Minggu, Juli 3, 2022
BerandaInternationalPeneliti di Inggris Ciptakan Tomat yang Mengandung Banyak Vitamin D

Peneliti di Inggris Ciptakan Tomat yang Mengandung Banyak Vitamin D

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Sekitar satu miliar orang di seluruh dunia kekurangan vitamin D. Kekurangan nutrisi ini meningkatkan risiko kanker, penyakit kardiovaskular, dan penyakit neurodegeneratif.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

BACA JUGA: Peneliti di Inggris Ciptakan Bahan Bakar Baru, Hidrogen Surya

Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti di Inggris telah menggunakan teknik bioteknologi makanan untuk membuat tomat yang kaya vitamin D. Secara khusus, mereka memodifikasi gen dalam tomat untuk mengakumulasi sejumlah besar pro-vitamin D3 dan mengubah zat tersebut menjadi vitamin D saat terkena sinar ultraviolet.

BACA JUGA: Peneliti Spanyol Gunakan Limbah Zaitun untuk Mengembangkan Bahan Bakar

Para peneliti menemukan bahwa tomat berukuran sedang yang diedit gen mengandung jumlah pro-vitamin D3 yang sama dengan dua kuning telur atau sekaleng tuna. Kedua makanan ini direkomendasikan untuk jumlah minimum vitamin D yang dibutuhkan. Untuk mencapai ini, para ilmuwan menggunakan alat pengeditan gen CRISPR/Cas9.

BACA JUGA: Peneliti Jepang Kembangkan Sumpit Listrik yang Bisa Tingkatkan Rasa Asin

BERITA KHUSUS

Berkunjung ke Kota Batu, Sandiaga Uno Buka Workshop Minuman Kekinian Pelaku UMKM

NUSADAILY.COM-KOTA BATU – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno berkunjung ke Balai Kota Among Tani, Kota Batu (Rabu, 29/6). Sandiaga membuka acara...

BERITA TERBARU

Polisi Imbau Pemotor Tak Pakai Sandal Jepit Saat Berkendara, Kalau Pengemudi Mobil Gimana?

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Beberapa waktu lalu muncul imbauan dari polisi kepada pengendara sepeda motor agar tidak menggunakan sandal jepit saat berkendara. Alasan dilarang...

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Sekitar satu miliar orang di seluruh dunia kekurangan vitamin D. Kekurangan nutrisi ini meningkatkan risiko kanker, penyakit kardiovaskular, dan penyakit neurodegeneratif.

BACA JUGA: Peneliti di Inggris Ciptakan Bahan Bakar Baru, Hidrogen Surya

Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti di Inggris telah menggunakan teknik bioteknologi makanan untuk membuat tomat yang kaya vitamin D. Secara khusus, mereka memodifikasi gen dalam tomat untuk mengakumulasi sejumlah besar pro-vitamin D3 dan mengubah zat tersebut menjadi vitamin D saat terkena sinar ultraviolet.

BACA JUGA: Peneliti Spanyol Gunakan Limbah Zaitun untuk Mengembangkan Bahan Bakar

Para peneliti menemukan bahwa tomat berukuran sedang yang diedit gen mengandung jumlah pro-vitamin D3 yang sama dengan dua kuning telur atau sekaleng tuna. Kedua makanan ini direkomendasikan untuk jumlah minimum vitamin D yang dibutuhkan. Untuk mencapai ini, para ilmuwan menggunakan alat pengeditan gen CRISPR/Cas9.

BACA JUGA: Peneliti Jepang Kembangkan Sumpit Listrik yang Bisa Tingkatkan Rasa Asin

Secara khusus, para peneliti menghambat konversi pro-vitamin D3 menjadi sejenis kolesterol, memungkinkan pro-vitamin D3 terakumulasi dalam jumlah besar di daun dan buah tomat tanpa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

BACA JUGA: Peneliti Temukan 6 Spesies Katak Mini Baru di Meksiko

Dilansir dari cankaoxiaoxi, vitamin D adalah nutrisi penting bagi kesehatan manusia. Ini meningkatkan penyerapan kalsium tubuh dan membantu mencegah osteoporosis. Sangat penting untuk gerakan otot dan otak untuk mengirimkan informasi melalui saraf ke seluruh tubuh.

BACA JUGA: Keseharian Cassandra Angelie, Jago Masak Karena Tinggal Sendiri

Vitamin D juga memainkan peran penting dalam pertahanan sistem kekebalan tubuh terhadap patogen. Kekurangan nutrisi ini dapat menyebabkan penyakit seperti kanker payudara dan penyakit Parkinson, serta membuat orang rentan terhadap penyakit menular. Dalam hal ini, kekurangan nutrisi ini merupakan faktor risiko eksaserbasi (perburukan gejala) COVID-19.

Teresa Altabella, profesor fisiologi tanaman di Universitas Barcelona, ​​​​Spanyol, mengatakan,"Hasil dari pekerjaan ini solid dan mudah diterapkan. Kendala utama adalah ketika Eropa memutuskan apakah pengeditan gen dengan bantuan CRISPR/Cas9 adalah transgenik atau tidak."(nd3/lna)