Senin, November 29, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaLifestyleHealthPsikolog: Peka Terhadap Tanda Bisa Bantu Cegah Bunuh Diri

Psikolog: Peka Terhadap Tanda Bisa Bantu Cegah Bunuh Diri

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si, Psikilog mengatakan tidak semua orang yang melakukan tindakan bunuh diri memiliki tanda khusus, oleh karenanya masyarakat diharapkan peka dengan keadaan sekitar agar dapat melakukan pencegahan.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Lulusan fakultas psikologi Universitas Gadjah Mada ini mengatakan sangat penting untuk mengamati sikap dan perilaku seseorang yang sedang mengalami depresi atau masalah kesehatan jiwa lainnya. Meski tidak memiliki tanda khusus, biasanya ada kata-kata atau pesan yang disampaikan secara tersirat.

BACA JUGA: Peneliti: Tindakan Bunuh Diri Dapat Menular

“Bisa dari kata-katanya, pesan-pesannya, mungkin untuk sebagian orang bisa terlihat dari penampilan yang tidak bersemangat. Tapi tidak selaku seperti itu, tapi dari sikap dan perilaku, keluhan-keluhannya perlu kita perhatikan,” ujar Dr. Gamayanti dalam diskusi virtual “Hari Pencegahan Bunuh Diri” pada Sabtu (11/9).

Menurut Dr. Gamayanti, saat seseorang menunjukkan tanda adanya keinginan untuk bunuh diri, maka harus direspon dengan serius. Sebab, bantuan dari orang terdekat dapat berguna untuk pencegahan.

BACA JUGA: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental saat Isolasi Mandiri

“Ada tanda-tanda memang tapi tidak berarti orang itu pasti mau bunuh diri. Namun perlu bahkan harus direspon dengan serius, sekecil apapun tanda itu perlu dan harus direspon dengan serius,” kata Dr. Gamayanti.

Dr. Gamayanti mengatakan rata-rata orang yang melalukan bunuh diri selalu merasa kesepian, tidak berguna, lelah dengan kehidupan, putus asa, tidak ada yang dukung atau peduli, merasa dijauhi dan tertekan.

BACA JUGA: Bangun Pagi Baik untuk Kesehatan Mental

Oleh karenanya, seseorang yang mengalami gangguan psikologis butuh teman untuk diajak bicara, yang mau mendengarkan tanpa menghakimi dan menenangkan.

“Cara kita melakukan pencegahannya dengan mengajaknya berbicara, mendengarkan, ditenangkan dan pelan-pelan diajak untuk menguraikan masalahnya,” ujar Dr. Gamayanti.

BACA JUGA: Apa Bedanya Rasa Sedih Biasa dengan Gangguan Mental?

Sementara itu, Dr. Gamayanti menyebutkan seseorang yang berisiko melakukan tindakan bunuh diri adalah individu yang mengalami masalah psikologis berat atau gangguan jiwa (depresi) karena ada predisposisi kerentanan, memiliki masalah hubungan awal yang tidak harmonis, mengalami kekerasan, perundungan, trauma atau diskriminasi, mengalami tekanan hidup berat, minim dukungan sosial, adanya anggota keluarga yang bunuh diri serta mudah mendapatkan alat bunuh diri.(mic)

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR