Kenang Tujuh Hari Meninggalnya Zainol Hayat, FPK Sumenep Gelar Seruan Moral Depan Kejaksaan

Jun 9, 2024 - 10:37
Kenang Tujuh Hari Meninggalnya Zainol Hayat, FPK Sumenep Gelar Seruan Moral Depan Kejaksaan
Aksi FPK Sumenep saat menggelar aksi seruan moral di depan kantor Kejari Sumenep pada Sabtu 08/06/24, malam.

NUSADAILY.COM - SUMENEP - Front Pejuang Keadilan (FPK) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar aksi seruan moral di depan kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, Sabtu (8/6/2024) malam. Aksi seruan moral tersebut dalam rangka mengenang tujuh hari meninggalnya Zainol Hayat, warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sumenep.

 

Berdasarkan pantauan media, aksi seruan moral tersebut dibuka dengan pembacaan tahlil dan doa bersama yang diikuti puluhan massa aksi tepat di depan Kantor Kejaksaan Sumenep.

 

Koordinator Aksi FPK Sumenep, Abd. Halim mengatakan bahwa supremasi hukum di Kabupaten Sumenep harus ditegakkan. Menurutnya, saat ini tengah ramai menjadi perbincangan publik soal dugaan 'minta' uang yang dilakukan oleh oknum jaksa di Kejari Sumenep.

 

"Sebagai aparat penegak hukum (APH), seharusnya jaksa dapat menegakkan keadilan. Yaitu sesuai peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar aturan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," ucap Abd. Halim, menegaskan.

 

Akan tetapi, ada dugaan Jaksa bernama Hanis Aristya Hermawan itu justru malah mencederai aturan hukum itu sendiri. Berdasar pemberitaan, oknum jaksa itu diduga meminta uang sebesar Rp 30 juta kepada Moh. Rofi'ie, ayah dari Zainol Hayat.

 

 

"Sungguh sangat miris dan keji oknum jaksa yang melakukan pemerasan ini. Informasi yang beredar, korban rela mencari pinjaman utang untuk bisa membayar uang puluhan juta sesuai permintaan Jaksa Hanis," tegas dia, memuturkan.

 

Atas perbuatannya, Halim menjelaskan bahwa Jaksa Hanis diduga melanggar Pasal 368 KUHP tentang pemerasan. Sekaligus juga diduga melanggar Pasal 17 dan 18 UU Nomor 30 Tahun 2014, tentang larangan penyalahgunaan wewenang.

 

"Supremasi hukum harus ditegakkan. Oknum jaksa yang telah melanggar peraturan perundang- undangan harus diproses hukum. Selain itu, oknum jaksa yang melakukan pemerasan wajib dikenakan sanksi etik dengan mencabut jabatannya sebagai jaksa," tegas dia.

 

"Jika kasus ini tetap dibiarkan, maka tindakan melawan hukum itu berpotensi terjadi semakin parah," timpal Abd. Halim.

 

Pihaknya menjelaskan, jika aksi seruan moral ini, bertujuan untuk mengenang tujuh hari meninggalnya Zainol Hayat sebagai korban pemerasan oknum Jaksa. "Dalam 3x24 jam, kami meminta Kejari Sumenep menyatakan sikap terkait dugaan pemerasan oleh oknum Jaksa Hanis," tandas dia.

 

Sekadar informasi, oknum jaksa yang diduga 'minta' uang pemulus putusan hukum itu adalah Hanis Aristya Hermawan yang menjabat sebagai Kasi Pidum di Kejari Sumenep.

 

Sedangkan, korban yang diminta adalah Moh. Rofi'ie, ayah dari Zainol Hayat (20), warga binaan warga Dusun Drusah, Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Sumenep.

 

Moh. Rofi’ie menceritakan kesaksiannya soal dugaan pungli oknum Jaksa bernama Hanis yang meminta sejumlah uang sebesar Rp 30 juta untuk meringankan masa tahanan anak kesayangannya itu.

 

Bahkan, nominal uang tersebut sempat terjadi tawar menawar antara pihak keluarga korban dan Jaksa Hanis. Dari hasil tawar menawar tersebut, berhasil disepakati yang semula Rp 30 juta menjadi Rp 25 juta dan hanya mampu menyerahkan uang sebesar Rp 22 juta. (nam/wan)