Senin, September 27, 2021
BerandaNewsBegini Pangkal soal Tudingan Isu Plagiasi M Zainuddin

Begini Pangkal soal Tudingan Isu Plagiasi M Zainuddin

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – MALANG – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) terus berpacu membenahi diri untuk menjadi kampus kelas dunia.

Namun untuk meraih cita-cita besar itu kampus terbesar di jatim ini dua kali diterpa isu miring tentang plagiasi, yakni sekitar 2015 dan awal 2018 ini.

Pada 2015 isu serupa menerpa sang rektor UIN kala itu, Prof Dr Mudjia Rahardjo. Isu ini pun selesai dan berhenti karena tidak terbukti. Sedang isu dugaan plagiasi berikutnya menerpa WR 1 UIN Malang sekarang, Dr M. Zainuddin MA, yang sekarang sudah dilantik sebagai Rektor baru.

Mengapa isu plagiasi ini terus melanda kampus ini? Nusadaily.com mencoba membedah mengutip dari wawancara TIMES Indonesia dengan WR 1 UIN Malang Dr M. Zainuddin MA yang bicara blak-blakan atas isu yang menerpanya.

UIN Malang sudah dua kali ini mendapat terpaan isu dugaan plagiasi. Salah satunya terkait Pak Zen (sapaan akrab Dr M. Zainuddin MA). Bagaimana perasaan Anda?

Anda benar. Tapi saya santai, tidak begitu merespons berlebihan. Karena memang itu tidak benar. Dan saya tidak pernah melakukan apa yang diisukan dan dituduhkan itu. Semua sudah sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah. Memang sudah dua kali isu dugaan plagiasi ini dihembuskan. Dulu zaman Pak Muji (mantan Rektor UIN Prof Dr Mudjia Rahardjo) begitu. Selesai. Karena memang tidak ada itu plagiasi. Saya sendiri turut menyelesaikan (apa yang menimpa Prof Dr Mudjia Rahardjo) saat itu. Eh, sekarang isu serupa mengarah ke saya.   

Jika sudah dua kali begitu, apa menurut Anda ada yang “bermain-main” dengan isu sensitif ini?

Soal itu saya rasa sudah banyak yang paham. Artinya, whats actually happen atas ramainya isu dugaan plagiasi yang sekarang dan yang dulu, civitas akademika UIN Malang sudah tahu semua. 

Tahu seperti apa maksudnya?

Ya pokoknya semua sudah tahu yang sebenarnya terjadi. Saya kira Anda (TIMES Indonesia, Red) juga sudah mengetahuinya. Semuanya kan urusan ketidakpuasan dan kekuasaan.

Baiklah pak. Khusus untuk isu dugaan plagiasi yang menerpa Anda, sebenarnya apa yang terjadi?

Ceritanya panjang. Tapi begini. Kira-kira isu ini berhembus bermula dari samangat kami para civitas akademika UIN Malang mensosialisasikan ide integrasi ilmu dan agama, serta tarbiyah Ulul Albab.

Ketiganya memang lagi getol dikembangkan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini. Berawal dari situ, maka beberapa diskusi dan seminar terus digelar. Termasuk diskusi intens dengan Prof Imam Suprayogo yang saat itu menjabat sebagai rektor.

Hingga suatu ketika saya diminta beliau untuk terus menyuarakan dua tema besar itu. Integrasi ilmu dan agama dengan Tarbiyah Ulul Albab. Kerjasama itu terus berlangsung.

Termasuk akhirnya memberi kata pengantar buku yang saya tulis sendiri. Judulnya Kesalihan Sosial vs Normatif. Kami juga meneliti dalam satu tim tentang Kerukunan Umat Beragama di Sitiarjo, Malang.

Kapan itu Anda lakukan?

Kira-kira tahun 2017. Saat itu saya masih menjadi pembantu Dekan Bidang Akademik di Fakultas Tarbiyah. Sejak itu, saya kemudian menulis buku lagi. Judulnya Paradigma Pendidikan Terpadu: Menyiapkan Generasi Ulul Albab yang diterbitkan UIN Press tahun 2008.

Dalam buku itu, pada bab V, saya memasukkan tulisan beliau dari makalah yang beliau tulis dan dari naskah yang saya edit dengan saudara In’am Esha. Buku itu berjudul Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam.

