang harus dikuatkan adalah branding tiga kawasan Malang Raya, mulai dari Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu,” jelas dia.

Menurut Dwi, penguatan branding tersebut harus betul-betul direncanakan dengan matang oleh ketiga kawasan tersebut. “Ini yang harus direncanakan dengan matang, agar bisa menjadi satu kesatuan dan mendongkrak potensi wisata yang ada,” imbuh dia.

Menanggapi usulan tersebut, perwakilan pelaku wisata dari Jatim Park Group, Suryo Wibowo menambahkan, branding tiga kawasan tersebut harus direncanakan dengan matang dan diawasi oleh para akademisi.

“Setidaknya, nanti ada perencanaan untuk membuat rute pariwisata yang mencakup berbagai wisata di Malang Raya. Sehingga, harus ada kolaborasi yang kuat,” kata dia.

Pada kesempatan tersebut, perwakilan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang, Rinikso Kartono menambahkan, untuk menjalin kolaborasi yang apik, harus terbentuk smart governance untuk memperkuat potensi pariwisata.

“Tidak hanya eksekutif yang bergerak. Namun, legislatif juga. Masyarakat juga harus mndukung potensi pariwisata yang ada ini,” tandas dia.(nda/aka)