Senin, Januari 24, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaLifestyleEntertainmentFilm Diharap Bisa Tingkatkan "Awareness" Isu Sosial

Film Diharap Bisa Tingkatkan “Awareness” Isu Sosial

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Penulis dan sineas Indonesia Djenar Maesa Ayu berharap film- film Indonesia bisa menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran (awareness) akan isu- isu sosial yang terjadi di sekitar.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Film terbaru yang ia bintangi, “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”, salah satunya, menyinggung soal toxic masculinity dan mengusung tema kisah cinta tragis di dunia yang maskulin; berlatar di tahun 1980-an.

BACA JUGA: Pengalaman di Teater Bantu Reza Rahardian Dalami Peran di Film

“Terlepas dari apakah setting ini berada di tahun ’80-an atau tidak, saya yang berperan sebagai Rona Merah di sini rasanya menjadi… bittersweet. Saya sangat mengagumi karya-karya Eka Kurniawan (sastrawan), saya sangat mengagumi Edwin (sutradara), dan bahagia bisa bekerja sama dengan banyak kawan film lainnya,” kata Djenar dalam jumpa pers di Jakarta, dikutip Kamis.

“Tapi, ketika memerankan langsung, saya merasakan bahwa segala sesuatu — represi — itu bukan hal yang baik dan tidak akan pernah baik. Ini adalah tema yang ingin diusung Eka Kurniawan dari awal. Energi inilah yang diteruskan oleh Edwin lewat filmnya,” ujarnya menambahkan.

BACA JUGA: Suara Menghanyutkan Dinda Kirana dalam “Write Me A Love Song”

Edwin, sebelumnya mengatakan bahwa kejantanan adalah tolok ukur kelelakian. Budaya toxic masculinity memaksa lelaki untuk tidak terlihat lemah dan masih sangat terpampang di Indonesia hari ini, di masyarakat yang seharusnya kini lebih terbuka pikirannya dan demokratis ketimbang di era 80an/90an.

“Saya melihat Indonesia berusaha keras mencoba untuk mengatasi rasa takutnya akan impotensi. Ketakutan yang membawa kita kembali ke budaya kekerasan yang dinormalisasi,” kata Edwin.

BACA JUGA: Noui Bawa Sentuhan Rap Pada “Reverie” Bersama Ariel Nayaka

Melanjutkan, Djenar mengatakan penting untuk menyoroti hal-hal yang menjadi konstruksi sosial seperti maskulinitas dan feminitas. Karena pada akhirnya membuat seseorang lebih merasa berkuasa, dan kekuasaan ini bisa melakukan apa saja untuk manipulasi orang lain.

Ia ingin hal ini tidak terjadi lagi. “Mungkin dihentikan masih susah, ini adalah perjuangan panjang kita semua. Tapi, paling tidak melalui film ini, ada awareness-nya,” kata Djenar.

BACA JUGA: Pendapat Marissa Anita Soal Cerita dan Sineas Perempuan

Ia menambahkan, “Baik di naskah (film) dan novelnya, ini adalah sesuatu yang sangat serius. Ada unsur kekerasan, politik, tapi diceritakan dengan sangat ringan, dan itu luar biasa. Harapan saya sangat besar untuk film ini, bukan hanya untuk awareness, tapi juga penonton bisa datang ke bioskop dan menjadi titik balik kita semua untuk merayakan film-film Indonesia kembali.”

Sementara itu, “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” segera tayang mulai 2 Desember di bioskop seluruh Indonesia. Film ini mendapatkan klasifikasi 17+ dari Lembaga Sensor Film, meski Palari Films mengimbau film ini untuk 18+ (Khusus Dewasa).(mic)

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com Nadzira Shafa sempat hamil anak Ameer Azzikra #tiktoktaiment ♬ Filtered Light - Nik Ammar / Mike Reed