Inilah Referensi Boleh dan Tidaknya Salat Jumat karena Covid-19

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Pasca terbitnya fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam situasi terjadi Covid-19 masih menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Diantaranya, apakah harus salat Jumat di Masjid atau salat Jumat di rumah?

Ketua MUI bidang dakwah KH Cholil Nafis mengatakan, dalam fatwa tersebut menegaskan tentang dua hal: pertama, orang yang terpapar Covid-19 harus mengisolasi diri dan haram untuk melaksanakan salat Jumat karena dapat menularkan dan membahayakan orang lain. “Tentu prinsipnya, memelihara kemaslahatan umum didahulukan daripada kemaslahatan individu dan juga prinsip menolak keburukan didahulukan daripada memperoleh kebaikan” ujarnya kepada pers di Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020.

Baca Juga

Kedua, lanjutnya, orang yang sehat dan belum diketahui terkena Covid-19 maka ada dua hal dan kondisi. Jika ia berada di daerah yang rawan tinggi dan menurut otoritas medis dan pemerintah yang dipercaya rawan dan bahaya dengan penularan penyakit maka ia boleh tidak melaksanakan salat Jumat. “Kata boleh itu artinya juga boleh melaksanakan jumatan. Meskipun itu juga bisa jadi udzur untuk tidak melaksanakan salat jumat,” jelasnya secara pribadi

Jika dalam kondisi sehat di tempat yang rendah bahkan tak ada tanda-tanda penularan Covid-19 maka tetap wajib salat Jumat dengan penuh kehati-hatian dan ikhtiyar denga sebaik-baiknya, seperti jaga kebersihan dan selalu memelihara wudhu’.

Dijelaskannya, bahwa kata Tidak melaksanakan ibadah Jumat itu berbeda dengan meniadakan jumatan. Tidak melaksanakan salat Jumat berarti bisa saja hanya dia sendiri yang tak melaksanakan salat jumat. Namun meniadakan salat jumat berarti melarang semuanya untuk menyelenggarakan ibadah salat Jumat. “Tentu meniadakan salat jumat pasti bertentangan dengan semangan beragama dan melanggar kewajiban agama,” tegas kiai Cholil.

Padahal salat Jumat itu selalu dilakukan dengan ramai hingga melibatkan puluhan kadangkala ratusan orang sehingga dikhawatirkan wabahnya cepat menular kepada orang banyak. Dalam kondisi mewabahnya Covid-19 ini kita dapat memilih pendapat imam mzhab yang lebih memungkin tentang syarat sahnya salat jumat harus berjemaah.
“Mari kita simak pendapat ulama tentang jumlah jemaah salat Jumat,” ujarnya

Madzhab Hanafi: Syarat sahnya salat jumat harus berjemaah yg sedikitnya berjumlah tiga orang selain Imamnya (4 orang). Dan ketiganya tidak harus hadir saat khutbah, yang penting diantara jemaah meskipun hanya seseorang ada yang mendengarkan khutbah. halat jumatnya pun tak harus di Masjid.

Madzhab Maliki: Salat Jumat harus dilaksanakan secara berjemaah yang sedikitnya dua belas orang selain imam (13 orang) dengan syarat semua jemaahnya adalah orang yang wajib salat jumat, penduduk setempat dan semuanya hadir dari awal khutbah sampai selesai pelaksanaan salat jumat.

Madzhab Syafi’i: Salat Jumat dilaksanakan oleh jemaah yang sedikitnya empat puluh orang meskipun sekalian dengan imamnya. Semua harus penduduk setempat, orang-orang yang wajib salat jumat yang hadir dari awal khutbah sampai selesai pelaksanaan salat. “Demikian madzhab Hambali hampir sama dalam hal ini dengan madzhab Syafi’i,” ungkap Kiai Cholil

Menurutnya, semua pendapat imam mazhab ini memungkinkan untuk diikuti asalkan tidak karena talfiq (memcampur pendapat ulama mazhab dengan tujuan cari kemudahan menggampangkan hukum Islam/tatabbu’urukhash).

Diantara sebab perbefaan pendapat ulama ini adalah interpretasi surat al-Jum’ah ayat 9 itu hingga dapat ditafsirkan jumlah yg diseru utk salat Jumat tiga orang lebih. Maka lebih dari 3 orang dalam satu darrah hukumnya wajib melaksanakan inadah salat Jumat. Tapi karena kehati2-an Imam Syafi’i menyaratkan minimal salat jumat dilakukan oleh 40 orang.

“Nah, kondisi sekarang ini seperti di Jakarta dapat memilah tempat mana yang rawan covid-19 sehingga boleh meninggalkan salat Jumat demi keselamatan diri dan masyarakat. Lalu seperti daerah lain yang masih steril dari Covid-19 maka wajib melaksanakan Salat Jumat seraya ikhtiyar dan berhati-hati,” pungkasnya. (hud)