Airlangga Hartarto Serahkan Draf dan Surpres RUU Omnibus Law Cipta Kerja

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto didampingi sejumlah menteri, dan Ketua DPR Puan Maharani resmi menyerahkan Surat Presiden (Surpres), naskah akademik, dan draf omnibus law Cipta Kerja ke Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu, 12 Februari 2020.

Selanjutnya, pemerintah telah mengubah penyebutan Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja menjadi Cipta Kerja atau disingkat RUU Ciptaker. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pengubahan judul draf itu sesuai dengan arahan Ketua DPR Puan Maharani.

Baca Juga

“Judulnya Cipta Kerja atau disingkat Ciptaker. Jangan dipelesetkan seperti arahan Bu Ketua DPR,” kata Airlangga di kompleks Parlemen DPR, Senayan, Jakarta, Rabu, 12 Februari 2020.

Draf RUU Omnibus Law Cipta Kerja telah disorongkan Airlangga bersama enam menteri lainnya hari ini kepada pimpinan lembaga legislatif. RUU itu berisikan 15 bab dan 174 pasal yang menyasar 11 klaster.

“Harapannya pemerintah menyerahkan kepada DPR untuk diproses sesuai dengan mekanisme yang ada di DPR,” ujarnya.

Menteri kelahiran Surabaya, Jawa Timur ini menjelaskan, draf ini berisi aturan-aturan yang mendukung terbukanya lapangan kerja. Draf, kata dia, juga mendukung terciptanya kebijakan-kebijakan strategis dalam menghadapi situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Bersamaan dengan draf ini, Airlangga menyerahkan surat presiden atau surpres terkait pembahasan RUU Cipta Kerja. Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam surat itu menunjuk menteri-menteri dan lembaga negara yang terlibat dalam pembahasan RUU.

Kendati demikian, pemerintah berarti telah menyerahkan kewenangan pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Kerja kepada legislator. Di tempat yang sama.

Puan menjelaskan, legislator akan segera menggelar rapat paripurna untuk memproses draf tersebut.

“Nantinya pembahasan ini kan melibatkan tujuh komisi dan akan dijalankan melalui proses di DPR, apakah akan dibahas di baleg atau pansus (panitia khusus),” ujarnya.

Puan memastikan, draf itu akan segera tersosialisasi kepada masyarakat, khususnya buruh.

Di saat bersamaan dengan disorongkannya draf RUU Omnibus Law Cipta Kerja ke lembaga legislatif, sejumlah buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menggelar demonstrasi di depan gedung Parlemen. Mereka menuntut pemerintah tidak mengurangi hak-hak buruh dalam RUU tersebut.

“Kalau omnibus law mereduksi atau mengurangi kesejahteraan buruh, kami akan tolak habis-habisan,” kata Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea.

Dia mengatakan, sejak awal, buruh tidak dilibatkan dalam pembahasan rancangan beleid (langkah) tersebut. (via)

Post Terkait

banner 468x60