Mendudukkan Arti Filsafat, Mengapa Penting?

Filsafat itu adalah ilmu yang ada di atas langit dan itu berarti tidak relevan apalagi bermanfaat bagi manusia yang ada di bumi. Jika ingin menjadi orang yang kaya, filsafat bukanlah ilmu yang perlu engkau pelajari. Filsafat itu haram untuk dipelajari karena engkau akan menjadi ateis.

Jul 10, 2024 - 07:56
Mendudukkan Arti Filsafat, Mengapa Penting?

Oleh: Antono Wahyudi, S.S., M.Fil.

 

Filsafat itu adalah ilmu yang ada di atas langit dan itu berarti tidak relevan apalagi bermanfaat bagi manusia yang ada di bumi. Jika ingin menjadi orang yang kaya, filsafat bukanlah ilmu yang perlu engkau pelajari. Filsafat itu haram untuk dipelajari karena engkau akan menjadi ateis. Agama atau adab memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan filsafat.

Demikian pandangan-pandangan tentang filsafat yang kerap muncul di tengah masyarakat. Masih banyak lagi asumsi atau pandangan tentang filsafat yang pada intinya hendak mengatakan bahwa filsafat itu tidak penting atau bahkan sebaiknya tidak dipelajari. Bahkan, sampai detik ini pun pemerintah belum (dengan berani) mengeluarkan kebijakan bahwa filsafat merupakan ilmu yang wajib untuk dipelajari oleh masyarakat. Lantas, apakah pandangan-pandangan tersebut keliru?

Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, kita perlu bertolak dari pemahaman dasar tentang filsafat itu sendiri. Apa sih sebenarnya filsafat itu? Jangan-jangan masyarakat (dan bahkan pemerintah?) kerap memiliki pemahaman yang keliru tentang filsafat. Memahami filsafat setidaknya dapat dibagi menjadi dua sudut pandang, secara etimologis dan deskriptif. Kedua cara pandang ini saling berkesinambungan dan penting untuk dipahami.

Secara etimologis “filsafat” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “philo” yang berarti mencintai dan “sophia” yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat secara sederhana dapat dimengerti sebagai mencintai kebijaksanaan. Terminologi “philosophia” atau mencintai kebijaksanaan tentu dipilih oleh para filsuf dengan suatu maksud filosofis. Terminologi “filsafat” tidak berpretensi untuk dimengerti sebagai “orang bijaksana” sebagaimana lazimnya orang memandang seorang filsuf adalah orang yang bijaksana. Sebab, sejak era Yunani klasik, para filsuf menganggap bahwa tidak ada yang layak dan pantas memanggul gelar “bijaksana” selain dari Sang Pencipta kebijaksanaan itu sendiri.

Istilah “mencintai” sangat tepat untuk digunakan di sini. Sebab, seseorang yang mencintai tentu akan terus mengejar, terus meraih, dan terus menggapai apa yang dicintainya tiada henti. Sebaliknya, seseorang yang tidak mencintai dengan tulus—atau minimal hilangnya rasa cinta—tentu akan (dapat) berhenti dan berpaling pada sesuatu yang lain. Konsistensi dan keteguhan dirinya terhadap sesuatu itu dengan sendirinya surut dan luput hingga akhirnya pudar dan lenyap. Dengan demikian, uraian berdasarkan kerangka pikir etimologis tersebut mengandaikan bahwasanya filsafat pertama-tama bukanlah sebuah pengetahuan yang seolah-olah dapat dengan mudah diketahui dan dipelajari dalam waktu yang relatif singkat.

Perasaan mencintai lazimnya datang dengan sendirinya, begitu saja, dan dalam waktu yang relatif singkat. Akan tetapi, mencintai kebijaksanaan tidak terbatas semata pada sebuah perasaan psikis yang bersifat empiris. Pergulatan hidup untuk mengejar, meraih, dan menggapai kebijaksanaan memiliki kompleksitas dinamika pengalaman kehidupan yang berhalang-rintang. Pasang surut ketegangan antara mencintai dan membenci bahkan ikut bermain di dalam pergulatan pencarian akan kebijaksanaan. Dari logika ini, dengan demikian, filsafat juga bukanlah suatu kebijaksanaan itu sendiri. Sebab, jika memang demikian, maka halnya justru memiliki kontradiksi dengan artinya secara etimologis.

Jika mencintai berarti berupaya untuk terus-menerus mengejar apa yang dicintainya, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kebijaksanaan itu sendiri? Jika kebijaksanaan adalah identik dengan kebenaran, maka justru di sinilah salah satu fondasi dan esensi dari mencintai itu sendiri. Kebijaksanaan tidak dapat digapai atau ditemukan. Maksudnya, kebijaksanaan tidak akan pernah tetap dan pasti. Kebijaksanaan merupakan sesuatu yang melampaui konsep benar dan salah. Manusia atau seorang filsuf sekalipun yang sedang mengejar kebijaksanaan tidak akan pernah berhenti pada suatu kebijaksanaan tertentu tanpa meneruskan dan melanjutkan pencariannya.

Bagaimana seseorang dapat mencintai kebijaksanaan? Bagaimana memungkinkan seseorang melakukan aktivitas atau tindakan mengejar, meraih, dan menggapai suatu kebijaksanaan? Jawaban dari pertanyaan ini sekiranya perlu dijawab bukan berdasarkan etimologis, melainkan secara deskriptif. Dengan demikian, filsafat adalah refleksi rasional, kritis, dan radikal terhadap hal-hal pokok dalam hidup. Mari kita elaborasi sedikit lebih dalam masing-masing kata kunci atau komponen tersebut.

