Senin, Oktober 18, 2021
BerandaLifestylePeopleBagelen 'Tanah Juang Lintas Masa'

Bagelen ‘Tanah Juang Lintas Masa’

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – PURWOREJO – Seolah “telah digariskan”, dari masa ke masa Bagelen tampil sebagai “bhumi juang”. Area di mana deretan perjuangan berlangsung di dalamnya. Dalam perjalanan panjang sejarah daerah Purworejo, daerah ini tercatat sebagai daerah yang dipilih serta dijadikan sebagai pusat pemerintahan, semenjak masa Hindu- Buddha.

Masa Kolonial, hingga kini, sejak Masa Hindu-Buddha, tepatnya di era pemerintahan Raja Balitung, bhumi Bagelen — yang konon disebut “Mdang i Bhumi Mataram” telah menjadi basis juang untuk meraih kejayaan kerajaan Mataram.

BACA JUGA : PDIP Kuasai Pilkada Bali, I Wayan Koster: Karena Peran Prananda Prabowo

Spirit kejuangan Bagelen berlanjut ke Masa Perkembangan Islam, dimana Sunan Geseng asal Bagelen melakukan syiar Islam di daerah Kedu Selatan, dan kemudian diperluas hingga ke sejumlah tempat di wilayah Jawa Tengah dan bahkan mencapai Tuban. Hingga kini pun Eks Bagelen (sekarang “Purworejo”) dikenal “sentra pendidikan Islam”.

Para kyai besar tak sedikit yang berasal dari Bagelen. Salah satu di antaranya adalah Kyai Taptajani, mahaguru dari Bupati I Purworejo (RAA. Cokronegoro I), Pangeran Diponegoro, Pangeran Adisuria dan Patih Danurejo. Makam Kyai Taptajani atau Taptonjani (nama aslinya “Taftazani”) berada di bukit bernama “Kayu Lawang” Desa Mudal Kecamatan Purworejo Walau pada mulanya tempat mengajarnya di Pathok Negoro Desa Mlagi, Sleman. Namun makamnya berada di Kayu Kawang, Purworejo. Ulama lainnya asal Purworejo adalah Kyai Ghozali, yakni kakek buyut dari Mohammad Prananda Prabowo.

BACA JUGA : Medan Tugas Lettu Surindro, Ayah Mohammad Prananda Prabowo (16)

Dalam pembentukan Kasultanan Mataram Bagelen pun turut berkontribusi. Sejumlah ” “kenthol (tokoh andalan)” asal Bagelen oleh Sutawijaya (Bergelar “Panembahan Senapati”) dijadikan sebagai pasukan utama Mataram. Sebenarnya, bukan hanya di era Kasultanan para tokoh asal Bagelen itu berperan dalam operasi militer. Namun hingga di masa-masa sesudahnya, sehingga nama Bagelen sangat disegani di daerah-daerah lain. Posisi sentra dan kontribusinya tercatat kesejarahan Jawa, tak terkecuali di Masa Kolonial, semenjak era VOC, Hindia-Belanda hingga agresi militer di era Perang Kemerdekaan.

Tatkala berlangsung “Perang Jawa (Perang Diponegoro)” pada tahun 1825- 1830 bhumi Bagelen menjadi palagan perang. Pangeran Diponegoro memperoleh dukungan luas dari warga Bagelen dan warga daerah sekitarnya. Demikian pula di era “Perang Kemerdekaan (1945- 1948)”, Bagelen (Purworejo) kembali menjadi “ajang juang’. Ada sejumlah pejuang besar, seperti Urip Sumoharjo, Ahmad Yani, Sarwo Edy Wibowo, W.R. Supratman – sang pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, merupakan tokoh- tokoh pejuang asal Bhumi Bagelen.

BACA JUGA : Leluhur Mohammad Prananda Prabowo: Bagelen, Bhumi Juang Lintas Masa (10)

Termasuk di antara mereka adalah Muhammad Ridwan Tjokrodipo, yakni adik kakek Prananda, yang pada Agresi Militer I (tahun 1947) dan II (tahun 1948) menjadi Komandan Pasukan Laskar BPRI Purworejo serta Komandan MPK Purworejo. Sarwo Edy Wibowo adalah tenan seperjuangan dan M. Ridwan Tjokrodipo.

