Ketika Warga Dipaksa Tonton Eksekusi Mati di Korut

"Pihak berwenang mengatakan, 'Mereka yang menonton atau mendistribusikan film dan drama Korea Selatan, dan mereka yang mengganggu ketertiban sosial dengan membunuh orang lain, tidak akan diampuni dan akan dihukum dengan hukuman mati maksimum," kata warga yang ketakutan tersebut, seperti dikutip Radio Free Asia.

Ketika Warga Dipaksa Tonton Eksekusi Mati di Korut

NUSADAILY.COM – PYONGYANG - Seorang warga menceritakan ketakutannya saat pemerintah Korea Utara memaksa masyarakat menonton eksekusi mati dua remaja penyebar konten film Korea Selatan.

Warga Kota Hyesan yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan saat eksekusi berlangsung, pihak berwenang menyerukan bahwa siapapun yang menonton maupun menyebarkan film dan drama Korea Selatan "tidak akan diampuni dan akan dihukum mati maksimal".

"Pihak berwenang mengatakan, 'Mereka yang menonton atau mendistribusikan film dan drama Korea Selatan, dan mereka yang mengganggu ketertiban sosial dengan membunuh orang lain, tidak akan diampuni dan akan dihukum dengan hukuman mati maksimum," kata warga yang ketakutan tersebut, seperti dikutip Radio Free Asia.

Dia mengatakan eksekusi ngeri itu dilakukan di sebuah lapangan terbang di Hyesan pada Oktober lalu. Para warga diminta berkumpul di lokasi dengan dua remaja itu ditempatkan tepat di hadapan mereka.

"Pihak berwenang menempatkan remaja itu di depan kami, menghukum mati mereka, dan langsung menembak mereka," ujarnya.

Warga lain dari Provinsi Hamgyong Utara mengatakan kabar eksekusi itu sudah tersebar dan membuat takut publik, terutama setelah Korut memulai teror baru dengan memerintahkan agar mereka yang memiliki atau menyebarkan rekaman dan publikasi ilegal diadili secara cepat.

"Meski ada kontrol intensif dan tindakan keras untuk memberantas pemikiran dan budaya reaksioner, anak muda masih tertangkap diam-diam menonton film Korea Selatan. Jadi sekarang pihak berwenang memulai teror melalui eksekusi publik," ujar sumber kedua itu.

Dia mengatakan kedua remaja itu telah masuk dalam perangkap pemerintah yang menempatkan mata-mata di antara warga untuk melapor aksi ilegal ke polisi.

Seminggu sebelumnya, pihak berwenang Pyongyang diketahui mengadakan pertemuan publik untuk menginformasikan bahwa mereka bakal bersikap keras terhadap kejahatan yang melibatkan media asing, terutama Korea Selatan.

Korut belakangan memang makin khawatir bahwa budaya Korsel yang dipandang anti-revolusioner bakal menular ke para remaja di Korut.

Sejumlah laporan RFA selama beberapa tahun terakhir pun menunjukkan bahwa pihak berwenang secara acak menyita ponsel dan memberi hukuman keras kepada mereka yang terbukti melanggar aturan anti Korsel tersebut.

Mereka yang ketahuan menonton film asing bakal dikirim ke pusat tenaga kerja disiplin dan jika tertangkap lagi bakal dikirim ke kamp kerja paksa selama lima tahun.

Sementara itu, jika mereka ketahuan menyebarkan atau menjual film Korea Selatan, mereka bisa saja dihukum mati, tanpa melihat usia.

"Para remaja terjebak dalam jebakan kali ini," ujarnya.(han)