Pandemi COVID-19, Prof Wimpie Pangkahila Ingatkan Keselamatkan Bangsa

  • Whatsapp
Prof Wimpie Pangkahila. (Foto: Istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Ancaman Virus Corona bukan lagi sebuah masalah kecil bagi kita. Kalau pada awalnya kita merasa gagah, bahkan kebal, padahal negara lain sudah heboh, kini jauh berbeda. Hingga kini, terhitung 22 Maret 2020, jumlah kasus positif Corona sudah mencapai 514. Sejumlah dokter telah meninggal dunia dalam melaksanakan tugasnya, dan yang lain sedang dirawat.

“Besok, lusa, minggu depan dan seterusnya, jumlah itu pasti meningkat. Pasti? Ya pasti, kalau kita tidak mengikuti anjuran pemerintah yang berdasarkan petunjuk WHO dengan para ahlinya,” tutur Prof dokter Wimpie Pangkahila, dalam catatan ringannya, Senin 23 Maret 2020.

Baca Juga

Bantuan dari luar negeri telah datang atau didatangkan, termasuk obat dan alat kesehatan dari Cina yang tiba hari ini. Tetapi apalah arti bantuan itu kalau kita sendiri tidak melakukan upaya seperti yang disarankan pemerintah dan para ahli?

“Jaga jarak dengan orang lain dalam kerumunan, sudahkah diterapkan? Jangan lakukan kegiatan massal, sudahkah dilakukan? Jaga kebersihan diri sendiri sudahkah dilaksanakan? Penggunaan masker, masihkah tidak perlu bagi orang sehat padahal virus hidup di udara?,” kata Wimpie Pangkahila.

Prof. Dr. Wimpie Pangkahila adalah dokter spesialis andrologi dan seksologi. Memprakarsai pembentukkan Program Pascasarjana Kekhususan Anti-aging Medicine yang pertama di dunia. Untuk mendukung program itu, Prof. Wimpie telah menerbitkan tiga buku terkait anti-aging medicine.

Buku pertama dan kedua diterbitkan Penerbit Buku Kompas, berjudul “Anti-Aging Medicine: Memperlambat Penuaan, Meningkatkan Kualitas Hidup” terbit tahun 2007. Kemudian tahun 2011 bukunya berjudul “Anti-Aging Tetap Muda dan Sehat”. Buku ketiga diterbitkan dalam bahasa Inggris tahun 2015 dengan judul “Evidence-based Anti-Aging Medicine Hormone Replacement Therapy” ( Penerbit TLC).

Prof. Wimpie Pangkahila, mengingatkan, masyarakat juga jangan sok pintar menyebarkan informasi yang belum tentu benar, termasuk jamu yang tidak jelas khasiatnya, padahal WHO sedang melakukan uji klinis obat di 10 negara.

“Ada pula yang menggunakan kesempatan ini untuk mencari keuntungan dengan mengiklankan produknya di TV. Di mana rasa kemanusiannya ya? Kita tidak tahu kapan tragedi ini akan berakhir, apalagi kalau tidak kita dukung bersama.

“Belum lagi dampak ekonomi yang pasti dirasakan, bukan hanya oleh kalangan masyarakat dengan ekonomi rendah, tetapi juga kalangan ekonomi atas, walaupun masalahnya berbeda. Ayo bersama kita hadapi ancaman ini dengan menerapkan anjuran pemerintah dengan para ahlinya. Atau kita bersama semakin menderita kalau tidak mengacuhkan saran dan anjuran pemerintah kita,” tuturnya.
“Bersama kita selamatkan bangsa, Jangan maunya sendiri,” kata Prof Wimpie Pangkahila. (red)