52 Paus Pilot Terdampar di Pantai Modung, Ini Penjelasan KKP

  • Whatsapp
paus pilot terdampar
Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, TB. Haeru Rahayu saat menerima hasil investigasi Tim Histopatologi FKH Universitas Airlangga. (Sirhan Sahri/nusadaily.com)

NUSADAILY.COM -JAKARTA – Terungkap sudah penyebab 52 Paus Pilot Sirip Pendek (Globicephala macrorhynchus) terdampar di Pantai Modung, Kabupaten Bangkalan Madura di bulan Februari lalu yang sempat menjadi perhatian publik.

Bersama dengan Tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Ailangga (FKH Unair) Surabaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Dirjen Pengelolaan ruang laut Senin 12 April 2021, memberikan keterangan hasil investigasi kepada awak media di media center KKP di Jakarta melalui ruling dan daring.

Bacaan Lainnya

Salah satu anggota Tim Histopatologi FKH Universitas Airlangga drh. Bilqisthi Ari Putra menjelaskannya bahwa, penyebab 52 paus pilot sirip pendek terdampar di pantai Modung. Karena mereka sedang melakukan migrasi dan berburu makanan.

Baca Juga: KKP Tangani Kejadian Paus Orca Terdampar di Banyuwangi Jatim

Selain itu, kata drh. Bilqisthi Ari dalam migrasinya koloni paus tersebut dipimpin oleh paus betina produktif. Pada saat itu dalam kondisi lapar, lemah dan mengalami gangguan pernafasan (emfisema).

Sehingga paus betina tersebut mengalami disorientasi akibat kelainan otot reflektor melon yang tidak dapat menentukan arah.

“Terlebih sang pejantan juga dalam kondisi kelaparan dan mengalami gangguan pernafasan (pneumonia granulomatosa) dan gangguan jantung (infark miokardiark),” terang Bilqisthi.

Baca Juga: Paus Orca Sang Pembunuh Terdampar di Pantai Bangsring Banyuwangi

Masih kata Bilqisthi, hal tersebut juga diperburuk dengan kondisi kelaparan. Serta gangguan pernafasan dan pencernaan yang kurang baik. Sedangkan Disorientasi timbul ketika terjadi dinamika oseanografi seperti MJO (Madden-Julian Oscillation).

“Penyebab kematian pada betina utama maupun pejantan adalah terjadinya gagal nafas sedangkan pada anggota koloni yang lain. Kematian disebabkan karena dehidrasi dan kelemahan,” papar Bilqisthi.

Sementara itu Wakil Dekan FKH Unair Prof. Mustofa Helmi Effendi mengatakan jika penjelasan tersebut merupakan hasil investigasi Tim FKH Unair dengan berdasarkan bukti bukti ilmiah scientific) melalui forensik patologi untuk bisa menjawab apa yang terjadi pada kejadian mamalia terdampar ini.

Untuk itu, lanjut Helmi hasil investigasi tersebut akan diserahlkan kepada kementerian kelauatan dan perikanan yang dapat di pergunakan sebagai masukan dalam menentukan arah kebijakan pengelolaan mamalia laut.

Baca Juga: Ini Penyebab Puluhan Paus Terdampar di Bangkalan Madura

“Melalui pendekatan keilmuan, ini nantinya tidak akan menjadi bahan hoaks, karena dilakukan atas dasar fakta dan data-data sesuai hasil kajian,” sambung Helmi.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, TB. Haeru Rahayu mengatakan bahwa terdamparnya 52 ekor paus pilot sirip pendek beberapa waktu yang lalu merupakan kejadian yang jarang terjadi.

Baca Juga: Puluhan Ikan Paus Terdampar di Bibir Pantai Desa Patereman Modung Bangkalan

Oleh sebab itu, menurutnya masyarakat perlu mengetahui penyebab mamalia tersebut bisa terdampar di pesisir pantai, agar pengetahuan ini dapat mengantisipasi kejadian serupa dan mencegah kematian mamalia laut ketika terdampar.

“Setelah menerima informasi tentang peristiwa tersebut, kami bersama Tim Respon Cepat BPSPL Denpasar segera merespon dengan langsung terjun ke lokasi guna melakukan penanganan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, PSDKP Surabaya, BKSDA Jatim, FKH Unair, Jakarta Animal Aid Network, Dinas PU dan SDA Jawa Timur, DKP Provinsi Jawa Timur, DKP Kab. Bangkalan, TNI, Polair Polres Bangkalan dan Camat Modung,” ujar pria yang akrab disapa Tebe itu.

Lebih lanjut Tebe menambahkan dari hasil identifikasi, dari 52 paus pilot yang terdampar, 51 ekor mati dan satu ekor berhasil dilepasliarkan kembali di tengah laut pada 19 Februari 2021.

Paus pilot yang terdampar memiliki panjang 2 hingga 3,5 meter dan yang terbesar memiliki panjang 5 meter, dengan berat rata-rata 300 kg sampai 3 ton.

“Bangkai paus dikubur di enam lokasi area pantai di Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan dengan menggunakan 2 ekskavator. Tim FKH Universitas Airlangga melakukan tindakan nekropsi dengan mengukur ketebalan lemak dan mengambil tiga sampel untuk proses histopatologi dan pemeriksaan mikrobiologi dengan rincian dua sampel dari paus jantan dan satu sampel dari paus betina,” pungkas Tebe.

Sebagai informasi, Paus merupakan biota laut yang dilindungi oleh negara melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Guna penanganan lebih lanjut untuk kejadian lain yang sejenis, KKP sudah memiliki rujukan pengelolaan mamalia laut dengan menetapkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Mamalia Laut Periode 2018-2022 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) Nomor 79 Tahun 2018.

Di dalamnya terdapat standar operasional prosedur mengenai edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang penanganan terhadap kejadian mamalia laut terdampar.(sir/ark)