Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat? Ini Alasan Ilmiahnya

Perasaan manusia tentang berapa lama waktu yang berlalu memiliki sifat subjektif. Perasaan tersebut mudah dipengaruhi bias yang terjadi di sekitar, suasana hati, dan apa yang dilakukan pada saat itu.

Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat? Ini Alasan Ilmiahnya
Ilustrasi perjalanan (pixabay)

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Perasaan manusia tentang berapa lama waktu yang berlalu memiliki sifat subjektif. Perasaan tersebut mudah dipengaruhi bias yang terjadi di sekitar, suasana hati, dan apa yang dilakukan pada saat itu. Perasaan subjektif tersebut salah satunya menyebabkan fenomena efek perjalanan pulang-pergi.

Sensasi yang dihasilkan dari efek perjalanan pulang-pergi ini didapat ketika perjalanan pulang terasa memakan waktu lebih sedikit ketimbang saat pergi. Efek ini utamanya terjadi ketika seseorang pergi ke suatu tempat yang tidak begitu kita kenal.

BACA JUGA: Tanah Longsor di Kabupaten Malang Ganggu Perjalanan Kereta Api

Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat?

Mengutip The Washington Post, para psikolog memiliki beberapa teori yang dapat menjelaskan alasan di balik hal ini. Salah satu alasannya yaitu karena efek perjalanan pulang-pergi memiliki kaitan dengan sikap kita dalam memperhatikan waktu itu sendiri.

Saat seseorang lebih memperhatikan berlalunya waktu, misalnya saat sedang terlambat, maka dia akan terus memeriksa jam tangan atau ponsel dan waktu terasa berlangsung lama. Namun, saat seseorang terdistraksi berbagai hal yang lebih menarik, maka waktu terasa berlalu dengan cepat.

Teori tersebut sejalan dengan adagium yang berbunyi, "Panci yang diawasi tidak pernah mendidih." Lalu ada juga pepatah lain, "Waktu berlalu ketika Anda bersenang-senang."

Hal tersebut juga mengarah kepada ide bahwa menyadari waktu saat ini dan situasi saat ini dapat memperlambat persepsi kita tentang waktu dan membuat waktu terasa lebih lama.

Alasan lainnya adalah rasa familiar. Saat menuju suatu tempat yang belum dikenal, proses berangkat terasa lebih lama, sedangkan waktu pulang terasa lebih cepat. Penyebabnya, pada waktu perjalanan pulang, kita sudah mengenali berbagai landmark. Namun, efek seperti ini mungkin tidak dirasakan pada perjalanan yang sering dilakukan sehari-hari.

Selain itu, penjelasan di atas mungkin tidak dapat menjelaskan efek perjalanan pulang-pergi secara keseluruhan.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa orang bisa merasakan efek serupa saat berada di wilayah tak dikenal. Salah satu artikel ilmiah berjudul "The Return Trip Effect: Why the Return Trip Often Seems to Take Less Time" turut menjelaskannya.

BACA JUGA: ‘Perjalanan Mengikuti Jejak Peradaban’


Penulis dalam studi tersebut menyebutkan, saat para responden sangat sering mengambil rute yang sama, maka ada ekspektasi akurat soal berapa lama waktu yang dibutuhkan. Karena itu, efek perjalanan pulang-pergi tidak dirasakan.

Maka, dapat dikatakan bahwa perasaan bahwa perjalanan pulang lebih cepat merupakan kombinasi berbagai hal dan bisa jadi ada alasan lain yang belum ditemukan para psikolog. Kendati begitu, penelitian yang ada saat ini memperjelas bahwa waktu adalah pengalaman subjektif, meregang dan menyusut tidak sesuai dengan jam.(eky)