Pemerhati: Guru Harus Miliki Kompetensi Pembelajaran Campuran pada PTM

  • Whatsapp
di
Pemerhati pendidikan Indra Charismiadji di Jakarta, Kamis (8/4). (ANTARA/Indriani)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Pemerhati pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji mengatakan guru harus memiliki kompetensi pembelajaran campuran pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

“PTM terbatas tidak akan berjalan seperti PTM pada 2019 lalu. Mengapa? karena hanya terbatas. Guru dituntut mengajar melalui dua model pembelajaran atau pembelajaran campuran yakni tatap muka dan daring,” ujar Indra dalam peluncuran Gerakan Guru Cerdas yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Baca Juga

BACA JUGA: Gus Jazil: Perguruan Tinggi Harus Jadi Garda Terdepan Tangkal Radikalisme – Nusadaily.com

Sejumlah daerah telah melakukan uji coba PTM terbatas. Termasuk di DKI Jakarta yang melakukan uji coba pada 85 sekolah. Indra menjelaskan persoalannya adalah kompetensi guru. Pada saat pelaksanaan pembelajaran daring secara penuh pun masih ada kendala, karena guru tidak dibekali dengan kompetensi yang memadai.

“Apalagi ini dilakukan dengan dua model pembelajaran sekaligus. Saya sudah memberikan masukan pada pemerintah bagaimana seharusnya tetapi belum ada langkah nyata,” kata dia.

BACA JUGA: Pengurus dan Anggota MUI Pusat Disuntik Vaksin AstraZeneca – Noktahmerah.com

Oleh karena itu, pihaknya meluncurkan Gerakan Guru Cerdas yang membekali guru dengan kompetensi pembelajaran campuran. Pelatihan tersebut diberikan selama tiga bulan lamanya dan diperuntukkan bagi seluruh guru di DKI Jakarta.

“Untuk tahap awal akan dilakukan di DKI Jakarta terlebih dahulu, jika sukses maka akan berlanjut ke daerah-daerah lain,” jelas dia.

BACA JUGA: Guru dan Pelajar Diajak BNN Sulut Perangi Narkoba – Imperiumdaily.com

Indra menambahkan selama pendidikan jarak jauh (PJJ) berlangsung, pihaknya berhasil mentransformasi banyak sekolah untuk mengimplementasikan pembelajaran dengan paradigma baru. Sehingga ancaman hilangnya kesempatan belajar diubah menjadi keuntungan pembelajaran.

“Sudah banyak buktinya, sekarang tinggal bagaimana diduplikasi secara terstruktur, masif, dan sistematis di satu provinsi yang kebetulan tidak ada kendala dengan jaringan. Semoga semua dapat berjalan dengan lancar dan mohon dukungan semua pihak. Semua ini demi generasi penerus bangsa. Pandemi tidak pandemi mereka tetap harus dididik dengan baik dan sesuai dengan zamannya. Kalau Kemendikbud tidak bergerak, kami harus proaktif melakukan perubahan. Jika di DKI sukses, maka akan diimplementasikan di daerah-daerah lain,” terang Indra.(eky)