Masukkiri Menanti Pewaris

Sang Dewi Malam menyiratkan aura bahagia. Pancaran cahayanya mengintip di balik dedaunan. Menyambut iring-iringan grup Masukkiri yang datang. Malam itu, perjamuan kesenian tradisi Bugis Pagatan menjadi pelengkap dimulainya kehidupan dua insan yang bersatu atas Ridho Illahi Robbi.

May 24, 2024 - 06:36
Masukkiri Menanti Pewaris
Fauzi Rohmah, S.Pd

Oleh:  Fauzi Rohmah, S.Pd.

 

Sang Dewi Malam menyiratkan aura bahagia. Pancaran cahayanya mengintip di balik dedaunan. Menyambut iring-iringan grup Masukkiri yang datang. Malam itu, perjamuan kesenian tradisi Bugis Pagatan menjadi pelengkap dimulainya kehidupan dua insan yang bersatu atas Ridho Illahi Robbi.

Rahma sangat antusias saat rebana mulai ditabuh. Kesenian Masukkiri begitu menarik baginya yang berdarah Jawa. Lantunan syair-syair agama menelusup di daun telinganya. Syair yang masih terasa asing membuat ia terpaku. Iramanya sangat khas.

“Masukkiri ini merupakan kesenian asli Pagatan,” ungkap Kak Udi salah satu pemain Masukkiri di Desa Batarang itu.

Rahma masih saja terpaku. Ia khusuk mengikuti kegiatan itu. Lebih lagi, ia terpana pada pemain Masukkiri yang ternyata orang-orang yang tidak lagi muda. Usia mereka antara empat puluh sampai delapan puluhan. Rambut mereka pun tidak lagi hitam.

“Pendiri Masukkiri di Batarang ini Pua Talle. Usianya berkisar antara tujuh puluh lima sampai delapan puluh tahun. Tidak tahu pastinya. Pua Talle mulai menjadi pemain Masukkiri sejak usia masih SD,” imbuh Kak Udi.

Rahma berdecak kagum. Pe-masukkiri yang sudah berusia senja itu masih sangat semangat melestarikan budaya yang ada. Mereka masih sanggup bermasukkiri hingga tengah malam. Sang Dewi Malam pun mulai redup, cahayanya sembunyi di balik awan.

Di acara pernikahan, wajib hukumnya untuk suku Bugis menggelar kegiatan Masukkiri. Acara ini biasanya akan dimulai selepas Isya hingga pukul 23.00. Seiring berjalannya waktu, kesenian itu semakin menarik bagi Rahma.

Pe-masukkiri ikut larut di dalam lantunan dan tabuhan. Rapalan syair-syair mengudara berasal dari batin mereka. Awalnya, syair-syair itu terdengar biasa saja. Tapi, lama-lama rapalan syair itu menjelma bagaikan mantra. Pe-masukkiri seakan berada dalam dimensi lain.

Pua Talle, lelaki dengan usia yang hampir kepala delapan itu sangat menikmati gerakan jemarinya. Ia mengayunkan kepalanya dengan runut. Suaranya lantang merapalkan puji-pujian kepada Tuhan. Sesekali, ia pejamkan matanya menghayati syair yang dilantunkan juga tabuhan yang kian menelusup kalbu.

Seketika, Rahma teringat pernikahannya dulu. Enam tahun lalu, malam Marolla juga diisi dengan kesenian Masukkiri. Hanya saja, saat itu ia kurang tertarik secara mendalam.

 “Ini namanya Masukkiri,” jelas Emmang singkat.

Masukkiri baginya dulu hal baru yang terasa asing. Ia sulit memahami syair-syair khas mereka. Lebih lagi, ia yang berdarah Jawa baru beradaptasi dengan keluarga suami yang berdarah Bugis.

Malam itu, kali kedua Rahma berada dalam pagelaran Masukkiri. Kekagumannya menghadirkan beberapa pertanyaan dalam hati. Selepas kegiatan itu, ia lantas menghampiri Kak Udi untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang menggelayut di pikirannya.

“Masukkiri di Batarang ini terdiri dari lima belas anggota. Sayangnya, tidak ada generasi muda yang tertarik dengan kesenian ini,” jelas Kak Udi.

Rahma tercengang. Pantas saja, Masukkiri yang ia lihat beberapa kali tidak ada anak muda di sana. Raut wajah Kak Udi pun tidak menampakkan aura bahagia. Ada duka di air mukanya.

“Kalau tidak salah, di Mudalang ada regenerasi grup Masukkiri. Di sini tidak ada. Semoga saja di kemudian hari nanti ada anak muda yang berminat untuk menjaga dan melestarikan kesenian ini,” ungkap Kak Udi penuh harap.

Rahma pun mengamininya. Sayang sekali jika kesenian adat yang hanya dimiliki oleh masyarakat Bugis Pagatan ini akan punah. Seiring para pe-masukkiri yang telah di ujung senja. Warisan budaya ini harus tetap lestari dan hidup di bumi nenek moyang.

“Kalau kamu tertarik ingin belajar Masukkiri langsung saja ke rumah Pua Talle. Beliau akan sangat bahagia ketika ada anak muda yang tertarik untuk belajar.” Sekali lagi ungkap Kak Udi penuh harap.

Sembari memakan kanrejawa yang dihidangkan, Rahma dan Kak Udi larut dalam perbincangan panjang. Rahma sangat menikmati Nenu-nenu makan khas Bugis yang wajib ada saat hajatan. Kanrejawa Pute pun tidak boleh ditinggalkan dalam sajian. Selain itu, juga ada Putu Pese, Dempu Agara, Cucuru Tello, Burasa, dan Didoro Tello.

Malam semakin larut, waktu menunjukkan pukul 24.00 wita. Setelah menikmati hidangan yang disajikan tuan rumah, pe-masukkiri pun pamit. Beberapa memanggul rebana yang berukuran besar padahal tubuh mereka tidak lagi kokoh. Lagi-lagi, Rahma berdecak kagum.

“Mereka sudah tua, tapi masih kuat begadang dan kuat memanggul rebana besar itu,” seru Rahma. Kak Udi hanya melemparkan senyum tipisnya.

Idi manimmitai,” seloroh Kak Udi dengan bahasa Bugis.

Rahma yang sedikit paham bahasa Bugis terlihat hanya senyum simpul…..

 

 

 

Fauzi Rohmah, S.Pd., adalah guru  Bahasa Indonesia di SMPN 1 Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Artikel ini telah disunting oleh Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Madiun dan Dewan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).