Ketika Unsur Jokowi Dianggap Penentu Prabowo Bisa Nyapres atau Malah ‘Busung’

"Sebetulnya yang harus dilakukan Prabowo sekarang memang Jokowi adalah satu-satunya jalan untuk memastikan dia bisa lolos, bisa dapat tiket. Caranya Jokowi menginstruksikan salah satu Ketua Umum parpol koalisi untuk berkoalisi dengan Prabowo atau Gerindra," ujarnya. Hendri menyatakan saat ini juga belum ada partai yang bisa dikunci oleh Jokowi agar mau mengusung Prabowo. Namun, setidaknya ada tiga partai yang bisa dirangkul, yakni Golkar, PPP, dan PAN.

Ketika Unsur Jokowi Dianggap Penentu Prabowo Bisa Nyapres atau Malah ‘Busung’

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Koalisi Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam menghadapi Pilpres 2024 masih buntu. Kedua partai ngotot menyodorkan ketua umumnya masing-masing sebagai calon presiden.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengatakan partainya dan Gerindra belum bersepakat soal capres yang bakal diusung bersama.

"Belum [sepakat]. Kita akan duduk berdua, karena sampai detik ini masing-masing ngotot jadi capres," kata Cak Imin di kantor DPP PKB, Senin (21/11).

Sekretaris Jenderal Gerindra Ahmad Muzani mengakui kedua partai belum memutuskan sosok capres-cawapres. Sementara Gerindra telah mendeklarasikan Prabowo sebagai capres 2024.

Menurut Muzani, keputusan capres dan cawapres Koalisi Indonesia Raya berada sepenuhnya di tangan Prabowo dan Cak Imin.

Belum adanya kesepakatan antara Gerindra dan PKB soal sosok capres dinilai berpotensi membuat koalisi ini bubar jalan.

Pengamat Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio mengatakan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dalam posisi dilematis. Ia tengah memikirkan apakah dirinya dapat maju atau tidak dalam kontestasi Pilpres 2024.

"Kondisi saat ini kan sangat sulit buat Prabowo sebetulnya untuk memastikan dia bisa maju atau tidak. Pertama, urusan partai politik, karena dia harus cari teman. Kedua, urusan sejarah, urusan dia kalah terus, itu enggak mudah lho meyakinkan orang untuk bisa maju bersama dia," ujar Hendri, Selasa (22/11).

Hendri menyatakan PKB telah menjadi harapan Prabowo. Namun, kata Hendri, Cak Imin bisa melakukan manuver-manuver politik yang menguntungkan partainya.

Apabila kesepakatan tak kunjung tercapai, koalisi dua partai ini dapat gugur sebelum sampai di Pilpres.

Hendri mengatakan ada dua upaya yang dapat dilakukan Prabowo demi mengamankan tiket untuk melenggang ke Pilpres 2024. Pertama, membujuk Cak Imin untuk menjadi cawapresnya. Kedua, dibantu Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Sebetulnya yang harus dilakukan Prabowo sekarang memang Jokowi adalah satu-satunya jalan untuk memastikan dia bisa lolos, bisa dapat tiket. Caranya Jokowi menginstruksikan salah satu Ketua Umum parpol koalisi untuk berkoalisi dengan Prabowo atau Gerindra," ujarnya.

Hendri menyatakan saat ini juga belum ada partai yang bisa dikunci oleh Jokowi agar mau mengusung Prabowo. Namun, setidaknya ada tiga partai yang bisa dirangkul, yakni Golkar, PPP, dan PAN.

Mereka kini adalah partai pengusung Jokowi yang telah membuat koalisi bernama KIB (Koalisi Indonesia Bersatu). Meskipun, Hendri menilai posisi Prabowo saat ini seperti tak dapat berbuat apa-apa.

"Kalau di Jawa ya, kondisi Prabowo bisa dikatakan seperti dipangku mati, jadi enggak bisa ngapa-ngapain, dia nunggu nasib saja," katanya.

Hendri menyebut dirinya tak tahu apakah sikap Jokowi yang mendukung Prabowo benar-benar serius atau tidak.

"Tetap semangat pak Prabowo, kalau demi kebaikan biasanya jalannya sih ada saja," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno mengatakan koalisi dapat bubar apabila tak kunjung ditemukan kesepakatan antar keduanya.

Adi menilai PKB hingga saat ini masih memasang harga tinggi untuk mendorong Cak Imin sebagai jagoannya.

"Kalau Muhaimin minta capres dengan berkoalisi dengan Gerindra tentu gak rasional, misalnya dari segi kepartaian PKB kan masih di bawah gerindra. Dari elektabilitas calon Muhaimin masih di bawah Prabowo. Dua hal ini yang bisa menjelaskan PKB sekalipun ngotot minta capres berkoalisi dengan Geritndra itu gak masuk akal," jelas Adi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/11).

Adi mengatakan Prabowo dan Gerindra unggul telak dari Cak Imin dan PKB. Namun, Ia menyebut masih sangat rasional apabila PKB meminta posisi cawapres.

Namun, pada akhirnya PKB akan realistis apabila elektabilitas Cak Imin tak kunjung naik. Jika hal itu terjadi, Gerindra akan memberikan sejumlah penawaran untuk mempertahankan PKB dalam koalisi.

Adi mengatakan Gerindra memiliki sejumlah alasan untuk maju dengan PKB. Selain untuk memenuhi syarat ambang batas pencalonan, Gerindra juga membutuhkan PKB untuk menggaet massa di Jawa Timur dan Nahdlatul Ulama (NU).

"Bagi Gerindra, PKB bisa menjamin suara di Jatim dan NU solid ke Prabowo. Karena salah satu kelemahan Prabowo kan basis pemilih PKB dan Jawa Timur," kata Adi.

Namun, jika akhirnya Gerindra-PKB tetap tak bisa bersama, Adi mengatakan Prabowo dapat mulai melirik dan menjalin komunikasi dengan parpol lain. Khususnya parpol yang berada di tubuh pemerintah.

"Prabowo bisa cari partai yang lain untuk menggantikan posisi PKB, bisa ke KIB atau ke PDIP," ucapnya.

Jika demikian, hal yang mesti diupayakan Gerindra adalah menyakinkan parpol lain untuk menjalin kerja sama dengan kondisi Prabowo yang maju sebagai capres.

"Tinggal bagaimana menyakinkan partai-partai lain saja, mau menerima Prabowo sebagai capres. Karena Gerindra mengajak berkoalisi dengan siapapun tentu opsinya Prabowo capres bukan yang lain," ujarnya.

Sebagai informasi, Prabowo telah menyatakan siap untuk kembali menjadi calon presiden di Pilpres 2024.

"Ya kita lihat hasil rapimnas, tapi kalau memang saya dapat tugas, saya anggap tugas itu tugas yang suci untuk berbakti dan mengabdi kepada rakyat, tentunya harus saya terima dengan baik seandainya nanti benar-benar dicalonkan," ujar Prabowo saat dijumpai di Kantor KPU RI, Jakarta, Senin (8/8).

Diketahui, Prabowo sudah pernah menjadi peserta Pilpres pada tahun 2009, 2014 dan 2019 lalu.

Pada 2009, Prabowo menjadi cawapres mendampingi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun, kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Kemudian pada Pilpres 2014, Prabowo menjadi capres didampingi Hatta Rajasa dari PAN. Tetapi mereka kalah dari pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Prabowo kembali maju sebagai capres di Pilpres 2019 lalu. Kala itu, Ia didampingi Sandiaga Uno. Kendati demikian, Prabowo-Sandiaga mesti kalah dari pasangan Jokowi-Maruf Amin.(han)