Senin, September 20, 2021
BerandaLifestyleTravelHidden Gem dalam Bumi Perkemahan Bedengan

Hidden Gem dalam Bumi Perkemahan Bedengan

Oleh: Handika Dewa

NUSADAILY.COM – MALANG – Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat pertemanan seseorang menjadi semakin dekat. Salah satunya adalah berkemah dengan menikmati keindahan alam memang menjadi favorit banyak orang. Belum lagi suara serangga yang menghidupkan suasana menjadi lebih berwarna.

Ini adalah kali kedua dalam hidupku mendapatkan kesempatan untuk berkunjung kembali ke bumi perkemahan atau camping ground Bedengan yang terletak di Kecamatan Dau, Kota Malang. Tentunya disana saya tidak seorang diri dan memang lebih baik jika bersama teman-teman. Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 5 sore dari rumah masing-masing menuju ke titik kumpul yaitu rumah Ryan di Jalan Diran, Kota Batu.

Sekitar 6 orang kala itu telah berkumpul untuk selanjutnya menuju ke desa Selorejo, Kecamatan Dau yaitu tempat dimana kami akan berkemah. Di rumah Ryan kami mengecek barang-barang yang akan dibawa nantinya supaya tidak ada yang tertinggal. Barang bawaan yang wajib dibawa untuk menginap adalah satu buah tenda berkapasitas secukupnya, matras, lampu tenda, kompor portable, senter, makanan dan minuman.

Tentunya peralatan yang lengkap dan memadai akan membuat kita nyaman nantinya. Tidak perlu waktu lama kamipun berangkat dengan mengendarai sepeda motor.

Tiket Masuk Rp 12 Ribu, Parkir Rp 5 Ribu

Selama perjalanan kami melewati jalanan aspal sampai akhirnya tiba di dekat daerah perkemahan jalananpun berubah menjadi bebatuan. Penduduk di sini menyebutnya makadam atau jalanan bebatuan yang belum diaspal. Di sekeliling jalan ini tidak terdapat lampu penerangan jalan dan hanya ada perkebunan jeruk milik warga. Sekitar 15 menit perjalanan melewati jalanan bebatuan menuju ke pintu loket bumi perkemahan Bedengan.

Sebelumnya, hanya dengan mengeluarkan biaya sekitar Rp 12 ribu untuk tiket masuk dan parker Rp 5 ribu, kami sudah bisa menjelajahi rimbunnya hutan pinus. Setelah memenuhi administrasi dan diizinkan untuk memasuki area perkemahan, kamipun bergegas ke tempat parkir sepeda motor dahulu. Dilanjutkan dengan berjalan kaki untuk mencari tempat yang dirasa cocok untuk mendirikan tenda.

Jam menunjukkan pukul 18.30 yang mana sambil berjalan melewati jalanan bebatuan, kami mengejar jam untuk sholat maghrib. Tenang saja, di bumi perkemahan Bedengan ini terdapat fasilitas musholla dan kamar mandi jadi kami bisa memanfaatkannya. Meskipun hanya berbentuk pondok kayu tetapi musholla disini sangat bersih juga sangat layak dipakai. Dirasa waktu mendekati sholat Isya kami sekalian untuk menunggu itu.

Bagaimanapun juga ibadah jangan sampai dilupakan terlebih lagi jika kita seorang muslim karena seperti ada yang kurang disaat kami bisa bermain tapi tidak bisa mendirikan sholat. Setelah selesai dengan perasaan tenang, saya melanjutkan untuk mencari ground yang dirasa cocok. Tapi sayang sekali hari saya kemari kurang tepat karena banyak tempat yang sudah disewa terlebih dahulu untuk acara makrab (malam akrab) mahasiwa dari Madura.

Mau tidak mau saya kebagian tempat yang kurang terpojok dan diatas rerumputan. Memang kurang nyaman mendirikan tenda diatas rumput, seharusnya di atas tanah yang landau. Sudah terlanjur datang, tidak mungkin langsung pulang. Akhirnya saya mendirikan tenda sedangkan lainnya membantu menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan.

Sangat Nyaman untuk Bertukar Cerita

Gelapnya malam mulai menyelimuti, di sini peran lampu sangat diperlukan jika ingin mendapatkan cahaya. Ditemani dengan segelas kopi panas, kami saling bercerita satu sama lain. Obrolan yang tidak penting bagi masa depan, tapi sangat nyaman untuk saling bertukar cerita. Satu malam itu sangat berarti jika kita pergi bersama dengan orang yang tepat. Suatu momen untuk kami bisa lebih akrab satu sama lain.

