Minggu, Desember 5, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaLifestylePeopleRaja Parikesit dan Mohammad Prananda Prabowo (2)

Raja Parikesit dan Mohammad Prananda Prabowo (2)

- Advertisment -spot_img

Bocah Lola Sejak Masih dalam Kandungan Ibunda

Parikesit adalah putra dari Abhimanyu alias Angkawijaya, yakni kesatria di Plangkawati. Ibunya adalah Dewi Utari, yaitu putri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yustinawati dari Kerajaan Wirata. Perkawinan Abhimanyu dan Utari pada susastra Jawa Kuna dikisahkan dalam kakawin “Abhimanyuwuwaha” — suatu judul yang mengingatkan kita pada “Kakawin Arjunawiwaha”, yang mengisahkan mengenai perkawinan ayahnya (Arjuna). Bila ditilik dari garis genealogi ayahnya, yakni Abhimanyu, dalam dirinya mengalir “darah biru” Dinasti Pandawa.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Parikesit boleh dibilang sebagai anggota keluarga Pandawa yang “selamat hidup” pasca perang besar Bharatayuddha. Namun nahas, ayahnya gugur sebagai ksatria sejati di palagan Kurukshetra dalam perang besar tersebut, sebuah perang saudara pada lingkungan keluarga Bharattha. Oleh karena itu, maka pasca perang Bharatthayuddha itu, tahta di Hastinapura diampu oleh Parikesit, menggantikan piutnya (cucu dari cucunya), yaitu Karimataya — nama gelar (abisekanama) dari Yudistira.

Sebagai seorang penguasa (raja), Parikesit disosokkan sebagai ksatria yang berwatak bijaksana, jujur, dan adil. Kepribadian yang luhur itu justru tumbuh-berkembang dalam tantangan (change) hidup yang tak mudah, hanya dalam asuhan Sang Ibu sebagai orang tua tunggal (single parent). Tantangan hidup telah dihadapi Parikesit sejak lahir. Bahkan, sebelum kelahiran (pra- marital), yakni ketika masih berada di “goa garbha (kandungan)” Ibunya, Parikesit telah berstatus “yatim” sejak di dalam kandungan ibu — bahasa Jawa Baru mengistilahi dengan “bocah lola”, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang tanpa disertai orang tua kandungnya, yang pada konteks diri Parikesit adalah “lola bapa (tanpa disertai ayah kandungnya), lantaran sang ayah, yakni Abhimanyu, gugur sebagai kusuma nagara ketika janin Parikesit masih berada di dalam kandungan Dewi Utari. Parikesit lahir tanpa keberadaan ayah di kehidupannya.

Kisah gugurnya Abhimanyu merupakan kisah yang penting di dalam wiracarita (Sanskerta: महाभारत) karya rakaman Begawan Byasa atau Vyasa. Demikian pula diposisikan penting di dalam kakawin Jawa Kuna Bharatthayuddha karya Pu Sedah dan Panuluh di era kerajaan Kadiri. Bersama cerita “gugurnya Gatotkaca”, kedua kisah itu mengharu biru pembacanya, namun sekaligus membanggakan –lantaran kedua Ksatria putra dari anggota keluarga Pandawa itu telah bertindak sebagai “martir”, bersedia berlalu altrustik lewat pengabdian berbela nagara.

Abhimanyu putra Arjuna dan Gatotkaca putra Bhima dilukiskan oleh kedua susastra tersebut sebagai “sang pahlawan”. Apabila ayahnya, yakni Abhimanyu dipredikati sebagai “sang pahlawan”, maka cukup alasan untuk menyatakan Parikesit sebagai “putra pahlawan”

Keksatrian Abhimanyu (Dewanagari: अभिमन्यु) secara heroik terkisah dalam Mahabharatta, tepatnya di bagian (parwa) Bharattayuddha. Putra Arjuna dan Widyadari Subadra ini telah ditetapkan sebagai calon penerus Yudistira, atau pewaris tahta. Namun, Ia keburu gugur di palagan Kurukshetra sebagai salah satu ksatria termuda dari pihak Pandawa – usianya baru 16 tahun, malahan baru saja menikah (bahasa Jawa “manten anyar”) dengan Utari.

Dalam mitologi, Abhimanyu alias Parthasuta, Parthātmaja, Saubhadra, Angkawijaya, Jaka Pengalasan, Jaya Murcita, Sumbadratmaja, Wanudara, Wirabatana ataupun Kirityatmaja adalah inkarnasi Warcasa, yakni putra Dewa Bulan. Arjuna membuat perjanjian dengan Warcasa bahwa putrnya hanya akan tinggal di bhumi dalam waktu 16 tahun dan karenanya Abhimanyu pun tewas dalam usia 16 tahun.(tim nusadaily.com/bersambung)

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR