Milenial: Demo Ini Pengabdian Kami buat Rakyat, Balik Tanyakan Sumbangsih Megawati untuk Bangsa

  • Whatsapp
Mahasiswa UI, Fajar Adi, mengkritik pernyataan Megawati Soekarnoputri. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
banner 468x60

JAKARTA – Megawati mengkritik gelombang aksi demonstrasi yang dimotori kalangan muda. Ia mempertanyakan sumbangsih para pemuda untuk bangsa selain berdemo. Para demonstran muda yang masuk kategori milenial, justru mempertanyakan balik sumbangsih Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang mengkritik unjuk rasa tolak Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja.

Baca Juga

Presiden RI ke 5 itu juga meminta Presiden Joko Widodo tak memanjakan para millenial. Milenial harus menunjukkan dulu sumbangsihnya kepada bangsa dan negara

Di sela-sela aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2020, Fajar Adi Nugroho (22), misalnya. Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) itu menyayangkan sikap para elite partai dan pemerintahan yang sering kali meremehkan gerakan anak muda.

BACA JUGA: Dari Desa Gane Dalam, Armada Laut RI Rebut Irian Jaya dari Tangan Belanda

Padahal menurutnya, aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang mereka lakukan justru sumbangsih yang nyata. Mereka turun ke jalan demi memperjuangkan hak rakyat.

Tri Dharma Perguruan Tinggi

“Hari ini mahasiswa bergabung dengan rakyat menjadi bukti dari amalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, amalan pendidikan dan pengabdian kami pada rakyat,” kata Fajar, dikutip Nusadaily.com dari CNNIndonesia.com.

Fajar menilai sudah sepantasnya para anak muda yang telah mengenyam pendidikan di kampus untuk turun ke jalan. Ia justru mempertanyakan generasi senior yang hanya diam melihat rakyat sengsara.

“Para elite yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, di luar negeri, justru diam saja melihat kebijakan yang melemahkan rakyat. Di mana gelar-gelar akademik mereka selama ini?” ucapnya.

Abia Indou (29), mahasiswa Universitas Nasional, juga menyayangkan pernyataan Megawati. Dia mengatakan aksi unjuk rasa inilah sumbangsih kalangan muda untuk Indonesia.

Bersama dengan masyarakat

Mahasiswa turun ke jalan berbaur dengan elemen buruh, petani, nelayan, rakyat miskin kota, dan lainnya. Abia sebut upaya deligitimasi terhadap gerakan mahasiswa tak akan berpengaruh.

“Jika menyebut gerakan kami gerakan yang tidak berasal dari hari nurani, itu bullshit [omong kosong] karena ini perjuangan murni untuk bangsa Indonesia,” ucap Abia.

Ia juga mengingatkan bangsa ini didirikan berkat peran para pemuda. Dimulai dari Boedi Oetomo pada 1908 dan dilanjutkan Sumpah Pemuda pada 1928.

Abia menilai elite kekuasaan saat ini ingin memutarbalikkan sejarah. Dia menduga ada upaya menghilangkan peran pemuda dalam membangun bangsa.

“Pemerintah mencoba mengubah fakta sejarah peran pemuda jaman sekarang,” tuturnya dikutip induk Imperiumdaily.com.

Demonstrasi bentuk sumbangsih

Selain itu, ada pula suara dari kalangan buruh. Dian Septi Trianti (37) menilai para elite lupa bahwa demonstrasi juga bentuk sumbangsih kaum muda dari masa ke masa.

Ia mengingatkan beberapa momentum pendirian bangsa yang diwarnai demonstrasi oleh pemuda. Misalnya Reformasi pada 1998 yang digerakkan mahasiswa.

“Ketika teman-teman kritis dan ikut turun ke jalan, itu adalah sumbangsih. Jangan dianggap demonstrasi bukan sumbangsih. Negara ini dibangun dari rentetan demonstrasi,” kata Dian.

Dia berharap elite kekuasan tak lagi meremehkan perjuangan kaum muda. Sebab intelektual kelas dunia pun berjuang lewat tulisan dan turun ke jalan.

“Setop merepresi kaum muda yang turun ke jalan, setop. Kemudian jangan represi dengan ancaman dropout, pelarangan demo, membatasi hanya buat karya ilmiah saja,” ucap Dian.

Nining Elitos (42) dari elemen buruh juga tak sepakat jika gerakan para millenial direndahkan. Dia berpendapat gelombang massa saat ini selain dimotori buruh, juga diisi oleh para kaum millenial.

“Itu hal yang keliru. Justru kita harus mengajarkan pemuda harus memiliki kecerdasan, keberanian, dan pengetahuan bagaimana mempertahankan agar bangsa kita tidak dijajah, agar rakyat Indonesia tidak dijajah,” kata Nining.

Ia mengapresiasi kemauan pada pemuda menjadi tulang punggu aksi unjuk rasa di berbagai daerah. Nining berharap para millenial tak kendor, meski diremehkan para elite.

Nining berpendapat sudah bukan saatnya untuk membeda-bedakan elemen pergerakan. Menurutnya, ketidakadilan di negeri ini harus dilawan bersama-sama.

“Tidak lagi kita bisa percaya terhadap kekuasaan saat ini. Maka penting penyatuan dari seluruh gerakan rakyat dan berbagai macam aliansi di daerah-daerah untuk melakukan perjuangan sekuat-kuatnya,” tutur Nining.(han)

Post Terkait

banner 468x60