Kegiatan lain yang bisa saya lakukan disana adalah bernyanyi sambil diiringi suara gitar. Rata-rata temanku pawai dalam bermain gitar, tentunya saya tidak perlu repot-repot untuk memainkannya. Bernyanyi bersama, mau suaranya merdu atau tidak, kami tetap bersenang-senang di tengah keheningan malam. Jarak tenda kami dengan yang lainnya juga berjauhan jadi tidak akan mengganggu dengan suara berisik kami.

Untung saja saya membawa kartu UNO disaat kami merasa capek. Mungkin banyak permainan lain yang bisa dilakukan untuk mengisi panjangnya malam. Seperti bermain bayangan di dalam tenda. Membuat bentuk-bentuk hewan dengan keterampilan tangan atau siluet yang konyol sangat mengasikkan. Malam hari semakin dingin, sayangnya kami tidak bisa menyalakan api unggun.

Sebenarnya di camping ground ini ada yang menjual kayu bakar seharga Rp 30 ribu. Sayangnya kami berada di atas rerumputan jadi tidak memungkinkan untuk menyalakan api. Takutnya api akan menjalar lewat rumput tersebut. Cara saya menghangatkan diri hanyalah dengan memakai jaket dan minum kopi panas.

Sangat disayangkan jika melewati indahnya malam dengan tidur, jadi pukul 03.00 petang saya baru bisa tertidur. Tentunya nanti subuh semuanya harus bangun untuk sholat subuh. Dinginnya menusuk hingga ke relung jiwa, mungkin suhu saat itu berada di bawah 15 derajat celcius. Tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya minuman energen panas di pagi hari itu.sambil menunggu terbitnya fajar.

Nikmatnya Sarapan Mie Goreng dan Telur

Barulah kami membuat sarapan di saat matahari telah bersinar. Mie goreng, telur goreng dan sosis adalah perpaduan yang sempurna untuk sarapan. Selain praktis dibawa kemana-mana, rasanya juga enak. Selagi yang lain memasak makanan, saya pergi untuk berburu foto sunrise disana. Ditemani dengan temanku bernama Pungky, kami pergi ke bawah menuju ke aliran sungai.

Sungai di sini sangat bersih dan dijadikan warga sebagai sumber mata air mereka. Benar saja sunrise yang sangat indah telah terbit. “Aku wes ngomong golden hour itu nyata”, kata Pungky yang asik mengabadikan moment. Selain itu disini juga terdapat hidden gem yaitu berupa punden bersejarah. Tempatnya sangat jauh dari perkemahan dan bentuknya seperti yang ada di Bali. Saya kurang tau disana makam siapa karena tidak berani masuk, tetapi menurut info dari teman saya, itu adalah orang yang pertama kali ‘babat alas’ di kecamatan Dau.

Terik matahari mulai terasa panasnya di kepala. Waktunya kami untuk pulang pada pukul 10.00 dengan mengemas barang-barang. Dengan keadaan yang sudah lelah tapi puas. Jangan lupa untuk tidak meninggalkan sampah sedikitpun disana, gimanapun juga sudah disediakan tempat sampaah yang banyak di beberapa titik. Kebersihan juga mencerminkan diri kita sendiri, jadi kalau tidak mau dikatain jorok ya harus selalu menjaga kebersihan.

Kurang lebih seperti itu yang kami lakukan di bumi perkemahan Bedengan. Berkemah itu salah satu proses yang cocok untuk melakukan self-healing apalagi jika bersama teman yang tepat. Sendirian kesana juga boleh untuk yang suka menikmati kedamaian dan kesendirian. Lebih dari itu wisata alam akan membuat seseorang menjadi lebih rileks dan mengembalikan mood yang buruk.

Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris UIN Maliki Malang

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

AnyFlip LightBox Embed Demo

popular minggu ini

- Advertisement -spot_img

BERITA TERBARU

berita khusus

Pemkot Malang Alokasikan Dana Cukai Hasil Tembakau untuk Jaminan Kesehatan

NUSADAILY.COM - MALANG - Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kesehatan memanfaatkan Dana Bagi Hasil (DBH) Cukai Hasil Tembakau (CHT) untuk program pemenuhan dan penyediaan...