Senin, Juni 27, 2022
BerandaInternationalKorut Luncurkan 2 Rudal Jelajah, Peluncuran Kelima Tahun Ini

Korut Luncurkan 2 Rudal Jelajah, Peluncuran Kelima Tahun Ini

NUSADAILY.COM – PYONGYANG – Korea Utara (Korut) dilaporkan kembali meluncurkan objek yang diduga dua rudal jelajah dari wilayahnya. Kedua rudal itu disebut jatuh ke perairan sebelah timur negara komunis tersebut.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Seperti dilansir Reuters, Selasa (25/1/2022), aktivitas peluncuran terbaru Korut itu dilaporkan oleh Korea Selatan (Korsel), negara tetangganya. Kepala Staf Gabungan militer Korsel mengatakan bahwa pihaknya masih menganalisis peluncuran itu untuk menetapkan jenis proyektil yang digunakan.

BACA JUGA: Kereta Kargo Milik Korut Perdana Lintasi China Sejak Pandemi

Peluncuran rudal terbaru pada Selasa (25/1) waktu setempat ini merupakan yang kelima dilakukan Korut sepanjang tahun ini.

Pemimpin Korut, Kim Jong-Un, sebelumnya bersumpah akan memperkuat militer dengan teknologi canggih. Sumpah itu disampaikan saat pembicaraan dengan Korsel dan Amerika Serikat (AS) terhenti.

BACA JUGA: China dan Rusia Dorong PBB Ringankan Sanksi Terhadap Korut

Korut mengabaikan kecaman internasional dan menggelar empat uji coba rudal balistik beberapa pekan terakhir, dengan yang paling baru pada 17 Januari lalu.

Melansir detikcom, aktivitas peluncuran rudal itu telah memicu kekhawatiran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menuai sanksi baru dari pemerintahan Presiden AS Joe Biden. Namun peluncuran rudal jelajah oleh Korut diketahui tidak dilarang di bawah sanksi PBB.

BACA JUGA: Staf KBRI Pyongyang Tinggalkan Korut Melalui China

Beberapa waktu terakhir, China dan Rusia mendorong Dewan Keamanan PBB untuk mencabut larangan ekspor bagi Korut dan menaikkan batasan impor petroleum murni.

Korut sendiri menyatakan terbuka untuk dialog, namun hanya jika AS dan negara-negara lainnya mencabut ‘kebijakan permusuhan’ seperti sanksi dan latihan militer.(eky)

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Kenapa Gundukan Melintang di Jalan Disebut ‘Polisi Tidur’? Ternyata Begini Awalnya

NUSADAILY.COM - JAKARTA - 'Polisi tidur' di daerah Tangerang jadi sorotan. Sebuah video yang viral di media sosial menunjukkan ada jejeran 'polisi tidur' yang...

NUSADAILY.COM - PYONGYANG - Korea Utara (Korut) dilaporkan kembali meluncurkan objek yang diduga dua rudal jelajah dari wilayahnya. Kedua rudal itu disebut jatuh ke perairan sebelah timur negara komunis tersebut.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (25/1/2022), aktivitas peluncuran terbaru Korut itu dilaporkan oleh Korea Selatan (Korsel), negara tetangganya. Kepala Staf Gabungan militer Korsel mengatakan bahwa pihaknya masih menganalisis peluncuran itu untuk menetapkan jenis proyektil yang digunakan.

BACA JUGA: Kereta Kargo Milik Korut Perdana Lintasi China Sejak Pandemi

Peluncuran rudal terbaru pada Selasa (25/1) waktu setempat ini merupakan yang kelima dilakukan Korut sepanjang tahun ini.

Pemimpin Korut, Kim Jong-Un, sebelumnya bersumpah akan memperkuat militer dengan teknologi canggih. Sumpah itu disampaikan saat pembicaraan dengan Korsel dan Amerika Serikat (AS) terhenti.

BACA JUGA: China dan Rusia Dorong PBB Ringankan Sanksi Terhadap Korut

Korut mengabaikan kecaman internasional dan menggelar empat uji coba rudal balistik beberapa pekan terakhir, dengan yang paling baru pada 17 Januari lalu.

Melansir detikcom, aktivitas peluncuran rudal itu telah memicu kekhawatiran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menuai sanksi baru dari pemerintahan Presiden AS Joe Biden. Namun peluncuran rudal jelajah oleh Korut diketahui tidak dilarang di bawah sanksi PBB.

BACA JUGA: Staf KBRI Pyongyang Tinggalkan Korut Melalui China

Beberapa waktu terakhir, China dan Rusia mendorong Dewan Keamanan PBB untuk mencabut larangan ekspor bagi Korut dan menaikkan batasan impor petroleum murni.

Korut sendiri menyatakan terbuka untuk dialog, namun hanya jika AS dan negara-negara lainnya mencabut 'kebijakan permusuhan' seperti sanksi dan latihan militer.(eky)