Filsafat itu reflektif. Reflektif di sini memaksudkan sebuah aktivitas atau tindakan perenungan atau kontemplasi diri atas hal-hal yang terjadi (pengalaman) di dalam kehidupan. Tindakan mencari ilmu pengetahuan (science) tidak menekankan pada metodologi atau pendekatan reflektif, melainkan lebih mengedepankan eksperimentatif yang dilakukan secara objektif untuk mendapatkan sesuatu yang baru.

Filsafat itu rasional. Aktivitas refleksi rasional berarti sebuah perenungan yang dengan sendirinya mengedepankan dan mengaktifkan rasionalitas. Rasionalitas pertama-tama memaksudkan sebuah pemikiran bebas (free-thinking) yang tidak didasarkan pada wahyu, kitab suci, agama, maupun mitos. Pendek kata, rasional berarti sebuah common-sense atau apa yang masuk akal. Di luar itu berarti masuk dalam kategori irasional.

Filsafat itu kritis. Pertama-tama, “kritis” mengandaikan adanya keberanian untuk berpikir, menggunakan akal-budi, rasionalitas dan logika secara mandiri. Pendek kata, kritis mensyarakatkan berani berpikir sendiri. Adanya kepercayaan diri untuk mau berpikir tanpa harus bergantung pada pemikiran orang lain, kelompok, golongan, aturan-aturan yang ada bahkan ideologi sekalipun.

Filsafat itu radikal. Di dalam konteks filsafat, terminologi “radikal” lebih memaksudkan pada sebuah jangkauan atau dimensi pengetahuan dan terutama refleksivitas yang mendalam. Jika kita telusuri asal kata “radikal” maka muncul kata yang berasal dari bahasa Latin, yaitu “radix” yang berarti akar. Radikal dengan demikian identik dengan konseptualisasi yang mendalam, mengakar atau mencari akar atau fondasi dari suatu realitas. Perlu diketahui bahwasanya “mendalam” dalam konteks filsafat bukan memaksudkan keberhasilan apalagi finalitas pencapaian terhadap kebenaran. “Mendalam” di sini perlu dimengerti sebagai proses aktivitas penggalian dan pencarian yang tiada henti (koherensi).

Nah, aktivitas refleksi rasional, kritis, dan radikal ini difungsikan untuk memahami hal-hal pokok dalam hidup. Apa saja yang termasuk dalam hal-hal pokok dalam hidup? Apapun! Mulai dari yang bentuknya kompleks hingga yang sederhana, seperti politik, ideologi, agama, ketuhanan, pendidikan, budaya, manusia, jiwa, roh, ekonomi, kepemimpinan, organisasi, cinta, kebencian, kecemasan, ketakutan, keberanian, kebaikan, etika, etiket, estetika, keadilan, persahabatan, uang, bisnis, teknologi, kesehatan, bahasa, komunikasi, interaksi sosial, dan seterusnya dan sebagainya.

Jadi, berdasarkan definisi filsafat tersebut, apakah itu adalah ilmu yang mengawang-awang? Ataukah justru memampukan kita di dalam menjalani kehidupan yang absurd dan paradoks, membantu kita di dalam memutuskan tindakan-tindakan konkrit yang sebaiknya dilakukan dan tidak, memaknai kehidupan apapun status sosial dan profesi kita agar hidup kita menjadi bermakna dan tidak hampa.

Lantas, apakah filsafat bisa digunakan untuk membantu kita menjadi kaya? Thales, seorang filsuf Yunani di era klasik yang dijuluki sebagai Bapak Filsafat,  pernah dicemooh karena miskin, yang dianggap menunjukkan bahwa filsafat tak berguna. Namun, berkat hasil refleksi rasional yang mendalam tentang perbintangan, meski saat itu masih musim dingin Thales tahu bahwa akan terjadi panen buah zaitun yang berlimpah di tahun depan.

Apakah filsafat itu sebaiknya difatwakan haram saja karena bisa menjerumuskan orang pada ateisme? Ataukah filsafat itu justru dapat memperkokoh iman kita? Jika kita simak dari perspektif yang berbeda, bukankah orang yang belajar agama dengan cara yang tidak tepat juga dapat menjerumuskan dirinya pada tindakan yang intoleran dan merugikan orang lain?   

Dari definisi baik secara etimologis maupun deskriptif, filsafat itu penting bagi manusia, apapun profesinya: dosen, guru, pelajar, politisi, polisi, hakim, entrepreneur, pilot, programer, nelayan, ibu rumah tangga, olahragawan, dan seterusnya. Aktivitas refleksi rasional, kritis, dan radikal semakin hari semakin memudar seiring dengan perkembangan sains dan teknologi yang begitu pesat.    

Jadi, apakah filsafat itu penting untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Jika memang penting, dan defacto filsafat telah masuk ke dalam kurikulum nasional pendidikan Barat sejak siswa duduk di bangku sekolah menengah, mengapa di Indonesia filsafat belum dijadikan sebagai mata pelajaran yang diwajibkan di seluruh institusi pendidikan? Apakah karena kurangnya pemahaman tentang apa itu filsafat? Jika memang benar demikian, bukankah itu picik dan naif?  

Mari lakukan refleksi rasional, kritis dan radikal atas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut! Mari kita berfilsafat! 

   

Antono Wahyudi, S.S., M.Fil., dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa Universitas Ma Chung, Malang.

Artikel ini telah disunting oleh Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Madiun dan Dewan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).