Melihat Polah Para Pangeran Arab Saudi: Saling 'Jegal' Memeperbutkan Tahta Kerajaan

Seolah bermuka tebal, Raja Salman langsung menunjuk putranya, Mohammed bin Salman (MbS) menjadi putra mahkota. MbS juga ditunjuk untuk menjabat Wakil Perdana Menteri sambil tetap mengemban tugas sebagai Menteri Pertahanan.

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Kepemimpinan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS), terus menjadi sorotan usai semakin banyak daftar anggota keluarga kerajaan yang baru ia tangkap sejak menjadi penerus takhta pada 2017.

Setidaknya sekitar 20 anggota keluarga kerajaan Saudi telah ditangkap dengan berbagai kasus mulai dari korupsi dan membocorkan rahasia keluarga. Yang terbaru, Pangeran Abdullah bin Faisal Al Saudi divonis penjara 30 tahun pada Agustus lalu setelah ditangkap sepulangnya dari Amerika Serikat pada 2020 lalu.

Penangkapan Pangeran Abdullah semakin menyoroti sisi gelap keluarga kerajaan Saudi yang penuh persaingan demi mempertahankan atau mendapat takhta tertinggi dalam kerajaan.

Perselisihan dalam keluarga kerajaan makin kentara setelah Raja Abdul Aziz bin Saud selaku raja pertama Saudi meninggal.

Kepergian Raja Abdul Aziz bin Saud menyebabkan takhta tertinggi kerajaan diteruskan oleh anak sulungnya, Saud bin Abdul Aziz.

Perjalanan Raja Saud memerintah Saudi banyak menghadapi lika-liku. Anggota keluarganya kerap menyuarakan ketidakpuasan atas pemerintahan dia. Pada 1964, ia pun digulingkan oleh adik tirinya,

Tak berbeda dengan Raja Saud, pemerintahan Raja Faisal juga tak berjalan mulus. Padahal, Raja Faisal dipandang sebagai orang visioner yang berani memimpin Saudi secara "berbeda".

Ia orang pertama yang memprakarsai serangkaian rencana pembangunan ekonomi dan sosial yang mengubah infrastruktur Saudi. Ia juga yang mendirikan sekolah umum pertama bagi anak perempuan di negara itu.

Nahasnya, strategi kepemimpinan Faisal itu tak disukai keluarga. Pada 1975, Faisal dibunuh oleh keponakannya sendiri, Faisal bin Musaid.

Selain aksi pembunuhan di antara keluarga itu, Saudi juga untuk pertama kalinya kedapatan memecat seorang putra mahkota. Pemecatan itu dilakukan pada Juni 2017 oleh Raja Salman, raja Saudi kini, terhadap Pangeran Mohammed bin Nayef yang merupakan keponakannya.

Tak hanya dilengserkan dari kursi calon raja, Pangeran Mohammed bin Nayef juga dipecat dari jabatan Menteri Dalam Negeri.

Seolah bermuka tebal, Raja Salman langsung menunjuk putranya, Mohammed bin Salman (MbS) menjadi putra mahkota. MbS juga ditunjuk untuk menjabat Wakil Perdana Menteri sambil tetap mengemban tugas sebagai Menteri Pertahanan.

Kepemimpinan MbS sebagai penguasa de facto pun tak luput dari kecaman keluarga. Ia berulang kali dikritik karena dinilai kejam, otoriter, dan mencoba membawa Saudi ke arah moderat.

Namun demikian, MbS tak gentar. Ia justru gencar menangkap dan memenjarakan keluarganya yang vokal mengkritik serta berpotensi menyainginya.

Sejauh ini, lebih dari 20 pangeran dan putri kerajaan Saudi telah ditangkap MbS sejak memimpin 2017 lalu.(han)