Yang mencetak UIN Press, tahun Juni 2004. Dalam bab V dalam buku itu saya beri judul, Pendidikan Terpadu Mazhab UIN Malang dengan foot note, yaitu: “Naskah pada bab ini diadaptasi dari konsep integrasi ilmu dan agama yang ditulis oleh Prof. Imam Suprayogo Rektor UIN Malang”

Konon ini yang jadi masalah, karena Anda dianggap tidak mencantumkan nama Prof Imam Suprayogo?

Di dalam daftar pustaka memang tidak saya sebutkan nama beliau. Karena naskah beliau itu sudah saya masukkan dalam buku yang saya edit dari hasil seminar oleh beberapa nara sumber.

Di antaranya Prof Imam Suprayogo itu sendiri. Buku itu berjudul Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam, yang sudah saya masukkan dalam daftar pustaka dalam buku yang saya tulis sebelumnya itu. Yakni, Paradigma Pendidikan Terpadu

Apakah Anda sudah menjelaskan ke Imam Suprayogo, setidaknya saat isu ini mencuat?

Sudah. Saat berita tentang dugaan plagiasi itu terdengar dari sebuah media online akhir bulan November 2016, saya segera klarifikasi kepada Prof Imam. 

Apa respons Imam Suprayogo kala itu?

Beliau justru marah-marah. Bahkan beliau sempat mengeluarkan perkataan yang menurut saya tidak pantas didengar sebagai profesor. Apalagi beliau mantan rektor UIN Malang dan tokoh pendidikan.

Lalu, apa yang Anda lakukan dengan respons seperti itu?

Bagaimana pun Prof Imam itu ya guru saya. Saya tidak marah, meski tak pernah melupakan hehehe. Bahkan demi kemaslahatan, saya minta maaf secara lisan ke beliau. Tidak cukup dengan lisan saja, beliau juga minta saya untuk menulis permintaan maaf secara tertulis. Saya turuti permintaan itu. Saya akhirnya mengetik surat permintaan maaf itu. 

Apa yang melatari Anda bersikap lunak seperti itu, apalagi Anda tidak pernah melakukan dugaan plagiasi seperti yang dituduhkan dalam isu itu?

Saya menghormati beliau sebagai guru dan profesor di UIN Malang. Seperti santri pada kiainya, begitulah. Lagi pula, isu plagiat di kampus ini jelas tidak benar. Karena isu itu hanyalah bahan untuk mengobok-obok kampus ini saja, untuk mencapai tujuan tertentu.

Isu ini dalam tiga bulan terakhir menjadi konsumsi publik setelah diberitakan sejumlah media. Bagaimana Anda menyikapi?

Ya begitulah. Berita yang menurut umum kurang baik justru cepat jadi perbincangan. Bahkan jadi viral. Coba kalau itu berita bagus, misalnya prestasi hebat UIN Malang, karya-karya hebat mahasiswa UIN Malang, jarang yang jadi viral kan.

Inilah kondisi arus sosial informasi kita. Makanya saya setuju dan mendukung program ketahanan informasi pendidikan yang kalian gagas dengan memproduksi sebanyak-banyak berita positif. Setidaknya ini akan jadi antithesis bagi kondisi informasi dan social masyarakat kita.

Terima kasih soal ini. Kembali ke isu dugaan plagiasi. Saya mendengar kabar bahwa isu ini begitu jadi konsumsi publik setelah ada orang yang sengaja mendatangi Anda, apa benar begitu?

Mungkin juga ya. Saya tidak mau berandai-andai. Tapi itu ceritanya begini. Saya masih ingat betul, pada saat itu hari Selasa, tanggal 27 Desember 2016. Kira-kira pukul 10.30, ada seseorang datang ke kantor saya.

Ia mengenalkan diri dari sebuah LSM. Namanya lupa saya. Tapi konon dia juga pernah mendatangi Pak Mudjia dulu saat diterpa isu miring tentang dugaan plagiasi juga.   

Apa yang dibicarakan tamu Anda itu?

Orang ini menanyakan soal berita tentang plagiarisme yang dimuat di sebuah situs online. Ia juga membawa print out berita online itu. Dia juga menanyakan tentang permintaan maaf saya ke Pak Imam. Saya heran, kok tahu ya orang ini.

Selain itu, dia juga menanyakan soal suksesi rektor. Apakah saya akan mencalonkan atau tidak. Banyaklah hal-hal yang ditanyakan, bahkan menjurus ke arah interogasi.  Kemudian dia cerita soal kedekatannya dengan sejumlah pejabat UIN Malang.

Apa respons Anda ketika itu?

