Pekerja Migran Banjiri Asrama Haji Sukolilo, Khofifah Sidak Langsung

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM- SURABAYAAsrama Haji Sukolilo, Surabaya dibanjiri Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai negara. Pada Rabu (5/5/2021), gelombang kedatangan terus mengalir ditaksir mencapai 14 ribu orang.

Baca Juga

Puluhan ribu PMI yang dikarantina dan menjalani testing di Aseama Haji Sukolilo, bukan semuanya berasal dari Jawa Timur, ada dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Kalimantan.

Khofifah , Gubernur Jatim langsung menemui para PMI di sana. Bahkan Khofifah mengajak dialog dengan para juru masak dapur umum Tagana Dinsos Jatim.

Untuk kapasitas tempat tidur asrama haji Sukolilo, langsung terlihat enuh sesak. Sampai-sampai ruang Musdalifah yang biasanya dipakai untuk acara pertemuan “disulap” menjadi ruang tidur dengan menyiapkan ratusan bed.

Sejumlah PMI saat ditanya mengaku terpaksa pulang dari Brunei Darussalam karena kontrak kerjanya habis atau berakhir tahun ini setelah 10 tahun bekerja di Brunei.

“Tidak ada perpanjangan, kalau balik ke sana lagi susah,” ujar Syawal saat disidak Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa usai menggelar rapat koordinasi (rakor) PMI di salah satu ruang pertemuan asrama Haji Sukolilo.

Dia mengaku tiba di Surabaya pada 2 Mei 2021 dan telah dites kesehatan dan swab PCR. Hasilnya negatif. Dari Brunei Darussalam langsung terbang menuju Juanda Surabaya.

Selanjutnya, tiba di Indonesia dia harus mengisi data dan ditest Swab PCR dan karantina di asrama haji Sukolilo Surabaya.

“Tunggu hasilnya keluar, baru boleh balik,” akunya dengan logat Melayu kental.

Keluhkan Prosedur yang Cukup Lama

Hanya saja dja mengeluh prosedur yang cukup lama karena datang bersama dengan gelombang PMI asal Jatim. Kendati hasil tes menunjukkan negatif, namun ia masih harus menanti kepastian waktu pulang.

“Saya juga bingung karena harus pulang dengan biaya sendiri,” ujarnya.

PMI lain asal Jateng lainnya, Kartini bernasib sama. Perempuan 46 tahun itu, akan pulang bersama 14 kawan lainnya dari Pamulang, Kendal, dan Jepara. Sudah empat hari mereka berada di Asrama Haji.

Namun, tangis haru seketika pecah. Saat diajak dialog dengan Gubernur Khofifah, Kartini mendapat rejeki uang Rp 2 juta dari Gubernur Khofifah. Uang tersebut, sebagai biaya ganti sewa travel pulang ke daerah asalnya.

“Bu Gubernur tadi mengganti biaya bayar travel saya sebesar Rp 2 juta. Terima kasih bu gubernur, karena bisa membantu kepulangan kita dari luar negeri. Sehingga, nanti saya bisa bertemu dengan keluarga,” tuturnya.

Kartini merupakan PMI di Malaysia. Dia sudah empat tahun bekerja di Negeri Jiran itu.

“Baru sekarang ini saya pulang. Hasil test sudah keluar negatif,” tukasnya.

Koordinasi dengan Dinas Perhubungan Jateng

Saat sidak, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa segera meminta Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim Nyono agar segera melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan Jateng terkait prosedur penjemputan PMI dari luar Provinsi Jatim.

Berdasarkan aturan para PMI asal luar provinsi harus pulang dengan biaya sendiri. Khofifah juga mendengarkan keluhan para perantau tersebut.

“Sabar ya bu, kondisi ini tidak hanya dialami Jatim dan Jateng tapi seluruh Indonesia,” kata Khofifah.

Khofifah meminta Kadinkes Jatim memberikan surat keterangan dan Kadishub Jatim agar membekali surat perjalanan para PMI asal luar provinsi Jatim, karena besok 6 Mei 2021 larangan mudik mulai berlaku.

Sebab, tidak semua PMI luar Jatim mendapat bantuan seperti rombongan Kartini.

“Saya minta Kadishub melakukan koordinasi lintas Provinsi,” tandasnya.

Saat sidak Khofifah memeriksa ruangan dari ujung ke ujung Asrama Haji. Memastikan rombongan PMI diberi layanan kesehatan dan logistik.(ima/aka)