Minggu, Juli 3, 2022
BerandaLifestylePeopleKisah Nenek Sayati, Setia Dampingi Sang Ibu yang Berusia 106 Tahun saat...

Kisah Nenek Sayati, Setia Dampingi Sang Ibu yang Berusia 106 Tahun saat Rumahnya Terendam Banjir

NUSADAILY.COM – LUMAJANG – Kisah pilu seorang nenek yang rumahnya diterjang banjir terjadi Desa Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang. Seorang nenek berumur 106 tahun bernama Satro tidak mau mengungsi meski rumahnya direndam banjir. Dia terbaring lemas di tempat tidur sederhana.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Suyati (80) anak Satro setia menemani sang ibu yang terbaring tak berdaya karena faktor usiadi rumahnya tersebut. Bahkan ketika kiriman air dari luapan Sungai Krasak malam tadi, Sayati tetap tidak bergeming untuk mengungsi dari rumahnya karena sang ibu tidak mau diajak mengungsi.

Walau dengan kondisi seadanya, tanpa selimut maupun jaket di tengah dinginnya malam dan kaki yang terendam air Sayati tetap bertahan. “Gak punya jaket saya nak, kasihan mbah kalau saya tinggal,” ucap Sayati di rumahnya, Selasa 15 Maret 2022 dinihari.

Sayati tinggal berdua bersama sang ibu yang setiap harinya menghabiskan waktu di atas ranjang tempat tidur sederhananya. Meski sering diajak oleh putra-putrinya untuk pindah, karena sang ibu menolak, Sayati pun memilih kemauan sang ibu.

Sayati mengisahkan bahwa setiap harinya ia harus mengantar sang ibu ke sungai untuk mandi dengan cara membopongnya perlahan.

Tak disangka, sungai yang tiap hari ia singgahi untuk memandikan ibunya, tadi malam tiba-tiba meluap hingga ke rumah Satiya seakan air yang gantian mendatangi dirinya. “Mbah ini kalau mandi tidak mau kalau gak ke sungai, katanya gak seger, jadi setiap hari ke sungai sana, lah sekarang airnya ke sini,” terang Satiya.

Saat ketinggian air mencapai 70 cm dan hampir merendam ranjangnya, Satro tetap tidak beranjak seakan menganggap ranjangnya lah tempat paling aman untuk berlindung dari air banjir.

Pun demikian dengan Satiya yang hanya bisa menyapu air yang masuk ke rumahnya dengan sapu lidi agar air tidak sampai menyentuh ranjang sang ibu. “Mbah selalu berucap tidak mau merepotkan yang muda jika diajak pindah,” ujar Satiya.

Nahasnya, dua perempuan lanjut usia tersebut selama ini tidak pernah mendapat bantuan sosial khusus lansia dari pemerintah.

Sehingga mereka harus bertahan hidup seadanya dengan terkadang menerima kiriman makanan dari tetangga maupun Satiya yang bekerja sebagai buruh tani. “Belum pernah dapat bantuan lansia, jadi ya gini kondisinya,” pungkas Satiya.(hud/aka)

BERITA KHUSUS

Berkunjung ke Kota Batu, Sandiaga Uno Buka Workshop Minuman Kekinian Pelaku UMKM

NUSADAILY.COM-KOTA BATU – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno berkunjung ke Balai Kota Among Tani, Kota Batu (Rabu, 29/6). Sandiaga membuka acara...

BERITA TERBARU

Kisah Pengusaha Cilok Sukses Raih Omzet Rp 15 Juta per Hari, Dulu Bermodal Rp 48.000

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Jatuh bangun berkali-kali, kisah pengusaha cilok ini sukses menginspirasi. Dulu modalnya hanya Rp 48.000, kini usahanya beromzet 15 juta perhari. Tak...

NUSADAILY.COM - LUMAJANG - Kisah pilu seorang nenek yang rumahnya diterjang banjir terjadi Desa Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang. Seorang nenek berumur 106 tahun bernama Satro tidak mau mengungsi meski rumahnya direndam banjir. Dia terbaring lemas di tempat tidur sederhana.

Suyati (80) anak Satro setia menemani sang ibu yang terbaring tak berdaya karena faktor usiadi rumahnya tersebut. Bahkan ketika kiriman air dari luapan Sungai Krasak malam tadi, Sayati tetap tidak bergeming untuk mengungsi dari rumahnya karena sang ibu tidak mau diajak mengungsi.

Walau dengan kondisi seadanya, tanpa selimut maupun jaket di tengah dinginnya malam dan kaki yang terendam air Sayati tetap bertahan. "Gak punya jaket saya nak, kasihan mbah kalau saya tinggal," ucap Sayati di rumahnya, Selasa 15 Maret 2022 dinihari.

Sayati tinggal berdua bersama sang ibu yang setiap harinya menghabiskan waktu di atas ranjang tempat tidur sederhananya. Meski sering diajak oleh putra-putrinya untuk pindah, karena sang ibu menolak, Sayati pun memilih kemauan sang ibu.

Sayati mengisahkan bahwa setiap harinya ia harus mengantar sang ibu ke sungai untuk mandi dengan cara membopongnya perlahan.

Tak disangka, sungai yang tiap hari ia singgahi untuk memandikan ibunya, tadi malam tiba-tiba meluap hingga ke rumah Satiya seakan air yang gantian mendatangi dirinya. "Mbah ini kalau mandi tidak mau kalau gak ke sungai, katanya gak seger, jadi setiap hari ke sungai sana, lah sekarang airnya ke sini," terang Satiya.

Saat ketinggian air mencapai 70 cm dan hampir merendam ranjangnya, Satro tetap tidak beranjak seakan menganggap ranjangnya lah tempat paling aman untuk berlindung dari air banjir.

Pun demikian dengan Satiya yang hanya bisa menyapu air yang masuk ke rumahnya dengan sapu lidi agar air tidak sampai menyentuh ranjang sang ibu. "Mbah selalu berucap tidak mau merepotkan yang muda jika diajak pindah," ujar Satiya.

Nahasnya, dua perempuan lanjut usia tersebut selama ini tidak pernah mendapat bantuan sosial khusus lansia dari pemerintah.

Sehingga mereka harus bertahan hidup seadanya dengan terkadang menerima kiriman makanan dari tetangga maupun Satiya yang bekerja sebagai buruh tani. "Belum pernah dapat bantuan lansia, jadi ya gini kondisinya," pungkas Satiya.(hud/aka)