Rabu, Agustus 17, 2022
BerandaInternationalKekerasan Pascakudeta Berlanjut, Myanmar Tangkap Dua Jurnalis Lagi

Kekerasan Pascakudeta Berlanjut, Myanmar Tangkap Dua Jurnalis Lagi

NUSADAILY.COM-NAYPYITAW– Pemerintah militer Myanmar telah menangkap dua wartawan lokal dalam kasus terbaru tindakan keras terhadap media sejak kudeta 1 Februari.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Kolumnis untuk situs berita Frontier Myanmar serta komentator di radio Voice of America, Sithu Aung Myint, dan seorang pekerja lepas yang bekerja untuk layanan berita BBC Burma, Htet Htet Khine, ditangkap pada 15 Agustus, menurut berita yang disiarkan Myawaddy TV.

Sithu Aung Myint didakwa dengan tuduhan penghasutan dan penyebaran informasi palsu pada unggahan media sosial, yang menurut laporan Myawaddy, dinilai telah mengkritisi junta, mendesak orang-orang untuk bergabung dalam aksi mogok, dan mendukung gerakan-gerakan oposisi yang dilarang.

Sementara Htet Htet Khine, ia dituduh telah menyembunyikan Sithu Aung Myint, yang telah dianggap sebagai seorang buronan tersangka kriminal.

Khine juga dituduh bekerja untuk dan mendukung pemerintah bayangan Myanmar, Pemerintah Persatuan Nasional.

Myanmar Tangkap Dua Jurnalis

Sebuah organisasi internasional nirlaba, Reporters Without Borders (RSF), mengatakan pada Sabtu bahwa kedua jurnalis itu ditahan “tanpa komunikasi” dan penahanan mereka tidak sah.

BACA JUGA :Dubes Myanmar Untuk PBB: Ada Ancaman, Keamanan Ditingkatkan NUSADAILY.COM

“Kami mengutuk keras kondisi penahanan mereka yang sewenang-wenang, yang mencerminkan kebrutalan yang dilakukan junta militer terhadap wartawan,” kata Daniel Bastard, kepala RSF untuk kawasan Asia-Pasifik.

Situasi di Myanmar masih dipenuhi dengan ketidakstabilan dan penentangan terhadap pemerintahan junta.

Sudah lebih dari 1.000 orang tewas , menurut penghitungan dari sebuah kelompok aktivis yang telah melacak pembunuhan oleh pasukan keamanan Myanmar.

Pihak militer Myanmar, yang telah mencabut izin dari banyak outlet berita, mengatakan bahwa mereka menghormati peran media tetapi tidak akan mentolerir pelaporan berita yang diyakini salah atau mungkin menimbulkan keresahan publik.

Pada Juli, sebuah laporan oleh Komite Perlindungan Jurnalis menyebutkan bahwa penguasa Myanmar telah secara efektif mengkriminalisasi jurnalisme independen.

BACA JUGA :Myanmar Tingkatkan Target Vaksinasi di Tengah Lonjakan Kasus COVID-19 IMPERIUMDAILY.COM

Human Rights Watch mendesak pemerintah militer Myanmar, yang telah menangkap 98 wartawan sejak melakukan kudeta, agar berhenti menuntut awak media.

Sebanyak 46 wartawan yang ditangkap itu masih ditahan hingga akhir Juli.(nd1)

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

Digugat Eks Pengacara Bayar Fee Rp 15 M, Begini Respons Bharada E

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Bharada Richard Eliezer atau Bharada E digugat mantan kuasa hukumnya Deolipa Yumara untuk membayar fee Rp 15 miliar. Gugatan itu...