Dalam hati, saya berpikir, apa kepentingan dia mengorek itu? Toh dia bukan siapa-siapa. Wartawan juga bukan. Kalau pun wartawan, tentu ia juga paham kode etik wartawan harus bertanya bagaimana. Iya kan? Makanya saya juga tak begitu merespons. Tapi saya catat peristiwa itu. Bahkan saya merekamnya. 

Setelah pertemuan itu apakah Anda juga didatangi lagi?

Datang lagi tidak. Tapi, sehari kemudian ia terus menelpon saya. Berulang kali. Tapi sengaja tidak pernah saya angkat. Kemudian ia kirim SMS. Sampai sekarang SMS itu masih saya simpan. Intinya akan menguji apakah buku karya ilmiah saya benar atau tidak (melakukan plagiasi) lewat jalur hukum. Karena tidak saya respon, akhirnya ada yang menyomasi saya itu. 

Isu dugaan plagiasi ini sudah mencuat, bagaimana perasaan Anda?

Wamakaru wamakarallah, wallahul khairul maakirin. Saya merasa ini sudah ada upaya character assassination pada pribadi saya. Tapi ya itu, semua rekayasa biar Allah yang menyelesaikan, karena Allah-lah Maha Perekayasa.

Jadi biar Allah yang membalas perbuatan mereka yang merasa begitu. Itu di jalur ukhrawi ya. Ikhtiar lahir menepis isu ini juga terus saya lakukan.

Apa dampak langsung yang Anda rasakan sejak awal isu ini mencuat hingga sekarang?

Sebenarnya semua saya pasrahkan pada Allah. Biar Allah yang mencarikan solusi dan menunjukkan hikmahnya. Karena saya yakin tidak melakukan apa yang diisukan itu. Baik secara akademik maupun prosedur karya tulis ilmiah. Untuk dampak langsung jelas ada. Salah satunya sidang para guru besar menunda usulan saya menjadi profesor.

Kalau boleh diceritakan kenapa terjadi penudaan itu?

Panjang sekali ceritanya. Sebenarnya saya malu, tapi ndak apa-apalah, untuk bahan pembelajaran bagi yang lain, bahwa fitnah itu memang lebih kejam daripada pembunuhan. Begini, pada Kamis, 19 Januari 2017, sekitar pukul 13.00 dilaksanakan rapat senat universitas di rektorat. Agendanya masalah akademik dan pengembangan lembaga.

Tetapi agenda rapat yang diputuskan rektor tidak hanya soal akademik dan kelembagaan, namun lebih dari itu adalah persiapan pemilihan rektor dan pemilihan ketua senat, serta ketua panitia dan sekretaris.

Pemilihan ketua senat secara aklamasi terpilih Prof Imam Suprayogo. Sedang ketua dan sekretaris panitia pemilihan rektor adalah Dr Suaeb Muhammad, M.Ag dan Dr Israqunnajah, M.Ag. 

Lantas, setelah itu?

Usai rapat senat pukul 15.30 dilanjutkan dengan break shalat Ashar untuk dilanjutkan rapat senat usulan gelar professor (guru besar) atas nama saya. Rapat itu terdiri dari para guru besar dan pimpinan.

Ada rektor, wakil rektor, dan para dekan. Ternyata, secara terpisah 5 guru besar yang dipimpin Prof Imam Suprayogo mengadakan rapat sendiri di ruang rektor. Rapatnya tertutup, tanpa melibatkan para wakil rektor dan para dekan yang masih berada di luar ruangan. 

Apa hasil dari rapat tertutup tersebut?

Hasilnya itu yang membuat saya kaget. Rapat tertutup itu memutuskan tidak menyetujui usulan saya sebagai guru besar dengan alasan yang menurut saya tidak jelas. Belakangan saya tahu alasannya karena saya didatangi seseorang dari LSM itu.

Sayangnya hasil rapat para guru besar yang tidak melibatkan pimpinan itu keputusannya tidak ditulis dalam berita acara. Setelah dikonfirmasi oleh teman-teman mengapa usulan guru besar saya, teman-teman mendapat penjelasan bahwa saya belum diizinkan dengan alasan dalam masalah dengan LSM. 

Apa respons teman-teman Anda mendengar penjelasan itu?

Ya tentu saja mereka kaget. Seperti halnya saya. Kok tiba-tiba. Para dekan, WR, termasuk tim reviewer yang sudah siap menyampaikan laporan reviewnya, kepala biro AUPK dan staf juga terkejut.

Mereka bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba diputuskan begitu saja dan tidak melibatkan mereka. Ini tentu tidak fair dan bertentangan dengan statuta UIN Maulana Malik Ibrahim pasal 37 poin b. 

