Melihat Muasal Kehadiran Kratom di Negeri Paman Sam

American Kratom Association (AKA) pun mencatat impor pertama kratom dari Asia Tenggara terjadi setelah perang Vietnam, ketika banyak tentara AS pulang dari medan tempur.

Jul 10, 2024 - 08:01
Melihat Muasal Kehadiran Kratom di Negeri Paman Sam

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Pada era 1960 an, perang besar meletus di Vietnam, akibat agresi militer Amerika Serikat, pemanfaatan kratom meluas ke dunia Barat.

Tentara AS menggunakan kratom selama berperang di Vietnam sebagai suntikan penambah energi sekaligus pereda nyeri.

Mereka memanfaatkannya dengan memetik daun kratom yang tumbuh liar di belantara hutan Vietnam, lalu mengunyahnya mentah-mentah.

Mereka tahu khasiat kratom itu dari etnis Hmong yang sudah hidup ratusan tahun dengan tanaman itu.

Pada dekade itu pula gerakan Hippie tengah menjadi tren gerakan sosial kalangan muda sebagai wujud perlawanan atau protes terhadap perang.

American Kratom Association (AKA) pun mencatat impor pertama kratom dari Asia Tenggara terjadi setelah perang Vietnam, ketika banyak tentara AS pulang dari medan tempur.

"Dari situ, popularitasnya meningkat, terutama ketika imigrasi suku Hmong ke Amerika Serikat meningkat secara drastis setelah era 1970-an itu, dan suku Hmong telah menggunakan kratom dalam diet dan praktik keagamaan mereka selama berabad-abad," kata Anggota Senior di Public Policy American Kratom Association (AKA) Mac Haddow kepada CNNIndonesia.com.

Penggunaan kratom pun sejak itu meluas ke beberapa negara di Eropa, seperti Ceko, Belanda, Jerman, Austria, dan Belgia dalam dua dekade terakhir.

AKA mencatat kini sekitar 15 juta penduduk AS mengonsumsi kratom dalam bentuk serbuk atau bubuk dari daun murni hasil impor yang telah dihaluskan sebelumnya. Produk yang dijual ke konsumen beragam, mulai dari kapsul obat hingga kemasan serbuk yang telah dicampur perasa.

Berdasarkan survei konsumen yang dilakukan oleh para ilmuwan, sepertiga dari 15 juta konsumen di AS menggunakan kratom sebagai pengganti secangkir kopi lantaran punya efek yang lebih baik dalam memberikan energi dan meningkatkan fokus.

Pada takaran saji yang lebih tinggi, sepertiga konsumen lainnya menggunakan kratom untuk mengurangi gejala kecemasan dan perasaan depresi. Selebihnya, pengguna di AS menggunakan kratom untuk menggantikan obat-obatan yang sangat adiktif dalam perawatan nyeri akut dan kronis.

"Mereka merupakan sub-kelompok dari kategori yang menggunakan kratom untuk berhenti dari pengaruh obat-obatan berbahaya, yang merupakan bagian dari wabah overdosis obat, yang dialami di Amerika Serikat dan di seluruh dunia," ujar Mac.

Mac mengatakan kratom yang diimpor oleh AS saat ini mayoritas berasal dari Indonesia. Ia mengakui kratom Indonesia memiliki kualitas baik. Popularitas kratom di AS pun sejak itu terus meningkat.

"Anda juga bisa banyak melihat Mom and Pop Deli [red: mini market] yang mulai mengimpor kratom dari Asia Tenggara dan Indonesia khususnya ke Amerika Serikat, dan popularitasnya kian bertumbuh," kata Mac.

Mac Haddow, Anggota senior American Kratom Association (AKA).
Peneliti Asosiasi Petani Purik Indonesia (Appuri) Firhan Noviandri mengatakan kratom yang diekspor ke beberapa negara, terutama Amerika Serikat (AS) dimanfaatkan sebagai pain relieve, obat relaksan, energy booster, bahkan ada beberapa yang menggunakannya untuk mengobati ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang.

"Dengan catatan, tanpa efek samping keberlanjutan penggunaan mereka terhadap kratom, menyebabkan mereka beralih atau berganti menjadi ketergantungan kratom, tanpa ada indikasi seperti itu," katanya kepada CNNIndonesia.com di Pontianak.

Firhan juga seorang dosen di Departemen Biokimia & Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Sejak 2021, dirinya bergabung di sebuah perusahaan ekspor kratom. Ia bertugas menguji kandungan mitraginin pada bubuk kratom yang dihasilkan sebelum dikirim ke negara lain.

