Ajak Ulama Jaga Agama dan Negara, Gus Jazil: Jangan Takut Terjun ke Politik

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengajak seluruh ulama, kiai dan lembaga dakwah Islam untuk mengantisipasi kendornya semangat keagamaan di kalangan umat Islam. Menurutnya, ulama tidak hanya bertugas melindungi agama, tapi juga menjaga bangsa. 

Dikatakan Gus Jazil, di tengah kondisi pandemi Covid-19, ruang gerak dakwah dan silaturahmi, menjadi terbatas.

Bacaan Lainnya

”Di tengah pandemi Covid-19, kita menghadapi dua masalah besar yakni kesehatan dan ekonomi. Makanya, kita ingin ada support dan doa ulama,” kata Gus Jazil pada acara Temu Tokoh Ulama dan Kiai se-Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Minggu (28/3/2021) dilansir Nusadaily.com.


 Menurut Gus Jazil, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ketika Muktamar NU ke-17 di Madiun 1947 pada pidato pembukaan menyebutkan tentang ‘menghidupkan kembali perilaku orang-orang mulia’. Dalam pidato tersebut, Kiai Hasyim mengingatkan semangat keagamaan yang mulai kendor, dimana dakwah Islam bersaing dengan anjuran yang bertentangan dengan Islam, termasuk paham komunisme (PKI). 


 Hari ini, katanya, masalah yang pernah terjadi itu kembali dihadapi dimana dakwah sudah kalah dengan kontes dangdut di televisi. ”Jangan sampai ulama dan lembaga dakwah Islam tersingkir dengan ajaran yang keluar dari akidah dan merusak akidah Islam. Maksiat sekarang ini sudah dipertontonkan bahkan dengan iklan. Makanya, kita kemarin sangat menentang keras Perpres Minuman Keras karena bangsa kita bukan bangsa pemabuk,” ujarnya.


 Selain menjaga agama, kata Gus Jazil, tugas ulama adalah menjaga negara. Begitu juga dengan politik demokrasi yang dianut selama ini. ”Ulama sangat berperan dalam mendirikan bangsa, dan tugas ulama juga untuk menjaganya,” imbuhnya.


 Lebih jauh Gus Jazil mengungkapkan, saat ini hampir semua partai berbasis Islam belum bisa berbuat banyak karena posisinya belum menjadi penguasa. Untuk itu, katanya, Gus Jazil mengingatkan para ulama dan kiai untuk tidak antipati dengan politik. Karena jika demikian maka politik akan diisi oleh orang-orang yang bakal menyingkirkan ulama.


 ”Ulama hanya boleh di pesantren, suruh ngurusin ngaji. Itu keinginan mereka. Kenapa? Supaya ulama dan kiai tidak masuk ke politik. Dengan demikian maka dengan mudah mereka akan memasukkan hal-hal yang anti terhadap Islam,” paparnya.


 Gus Jazil juga mengucapkan syukur karena Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan simpatisannya masih didominasi para santri, ustadz, kiai dan warga Nahdlatul Ulama (NU). ”Alhamdulllah kehadiran PKB mendapat dukungan menyelamatkan umat melalui politik. Dan, saya mengajak anak-anak muda Islam, khususnya anak-anak muda NU agar jangan takut berpolitik. Mari sama-sama kita jaga negara bangsa dan agama kita,” katanya. (sir/wan)