Kajoetangan Heritage

Malang merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang mempunyai banyak julukan. Malang sebagai kota pendidikan, kota pariwisata, kota sejarah, kota bunga, Paris van Java, dan masih banyak lagi. Julukan ini tak lepas dari peran kota Malang. 

Jun 10, 2024 - 06:50
Kajoetangan Heritage
Esa Putra Bayu Gusti Gineung Patridina,  M.A.

Oleh: Esa Putra Bayu Gusti Gineung Patridina,  M.A.

 

Malang merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang mempunyai banyak julukan. Malang sebagai kota pendidikan, kota pariwisata, kota sejarah, kota bunga, Paris van Java, dan masih banyak lagi. Julukan ini tak lepas dari peran kota Malang. 

 

Sebagai kota pariwisata, Malang mempunyai tempat-tempat wisata yang sangat menarik. Sebagai kota sejarah, Malang mempunyai peninggalan atau tempat bersejarah yang sangat banyak. Sebagian tempat bersejarah difungsikan sebagai objek pariwisata, seperti Kajoetangan Heritage.

 

Kajoetangan heritage awalnya adalah tempat hunian. Pemerintah Kolonial Belanda mengalihfungsikan menjadi pusat perdagangan. Saat itu, Malang berstatus sebagai Gemeente (kotamadya) yang dipimpin oleh petinggi Belanda. Waktu itu, Malang diberi lambang dua ekor singa Belanda (De Nederlansche Leeuw) untuk menunjukkan Malang merupakan bagian Kerajaan Belanda.

 

Puncak kejayaan Kajoetangan di tangan Belanda terjadi pada tahun 1930–1942. Tahun 1942 tepatnya 8 Maret 1942 pusat pertokoan di wilayah Kajoetangan diambil alih oleh Jepang. Setelah pascakemerdekaan (1950), banyak pertokoan di Kajoetangan yang diambil alih oleh pedagang Tionghoa.

 

Satu dekade terakhir, kawasan Kajoetangan tidaklah segemerlap dulu lagi. Masih terdapat banyak bangunan yang sebagian besar sudah tidak aktif dan dibiarkan terbengkalai. Satu-satunya toko yang berdiri sejak masa kolonial dan konsisten aktif hingga kini adalah Toko Oen Malang. Toko ini merupakan cabang dari Toko Oen yang ada di Semarang.

 

Toko Oen di Malang berdiri sejak 1936 dan didirikan oleh Oen Tjoen Hok dan Liem Gien Nio. Akan tetapi, berbeda dari Toko Oen Semarang, toko Oen Malang sudah beralih kepemilikan semenjak 1990. Saat ini dimiliki oleh Danny Mugianto. Toko Oen resmi menjadi Cagar budaya pada 8 Januari 2019. Hal ini disebabkan Toko Oen masih mempertahankan bentuk asli dan arsitekturnya tidak berubah. 

 

Semenjak tahun 2018 lalu, Kajoetangan dikelola oleh pemerintah daerah Kota Malang dengan cara menata, mendirikan Kampung Kajoetangan Heritage dan memperindah jalanan Jendral Basuki Rahmat sebagai tempat pariwisata.

 

Pengelolaan kawasan ini perlu dilakukan karena mempunyai nilai penting. Pertama, sebagai upaya pengelolaan bangunan kuno yang berpotensi menjadi cagar budaya. Pelestarian dan pengembangan cagar budaya sangat penting karena menjadi bagian integral dari kebudayaan secara menyeluruh.

 

Kedua, sebagai identitas budaya. Pengelolaan bangunan bersejarah merupakan bentuk perlindungan identitas budaya. Bangunan bersejarah sebagai sumber pengetahuan mengenai sejarah Kota Malang baik dalam hal arsitektur atau tata kota.

 

Ketiga, sebagai peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata. Keberadaan tempat pariwisata membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

 

Beberapa pihak menyatakan bahwa keberadaan bangunan tua atau kuno dapat menghambat pengembangan dan pembangunan menuju kota modern. Akan tetapi, pengelolaan secara tepat justru bisa melindungi bangunan bersejarah dan mendorong perekonomian lokal. Sebagai contoh, pengalihfungsian kawasan Kajoetangan menjadi pusat pariwisata budaya dapat mengembangkan perekonomian masyarakat Kajoetangan

 

Pengembangan pawisata budaya dapat menggunakan Sustainable Tourism Development. Menurut UNWTO (United Nations World Tourism Organisation), Sustainable Tourism Development berlaku untuk semua bentuk pariwisata. Prinsip utamanya mengacu pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya. Keseimbangan antara tiga aspek tersebut harus dijaga agar pariwisata terus berkelanjutan.

 

Sustainabel Tourism Development sudah dipraktikkan di berbagai daerah yang memiliki peninggalan budaya atau sejarah di tengah kota. Kota Tua Jakarta dan Kota Tua Semarang merupakan contoh penerapan Sustainabel Tourism Development. Bangunan tua bersejarah difungsikan sebagai inventaris budaya dan pengembangan ekonomi masyarakat sekitar.

Penggunaan Sustainable Tourism Development diharapkan dapat mempertahankan atau bahkan mengembalikan atmosfer Malang tempo dulu. Kota Malang yang dijuluki sebagai Paris van Java oleh bangsa Belanda. Malang yang memiliki lingkungan alam yang nyaman, iklim yang sejuk, penduduk yang ramah, dan kaya dengan bangunan kolonial.

 

Selain memertahankan identitas lokal yang bisa memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal, Kampung Kajoetangan juga tidak menghambat pembangunan dan modernisasi Kota Malang.

 

Saat ini pengembangan Kampung Heritage Kajoetangan mungkin masih jauh dari kata sempurna. Beberapa bangunan kurang layak sehingga kurang menarik investor untuk mengembangkan bisnis di daerah tersebut. Selain itu, juga ada kekhawatiran bangun tersebut roboh dan membahayakan pengunjung.

Kampung Heritage Kajoetangan mulai hidup kembali, walaupun masih terdapat bangunan kosong. Selain itu, terdapat beberapa bangunan franchise modern di kawasan Kajoetangan. Pemerintah daerah hendaknya lebih selektif dalam memilih tenant yang ada di sepanjang Jalan Jenderal Basuki Rahmat Malang. Alternatif lainnya adalah melakukan renovasi bangunan atau membangun bangunan baru di kawasan tersebut agar seusai temanya, yaitu menggunakan arsitektur Indische atau Jengki.

Kemeriahaan Kampung Heritage Kajoetangan dapat dilakukan dengan mengadakan festival. Festival Malang Tempo dulu yang dilakukan setiap memperingati hari jadi Kota Malang. Seluruh kegiatan bertema Malang pada masa lalu.

Peserta Malang Tempo dulu, baik penjual maupun pengisi acara memakai kostum masyarakat Malang pada masa lalu. Kendaraan yang digunakan juga sepeda ontel tempo dulu. Makanan yang dijual adalah jajanan masa lalu, seperti: gulali, es gandul, dan sebagainya.

Pengunjung festival Malang Tempo dulu hadir dengan menggunakan kostum tempo dulu. Segenap masyarakat Malang dapat mengenang Malang sekian tahun yang lalu. Turis domestik maupun mancanegara dapat melihat kembali kehidupan Malang di masa lalu.

 

Esa Putra Bayu Gusti Gineung Patridina,  M.A. adalah Dosen Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Surabaya.

 

Editor: Dr. Indayani, M.Pd., dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan Pengurus Pusat Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).