Momen Santri, Kompolnas RI Minta Cuitan Akun FB Denny Siregar Perjelas “Santri Teroris”

  • Whatsapp
Perjelas “Santri Teroris”
Anggota Komisi Kepolisian Nasional Repulik Indonesia (KOMPOLNAS RI), H. Mohammad Dawam
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Anggota Komisi Kepolisian Nasional Repulik Indonesia (Kompolnas RI), H. Mohammad Dawam mengatakan, bahwa sebuah kasus perkara harus dilihat dan dibaca dari dua aspek yaitu pertama, prosedur dan kontensnya.

BACA JUGA: Peringati Hari Santri, Wapres Dorong Pesantren Dirikan Bank Wakaf Mikro

Baca Juga

Prosedur yang dimaksud adalah bahwa Informasi terkait proses penegakan hukum adalah bagian dari informasi yang dirahasiakan sebagaimana diatur dalam UU Nomer 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik di Pasal 17. Di pasal itu memuat banyak kriteria.

“Saya berpendapat bahwa informasi apapun terkait substansi penyidikan termasuk pemeriksaan saksi, dan tersangka adalah Informasi publik yang dikecualikan,” ujarnya kepada Nusadaily.com di Jakarta, Kamis 22 Oktober 2020.

Hal itu menanggapi tulisan dari Denny Siregar yang mengunggah foto Dua santri di akun Facebooknya. Denny dilaporkan atas posting-an di akun Facebook-nya pada 27 Juni 2020 berupa tulisan panjang berjudul “adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang”.

Menurut Dawam, Informasi publik yang dikecualikan. “Oleh karena itu, termasuk upload isi dan foto-foto siapapun yang dalam kapasitas diperiksa oleh penyidik ke publik, maka dengan bersasar hukum tidak dibenarkan,” ungkap mantan komisioner KIP DKI Jakarta ini

Kedua, lanjut Dawam, dari aspek pesan dan kontens sekaligus konteks sebuah foto tersebut dengan narasi yang dibangun adalah santri dan teroris. Menurut Dawam, perlu diperjelas ini maksudnya pesen yang ingin disampaikan penulis ke Publik, santrinya apa terorisnya?.

“Jika yang diharapkan terekspos ke publik adalah santrinya yang identik dengan teroris, maka pendevinisiannya yang harus ditata ulang,” ujarnya

Sedangkan paradigma berfikirnya harus clear disini. Sebab apa? devinisi teroris adalah devinisi yang sangat berbeda dengan devinisi santri.

Santri adalah identik orang yang dengan sengaja menuntut ilmu agama yang dengan ilmu agama itu memperbaiki diri dalam konteks perbaikan perilaku pribadi dan agamanya.

Sedangkan teroris adalah orang yang berperilaku merusak pada tatanan sosial kemasyarakatan yang ada. “Jadi, semua bentuk perusakan,” tegasnya

BACA JUGA: Hari Santri, Ketua DPR Minta Pemerintah Terbitkan Aturan Turunan UU Pesantren

Terkait Penanganan Polisi dalam Menangani Sebuah Kasus Hukum

Adapun terkait penanganan Polisi dalam menangani sebuah kasus hukum. “Ya memang harus berprisip pada dua hal, yang pertama adalah keadilan dan yang kedua dengan cara-cara serta prosedur yang benar menurut hukum. Dengan SOP yang sesuai dengan melakukan diskresi yang tepat juga dengan cara-cara penanganan berkesesuaian dan tata kelola pemerintahan yang baik.

“Saya tidak ada masalah juga Kepolisian memeriksa siapapun termasuk santri dengan landasan dan prinsip. Siapapun yang diperiksa dihadapan hukum harus diproses dengan prosedur yang benar, berkeadilan. Namun, disisi lain harus juga dilihat. Jika memang tidak terbukti bersalah dalam pandangan hukum, jangan juga dipaksakan menjadi persoalan hokum,” ujar Dwam

Hal ini tak terkecuali dalam pemeriksaan terhadap santri. “Saya berharap, suatu waktu bisa bareng bersama Bung Denny Siregar, nyantri ke sebuah Pesantren dengan pengertian Pesantren sebenarnya yang cenderung mengajarkan pengetahuan dan etika dasar (adab) dalam bentuk konkrit,” pungkasnya. (hud/Ian)

Post Terkait

banner 468x60