Firhan menyebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga sudah melakukan penelitian terkait kandungan mitraginin pada kratom.

"Yang di BRIN terakhir mengatakan pada dosis 5, 10, 20 dan ditingkatkan. Pada dosis 5 dan dosis 10 miligram ekstrak alkaloid ataupun mitraginin itu memberikan efek analgesik yang baik, lebih baik daripada morfin," ujarnya.

"Lebih baik daripada morfin pada durability-nya dan sustainability-nya. Namun apabila ditingkatkan lagi, ada potensi dia memiliki efek yang sama dengan morfin, tapi bukan dari sisi analgesiknya, tapi dari sisi ketergantungannya," kata Firhan menambahkan.

Badan Pengawas Makan dan Obat-obatan AS (FDA) belum menyetujui resep atau produk obat yang mengandung kratom atau dua komponen kimia utamanya, yakni mitraginin dan 7-hidroksimitraginin.

Tidak hanya sebagai penggunaan obat medis, kratom juga tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai suplemen makanan atau minuman.

FDA menemukan risiko efek samping yang serius, termasuk toksisitas hati, kejang, dan gangguan penggunaan zat (SUD). Bahkan laporan dari pemeriksa medis dan toksikologi mengatakan bahwa kratom dapat menyebabkan kematian.

Memasuki 2020, kratom berada di bawah pengawasan Komite Ahli Ketergantungan Narkoba (ECDD) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

ECDD menyebut penggunaan kratom kebanyakan untuk mengobati berbagai gangguan dan kondisi, termasuk nyeri, penghentian opioid, gangguan penggunaan opioid, kecemasan, dan depresi. Kratom juga digunakan sebagai pengobatan tradisional di beberapa negara.

Penelitian pun masih berlangsung untuk menentukan farmakologi dasar dan potensi nilai terapeutik kratom.

ECDD mempertimbangkan informasi mengenai penggunaan tradisional dan penyelidikan kemungkinan penerapan medis kratom. Dalam laporannya, ECDD menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti untuk merekomendasikan tinjauan kritis terhadap kratom. Komite merekomendasikan agar kratom tetap diawasi oleh WHO.

Penggunaan kratom pada akhirnya memicu kontroversi di beberapa negara. Banyak negara sepakat kratom pada dosis rendah memiliki efek analgesik dan bisa dimanfaatkan untuk menambah stamina.

Namun penggunaan kratom dengan dosis tinggi dinilai memiliki efek psikotropika karena senyawa mitraginin yang dikandungnya dianggap serupa dengan morfin.

Mayoritas negara yang melarang kratom memasukkannya ke dalam golongan narkotika seperti Inggris, Irlandia, Islandia, Polandia, Swiss, hingga Rusia. Sementara beberapa negara mengontrol penggunaan kratom, yakni Denmark, Estonia, Prancis, Italia, Latvia, Lituania, Polandia, Portugal, Rumania, Finlandia, Swedia, dan Turki.

Selebihnya ada negara yang masih abu-abu, seperti Jerman, Hungaria, dan Makedonia Utara.

AS sebagai pasar utama kratom tak mengontrol penggunaan kratom meskipun FDA tak merekomendasikan kratom dicampur dalam bahan obat dan makanan. Segelintir negara bagian AS melarang konsumsi kratom, namun mayoritas negara bagian lainnya melegalkan dan telah membuat aturan perlindungan bagi konsumen kratom.

Negara tetangga Australia melarang penggunaan kratom, namun Selandia Baru masih mengizinkan dengan resep dokter.

Sedangkan di Asia, beberapa negara juga melarang kratom, seperti Malaysia, Myanmar, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Uni Emirat Arab (UEA). Hanya India yang benar-benar melegalkan kratom. Thailand baru sebatas penggunaan untuk medis.

Sementara negara yang masih abu-abu atau belum mengatur kratom adalah China, Suriah, Vietnam, dan tentu saja Indonesia.

Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai salah satu negara pengekspor kratom yang telah membukukan nilai transaksi sebesar US$16,6 juta dengan volume ekspor 7.695,07 ton sepanjang 2023.

Negara tujuan ekspor nomor wahid tak lain merupakan Amerika Serikat, dengan total volume ekspor 4.702,6 ton. Nilai transaksinya mencapai US$9,1 juta, dikutip dari CNNIndonesia.(han)