Wilayah Bruno di Bagelen yang pada Perang Kemerdekaan (1945-1948) menjadi markas persembunyian para pejuang kemerdekaan, selama setahun (1948-1949 pernah dijadikan sebagai Ibukota dari Provinsi Jawa Tengah “Dalam Pelarian”, lantaran saat itu Semarang dikuasai Belanda.

Gubernur Provinsi Jawa Tengah kala itu, yaitu KRT Wongso Nagoro, bertempat tinggal di rumah Dul Wahid, yakni warga Desa Kembangan. Dengan mendapat dukungan dari “Pemerintahan Militer” masa Perang Kemerdekaan II. Di sini ditempatkan satu batalyon TNI — yang membawahi dua peleton dan empat kompi pasukan, dibawah pimpinan R. Sroehardoyo.

Sejarah juang dari masa ke masa di daerah Bagelen (Purworejo) menjadi cukup alasan untuk mempredikati Bagelen (Purworejo) sebagai “bhumi juang lintas masa”.

D. Ibarat “Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya”

Mutiara kata bilang “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Pohon buah-buahan, yang buah darinya bermanfaat bagi khalayak. Buahnya jatuh lantaran telah masak di bawah atau di sekitar tempat tumbuh pohon (taru, wreksa) tersebut, ibarat itu mengandung pesan bahwa suatu perbuatan baik (sudharmma) ibarat “pohon buah (pala-wreksa/taru)”, yang buah (pala) -nya pada waktunya jatuh di bawah atau di sekitarnya. Pohon yang baik dan berguna menghasilkan buah yang baik.

Selanjutnya, buah kebaikan bakal memberi kebaikan pula bagi pihak lain. Apabila kata mutiara kata itu dihubungkan dengan konsep “sanak keturunan (genealogis)”, bisa dibilang bahwa orang baik berpotensi menurunkan orang yang baik pula. Demikian pula kebaikan dari orang yang baik memberi kebaikan pada warga masyarakat lain di sekitarnya.

Leluhur Prananda adalah orang-orang yang baik, bahkan cukup alasan untuk dinyatakan sebagai “tokoh”. Paling tidak adalah tokoh- tokoh penting di daerah Purworejo (konon “Bagelen”) di masa lalu. Sebut saja, adik dari kakeknya (Dr. Aris Dadi Tjokrodipo), yaitu Dr. Muhammad Ridwan Tjokrodipo merupakan eksponen Pejuang Angkatan 45. Ayahnya pun adalah “pejuang”, tepatnya “pejuang medikal”, utamanya dalam pemberantasan virus ganas Frambusia tahun 1950-an.

Sebagaimana adik dari kakeknya, yang antara tahun 1947-1948 berjuang secara militer, ayah Prananda gugur dalam menjalankan tugas dinas militer pada tahun 1970. Pada peristiwa yang lebih awal, yaitu ketika terjadi Perang Jawa pada tahun 1825-1830, sanak keturunan Tumenggung Tjokrodipo turut bertempur di palagan juang Bagelen pada pihak Pangeran Diponegoro.

Semoga, sebagaimana bunyi dan makna dari mutiara kata “buah jatuh tak jauh dari pohon- nya” itu, Mohammad Prananda Prabowo yang dari garis ayahnya adalah orang-orang baik. Para tokoh yang konon telah kontribusikan sumbangsihnya bagi khalayak, kini dan kelak Prananda pun tampil ke depan sebagaimana para pendahulunya. Papa kabhuktihi (moga membuahkan kebuktian), Aamin.(Tim Nusadaily.com)

- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR

AnyFlip LightBox Embed Demo

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

Lakon Dewi Sri Boyong, Asa Bangkit dari Keterpurukan Dampak Pandemi

Pagelaran Wayang Kulit HUT ke-20 Kota Batu NUSADAILY.COM-KOTA BATU- Pementasan wayang kulit digelar Kota Batu dalam rangkaian peringatan hari jadi Kota Batu. Tepat di tanggal...