Kamis, Oktober 21, 2021
BerandaLifestyleHal yang Bisa Dilakukan Korban Kebocoran Data Siber

Hal yang Bisa Dilakukan Korban Kebocoran Data Siber

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Pengamat keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya berpesan agar korban kebocoran data tidak lagi menggunakan data digitalnya sebagai dokumen, pelengkap maupun credentials.

“Ketika data mengalami kebocoran, ya pengguna yang jadi korban sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi. Dia cuma bisa berdoa pada Tuhan Yang Maha Esa agar datanya dia tidak disalahgunakan. Lalu ke depannya harus seperti apa? Ya paling korban itu harus berhati- hati untuk kejadian serupa. Karena sudah tahu datanya bocor dan mungkin dieksploitasi, jangan digunakan lagi untuk credentials ya,” kata Alfons dikutip dari Antara,Selasa.

BACA JUGA: Anggota DPR: Polisi Usut Dugaan Kebocoran Data Kependudukan

Ketika data sudah mengalami kebocoran di dunia maya, tidak akan ada jaminan data tersebut dapat diselamatkan atau kembali terlindungi. Namun, pengguna yang merasa dirugikan bisa mengajukan tuntutan ke jalur hukum kepada pengelola data yang tidak bertanggung jawab.

BACA JUGA: Kominfo Panggil Bos BPJS Kesehatan Terkait Kebocoran Data 279 Juta Penduduk

Kasus kebocoran data kini semakin berbahaya karena data yang bocor tersebut dapat terkesploitasi dan bisa berujung pada kejahatan siber.

Ada beberapa kejahatan siber yang mungkin anda alami. Diantaranya, akun anda digunakan untuk pinjaman daring ilegal oleh peretas dan menjadi target penipuan telepon atau phising. Tidak hanya itu data anda juga bisa disalah gunakan untuk menipu korban lainnya untuk mendapatkan data baru.

“Dalam kasus kebocoran data. Pemilik data selalu jadi korban, sementara pengelola yang gagal melindungi data cuma dapat malu. Mereka juga jadi tahu bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk menjaga data tetap aman. Dalam kasus ini, pemilik data yang tereksploitasi dan mengalami kerugian. Ia bisa menuntut tanggung jawab kepada pengelola data,” ujar Alfons.

BACA JUGA: Kominfo Investigasi Dugaan Kebocoran Data eHAC

Kebocoran Data eHAC

Sebelumnya, pada Selasa beredar laporan dugaan kebocoran 1,3 juta data pada eHAC. Data-data yang bocor tidak hanya sekadar data yang ada di KTP, tapi juga sampai menyentuh data hasil tes COVID-19, paspor, data rumah sakit dan klinik yang telah melakukan pengetesan pada pengguna, hingga data pembuatan akun eHAC.

eHAC merupakan aplikasi milik Kementerian Kesehatan yang berguna sebagai kartu verifikasi, kontrol kewaspadaan dan syarat yang perlu dipenuhi pelaku perjalanan di tengah pandemi COVID-19.

BACA JUGA: Tips Melacak Kebocoran Data Akun Medsos

Dugaan kebocoran data tersebut terjadi karena pembuat aplikasi menggunakan database Elasticsearch yang tidak memiliki tingkat keamanan yang rumit sehingga mudah dan rawan diretas.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) telah menonaktifkan database tersebut terhitung sejak 24 Agustus 2021, dua hari setelah VPN Mentor menghubungi BSSN. Kementerian Kesehatan pun menyebutkan data yang diduga mengalami kebocoran itu merupakan aplikasi eHAC yang lama yang tidak lagi digunakan sejak Juli 2021.

Demi kenyamanan dan keamanan lebih optimal, para pengguna aplikasi eHAC versi lama dan belum terhubung dengan aplikasi pedulilindungi.id diminta untuk menghapus akun dan aplikasi tersebut dari gawai.

Alfons berharap Pemerintah bisa berkaca dari kejadian kebocoran data yang berkali- kali terjadi dari institusi pemerintah dan mulai bisa memperbaiki paradigma tentang pentingnya menjaga data milik publik secara daring dengan lebih baik lagi.(mic)

- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img

BERITA KHUSUS

@nusadaily.com

Akhir-akhir ini Kota Malang panas banget nih, ngadem dulu yuk🍦🍦 ##tiktoktaiment

♬ Happy Ukulele - VensAdamsAudio

LIFESTYLE

Polda Metro Periksa Rachel Vennya Hari Ini

0
NUSADAILY.COM - JAKARTA - Penyidik Polda Metro Jaya berencana memeriksa ​selebgram Rachel Vennya terkait dugaan kabur dari isolasi di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet...