Manusia dan AI dalam Sastra Elektronik

Oleh: Nara Sari

Jun 25, 2024 - 10:51
Manusia dan AI dalam Sastra Elektronik

Sastra elektronik (electronic literature) atau yang dikenal juga dengan sastra digital (digital literature) adalah sebuah genre sastra yang menggunakan media elektronik sebagai medium utamanya. Sastra elektronik menggunakan kemampuan digital seperti interaktivitas, multimodalitas, atau pembuatan teks algoritmik secara estetis. Dengan kata lain, karya sastra elektronik menggunakan teknologi digital dalam aspek produksinya.

Salah satu karakteristik dari karya sastra elektronik adalah menggabungkan elemen multimedia seperti gambar, suara, video, dan animasi. Oleh sebab itu, karya sastra elektronik menawarkan pengalaman yang lebih kaya dan imersif kepada para penikmatnya dibandingkan dengan karya sastra cetak tradisional.

Film sebagai bagian dari sastra elektronik kaya akan jalan cerita (storyline) yang inovatif. Penelusuran film sebagai sastra elektronik dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan sastra konvensional seperti pendekatan semiotik, psikoanalisis, feminisme, historis, reader-response, maupun postmodern.

Explorasi narasi dan struktur cerita, tema, psikologi dan emosi, serta konteks sejarah dalam sebuah film menawarkan sebuah pemahaman yang mendalam akan kompleksitas hidup manusia. Khususnya pada zaman sekarang, kompleksitas tersebut sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan digitalisasi.

Kemajuan teknologi dalam dunia modern telah mendorong kemunculan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau disingkat AI). Diawali sebagai sebuah konsep dalam ilmu komputer, kecerdasan buatan telah berkembang menjadi kekuatan revolusioner di berbagai industri dalam masyarakat. Kemampuan AI untuk belajar, beradaptasi, dan mengambil keputusan telah membuka jalan bagi inovasi yang dulunya sering dianggap sebagai “fiksi ilmiah” (science fiction).

Jauh sebelum kecerdasan buatan (AI) populer di kalangan masyarakat sekarang, film The Terminator (1984) sudah memprediksi aspek-aspek penting tentang AI dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Film ini menggambarkan sebuah masa depan di mana mesin berbasis AI menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia. Film ini mencerminkan kekhawatiran bahwa AI yang sangat canggih bisa menghancurkan ras manusia. Selain itu, film The Matrix (1999) menunjukkan bagaimana AI mengendalikan dan memanipulasi manusia dalam dunia simulasi.

Dalam film Avatar (2009), teknologi neural link yang mengintegrasikan AI membantu menerjemahkan sinyal otak ke dalam gerakan dan respon untuk mengendalikan sebuah tubuh biologis (avatar). AI dalam film “Avatar” memungkinkan sinkronisasi yang sempurna antara pikiran manusia dan tubuh avatarnya.

Hubungan manusia dan kecerdasan buatan (AI) dalam film-film tidak selalu digambarkan dengan cara yang negatif. Contohnya, film Her (2013) mengangkat tema kolaborasi dan simbiosis mutualisme antara manusia dengan AI. Dalam film tersebut, AI diciptakan untuk menjadi mitra emosional dan intelektual bagi manusia.

Tokoh utamanya, Theodore, dapat menjalin hubungan romantis dengan sistem operasi berbasis AI Bernama Samantha. Film ini mengeksplorasi interaksi manusia dengan teknologi AI yang seolah-olah juga memiliki perasaaan seperti seorang manusia.

Terkait kesadaran dan emosi, film Blade Runner (1982) mempertanyakan makna menjadi seorang manusia ketika android (robot yang berbentuk manusia) mampu menunjukkan emosi dan keinginan untuk bertahan hidup. Sedangkan, “Ex Machina” (2014) menampilkan sebuah eksperimen manusia dalam menciptakan AI dengan kesadaran manusia.

Dalam film tersebut, seorang peneliti bernama Nathan memprogram Ava, robot AI canggih, untuk memiliki kemampuan berpikir dan perasaan layaknya manusia. Film ini membuat para audiens mempertanyakan batas-batas etis pengembangan dan penerapan kecerdasan buatan serta kemampuan manusia untuk mengontrol teknologi hasil ciptaannya sendiri.

Serial TV Westworld yang telah tayang di HBO sepanjang tiga musim sejak 2016 mengangkat tema eksploitasi hak-hak AI dan penyalahgunaan teknologi. Westworld merupakan sebuah taman hiburan yang dirancang untuk menyediakan pengalaman imersif bagi manusia, di mana para pengunjung dapat berinteraksi dengan android yang disebut “host”.

Dalam serial TV tersebut, digambarkan bahwa beberapa “host”, seperti Dolores Abernathy, mengalami perkembangan dalam kesadaran mereka. Para “host” mampu menggali identitas mereka dan mempertanyakan peran mereka dalam dunia yang diciptakan manusia. Serial ini mengundang para penonton untuk merenungkan tentang bagaimana AI dapat mempengaruhi moralitas, hubungan sosial, dan bahkan eksistensi manusia.

Serial TV Humans (2015-2018) juga mengangkat tema serupa, dimana android yang disebut “Synths” dipekerjakan sebagai pelayan manusia. Teknologi Synths yang semakin canggih mengubah cara hidup manusia. Seiring berjalannya waktu, dikisahkan bahwa Synths mulai melakukan perlawanan terhadap perlakuan manusia terhadap mereka. Selain mengangkat tema kemajuan teknologi berbasis AI, film ini mengandung intrik tentang konspirasi organisasi rahasia dan mengeksplorasi dinamika kekuasaan dalam masyarakat modern.

Inovasi dan kemajuan teknologi khususnya dalam bentuk AI juga digambarkan dalam film “Iron Man” (2008) dan “Big Hero 6” (2014). Tidak seperti film-film yang mendeskripsikan kekhawatiran akan “kebangkitan” AI, kedua film ini menunjukkan peran AI sebagai seorang “rekan” ataupun “teman” yang setia mendampingi manusia dalam menjalani realita kehidupannya.

JARVIS (Just A Rather Very Intelligent System) dalam Iron Man digambarkan sebagai hasil teknologi berbasis AI yang membantu Tony Stark dalam segala aspek kehidupannya. JARVIS adalah asisten pribadi Tony yang mampu menavigasi dan menganalisa data untuk mengelola teknologi canggih yang diciptakan Tony. Hubungan Tony Stark dan JARVIS lebih dari sekedar mesin (machine) dan pengguna (user). Mereka sering terlibat dalam percakapan yang mengandung unsur humor dan interaksi personal.

Sementara itu, Baymax dalam Big Hero 6 (2014) dirancang menjadi sebuah robot pengasuh yang mampu memberikan bantuan medis dan emosional kepada manusia yang membutuhkan. Peran Baymax dalam hidup sang peran utama, Hiro, sangat krusial. Tidak hanya menjadi asisten medis, Baymax mendampingi Hiro secara emosional ketika ia harus kehilangan kakaknya dalam sebuah kebakaran laboratorium. Film ini menceritakan kedalaman hubungan Hiro (human) dan Baymax (robot) sebagai teman dan keluarga.

Terdapat banyak film yang mengangkat tema kecerdasan buatan (AI) di berbagai genre dan sudut pandang. Jumlahnya terus bertambah seiring dengan perkembangan teknologi dan minat masyarakat terhadap isu-isu terkait AI. Kecerdasan buatan (AI) dirancang untuk membantu umat manusia. Namun, perkembangan AI menimbulkan pertanyaan penting tentang masalah etika, penerapannya dalam perang, dan hubungannya dengan manusia penciptanya.

Penelusuran film sebagai salah satu bentuk sastra elektronik (electronic literature) menawarkan perspektif yang kaya tentang hubungan manusia dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) serta implikasinya di masa depan. (****) 

Nara Sari adalah dosen Sastra Inggris di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.

Editor: Wadji