Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni Kena Sakit Aneh, Ini Kisahnya

  • Whatsapp
Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni
Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni saat memberikan keterangan tentang sakit anehnya yang dialami.Foto: Riyanto/nusadaily.com
banner 468x60

NUSADAILY.COM-PONOROGO- Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni kena sakit aneh. Ia jatuh sakit selama 23 hari. Semestinya kembali menjabat usai cuti Pilkada pada tanggal 5 Desember 2020. Namun baru hari senin 28 Desember bisa kembali menjabat setelah dinyatakan sembuh oleh dokter.

BACA JUGA: Sakit 23 Hari Ipong Muchlissoni Kembali Jabat Bupati Ponorogo, Ini Fokusnya – Nusadaily.com

Baca Juga

BACA JUGA: Wahai Milenial, Apakah Kalian Kenal Tokoh-Tokoh Seni Reog Ini? – Noktahmerah.com

BACA JUGA: Semua Akan Dangdut Pada Waktunya, Sodara – Dangdutpro.com

BACA JUGA: Sakit 23 Hari Ipong Muchlissoni Kembali Jabat Bupati Ponorogo, Ini Fokusnya – Imperiumdaily.com

Usai acara penyambutan kembali berdinas di Pringgitan. Kepada nusadaily.com Ipong mengatakan, bahwa selama sakit ia merasakan sekujur tubuhnya lemas. Dan merasakan sakit di setiap tulang serta persendiannya saat itu. Ia sempat mengira terpapar COVID-19.

“Saya mengira COVID-19, namun setelah diperiksa (tes swab) di RS Unair dan RS Dokter Iskhak Tulungagung hasilnya negatif,” terang Ipong, Senin (28/12/2020)

Ipong Sakit Parah Jelang Pilkada

Lebih lanjut Bupati Ipong mengatakan, pada tanggal 4 Desember Ipong harus dirujuk ke ICU. Karena kondisinya yang semakin parah. Bahkan menurutnya, jelang Pilkada Ponorogo 2020 yaitu tanggal 7 hingga 9 Desember 2020 kondisinya semakin kritis. Bahkan harus masuk ruang khusus tanpa satupun keluarga yang boleh menungu.

“Pada tanggal 9 Desember, saya sudah merasa tidak ada harapan. Seperti rasanya sudah di ujung maut. Saat itu saya hanya bisa berdoa, jika nyawa Kau ambil saya sudah siap dan ikhlas ya Allah,” kenangnya.

Pada jam 04.00 WIB, lanjutnya, dokter dan perawat mengabarkan berdasarkan indikator-indikator yang ada sudah dinyatakan sehat. Lalu pada tanggal 13 Desember 2020 sudah diperbolehkan pulang.

“Sepulang dari rumah sakit, saya lebih memilih melakukan isolasi mandiri di rumah pribadi, Pasar Pon Kecamatan Babadan. Dan selama 6 hari, sudah kembali normal,” terangnya.

Itu karena selama isolasi mandiri melengkapi dengan alat tes kesehatan. Mulai cek gula darah, kolesterol, asam urat, tensi, saturasi oksigen dan sebagainya.

”Sakit saya ini aneh, karena sebelumnya saya tidak memiliki riwayat kolesterol dan gula darah. Hasil swab juga negatif COVID-19 dari beberapa rumah sakit. Silahkan masyarakat nilai sendiri sakit saya tersebut apa, ” pungkasnya.(nto/cak)