Miris! 3 Pasuskan PBB Tewas Ketika Mobil yang Ditumpangi Tabrak Bom di Mali Tengah

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan dalam sebuah laporan bahwa 165 penjaga perdamaian telah tewas dan 687 terluka dalam aksi permusuhan sejak Juli 2013

Miris! 3 Pasuskan PBB Tewas Ketika Mobil yang Ditumpangi Tabrak Bom di Mali Tengah
Ilustrasi Bom Meledak

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Tiga pasukan penjaga perdamaian PBB dari Senegal tewas ketika mobil konvoi mereka menabrak bom di pinggir jalan di Mali tengah. Bom ini diduga miliki pada jihadis di wilayah tersebut.

"Konvoi Pasukan MINUSMA menabrak alat peledak rakitan #IED hari ini," kata MINUSMA dalam sebuah tweet yang memberikan jumlah awal tiga orang tewas dan lima luka parah.

Mali, sebuah negara miskin yang terletak di jantung Sahel, Afrika Barat, sedang berjuang melawan pemberontakan jihadis selama 11 tahun yang telah merenggut ribuan nyawa. Pemberontakan ini memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka.

MINUSMA adalah Misi Stabilisasi Terintegrasi Multidimensi PBB di Mali yang dibentuk pada 2013.

BACA JUGA : 17 Orang Tewas Akibat Ledakan Bom di Masjid Pakistan!

Seorang pejabat PBB yang berbicara tanpa menyebut nama membenarkan bahwa penjaga perdamaian itu berasal dari kontingen misi Senegal.

Misi ini berjumlah lebih dari 13.500 personel militer dan polisi. Ini adalah salah satu misi penjaga perdamaian PBB yang terbesar tetapi juga berbahaya, menderita banyak korban terutama akibat ledakan IED.

Pada bulan Januari, Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan dalam sebuah laporan bahwa 165 penjaga perdamaian telah tewas dan 687 terluka dalam aksi permusuhan sejak Juli 2013.

Pasukan mencatat 548 serangan IED merenggut 103 nyawa dan 638 luka-luka di antara personel MINUSMA.

"MINUSMA adalah operasi pemeliharaan perdamaian di mana tidak ada perdamaian yang harus dijaga," kata Guterres dalam laporan 16 Januari

Dia menyebutkan hambatan termasuk ukuran negara, keadaan jalan dan kurangnya mandat tempur dan sumber daya untuk pasukan.

Dia juga mencatat penarikan tentara Prancis dan sekutu Eropa serta pembatasan yang diberlakukan pada pergerakan misi PBB oleh junta militer juga menjadi hambatan.

"Situasi saat ini tidak berkelanjutan," katanya dalam laporan tersebut. (ros)