Apa Anda tidak langsung klarifikasi ke rektor waktu itu juga?

Iya saya lakukan. Saya masih ingat, pada hari Rabu, 8 Februari 2017 saya menghadap Pak Mudjia (rektor kala itu, Red)  ditemani beberapa teman.

Saya menanyakan usulan guru besar saya yang sudah terhitung sebulan lebih belum ditandatangani dengan alasan ketua sidang guru besar menyampaikan bahwa saya masih bermasalah

Setelah bertemu dengan rektor (Rektor UIN Malang kala itu, Prof Mudjia Rahardjo), apa yang terjadi selanjutnya?

Kami berdiskusi panjang. Berbagai bukti juga sudah saya sampaikan. Setelah kurang lebih 1 jam kami menyampaikan masalah ini, kemudian Pak Mudjia minta waktu 1-2 hari untuk meminta Prof Imam selaku guru besar bersedia menandatangani usulan itu. 

Bukankah tidak ada aturan bahwa usulan guru besar harus disidangkan oleh guru besar?

Memang begitu aturannya. Pengusul guru besar yang benar adalah senat yang terdiri dari profesor, wakil dari dekan bukan profesor dari setiap fakultas, lalu rektor, wakil rektor, para dekan dan direktur sebagai anggota ex-officio.

Dan memang, yang sudah berjalan selama ini di UIN Malang seperti itu. Itu sudah sesuai dengan PMA no. 15/2017 tentang Statuta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pasal 36 poin 2). Ini bisa dicek dicek SK-SK yang diterbitkan oleh rektor pada guru besar sebelumnya.

Baca Juga: Kedai Mie Belakang UIN Malang Ludes Dilalap Si Jago Merah

Apa yang terjadi setelah dua hari usaha rektor saat itu?

Ya harap-harap cemas sih waktu itu. Dua hari benar-benar membuat saya tegang. Tapi lewat dua hari ternyata belum ada kabar apa-apa. Sampai akhirnya ada kabar bahwa Rabu, 22 Februari 2017 sidang guru besar digelar. Ada tiga calon yang diusulkan, salah satunya adalah saya. 

Bagaimana hasil sidang itu?

Lagi-lagi Prof Imam menolak usulan guru besar saya. Alasannya, katanya dianggap ada dugaan plagiasi. Menurut informasi yang saya terima, saya malah disuruh tiarap untuk satu tahun ke depan. 

Baca Juga: Dema Fakultas Humaniora UIN Malang Gelar Festival Budaya 2020, Tetap Berkarya di Masa Pandemi

Apa maksudnya diminta tiarap?

Ya ini, saya pun tidak paham. Sampai sekarang.

Lalu, yang terjadi kemudian?

Memang akhirnya, secara tertulis, usulan guru besar saya itu ditandatangani oleh 5 guru besar kecuali Prof Imam. Beliau masih tidak bersedia. Tetapi kemudian, beliau bersedia tanda tangan dengan catatan ditunda. Untuk penjelasan lebih lanjut saya disuruh menghadap beliau.

Baca Juga: Wakil Rektor UIN Malang : Pembubaran UKM PN Menunggu Psikologis Panita Tenang

Ending dari pengusulan itu bagaimana?

Masih belum. Sampai sekarang. Bahkan beberapa bulan kemudian, tepatnya 5 Januari 2018 saya dilaporkan polisi oleh seorang lawyer. Lalu isu dugaan plagiasi ini pun diberitakan di media online. 

Baca Juga: Pengurus dan Dosen UIN Malang Takziyah ke Rumah Korban Diklat Pagar Nusa di Bandung

Apa harapan Anda setelah ini?

Pertama, sungguh saya merasa didholimi habis-habisan ini. Semoga kita semua kembali ke akal sehat. Tidak menuruti egoisme pribadi. Kedua, saya yakin semua akan mengerti pada akhirnya tentang masalah ini.

Karena sebelum saya, Pak Mudjia dulu juga mengalaminya. Rasanya hampir mirip dengan saya. Kita semua akan tahu jika Allah sudah membukakan mata untuk kita. The big invisible hand is Allah, bukan manusia. (Lionita Nidia Anavi)

AnyFlip LightBox Embed Demo

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

The Legion Nutrition dan Amarta Hills Berkolaborasi Gelar Body Competition

NUSADAILY.COM - KOTA BATU - Produsen suplemen olahraga, The Legion Nutrition tak berhenti memberikan dukungannya di bidang olahraga. Kali ini mereka ambil bagian sebagai...