Minggu, Juli 3, 2022
BerandaInternationalDiguncang Gempa Dahsyat Renggut 1.000 Nyawa, Taliban Minta Lebih Banyak Bantuan

Diguncang Gempa Dahsyat Renggut 1.000 Nyawa, Taliban Minta Lebih Banyak Bantuan

NUSADAILY.COM – KABUL – Taliban yang kini menguasai Afghanistan meminta lebih banyak bantuan kemanusiaan internasional setelah gempa bumi dahsyat di negara itu menewaskan lebih dari 1.000 orang dan melukai ratusan orang lainnya. Taliban diketahui kesulitan menghadapi kehancuran parah akibat gempa tersebut.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Seperti dilansir The Guardian, Jumat (24/6/2022), dengan krisis ekonomi yang melanda Afghanistan, Taliban menyebut sanksi-sanksi yang diterapkan negara-negara Barat, usai pasukan Amerika Serikat menarik diri tahun lalu, telah membatasi kemampuan mereka dalam mengatasi bencana di Provinsi Khost dan Paktika.

BACA JUGA: Imbas Taliban, Presenter TV Wanita Terpaksa Gunakan Penutup Wajah saat Siaran

Jumlah korban tewas terus bertambah secara bertahap, dengan laporan soal korban jiwa mulai didapatkan dari area-area yang sulit dijangkau di kawasan pegunungan sebelah timur Afghanistan yang terdampak parah gempa yang mengguncang pada Rabu (22/6).

Pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, pada Kamis (23/6) memperingatkan jumlah korban tewas mungkin akan terus bertambah.

Gempa diketahui mengguncang daerah-daerah yang sudah terdampak hujan deras, yang memicu longsoran batu dan lumpur yang semakin menghambat upaya penyelamatan. Upaya tersebut dilanjutkan kembali pada Kamis (23/6) dengan orang-orang menggali puing-puing dengan tangan untuk mencari korban selamat.

Bencana alam ini terjadi saat Afghanistan bergulat dengan krisis ekonomi parah menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban tahun lalu. Ada kekhawatiran yang semakin memuncak terhadap kemampuan Taliban dan badan-badan internasional untuk merespons dengan cepat.

Dengan badan-badan internasional besar masih beroperasi di Afghanistan. Berkuasanya kembali Taliban telah mendorong badan-badan lainnya dan pemerintah mengurangi program bantuan di negara yang 80 persen anggarannya berasal dari bantuan asing.

BERITA KHUSUS

Berkunjung ke Kota Batu, Sandiaga Uno Buka Workshop Minuman Kekinian Pelaku UMKM

NUSADAILY.COM-KOTA BATU – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno berkunjung ke Balai Kota Among Tani, Kota Batu (Rabu, 29/6). Sandiaga membuka acara...

BERITA TERBARU

Tak Hanya Mobil, Motor Mewah pun Diusulkan Dilarang Pakai Pertalite

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Mobil di atas 2.000 cc bukan satu-satunya kendaraan yang diusulkan agar tidak lagi bisa mengkonsumsi BBM subsidi jenis Pertalite. Badan...

NUSADAILY.COM - KABUL - Taliban yang kini menguasai Afghanistan meminta lebih banyak bantuan kemanusiaan internasional setelah gempa bumi dahsyat di negara itu menewaskan lebih dari 1.000 orang dan melukai ratusan orang lainnya. Taliban diketahui kesulitan menghadapi kehancuran parah akibat gempa tersebut.

Seperti dilansir The Guardian, Jumat (24/6/2022), dengan krisis ekonomi yang melanda Afghanistan, Taliban menyebut sanksi-sanksi yang diterapkan negara-negara Barat, usai pasukan Amerika Serikat menarik diri tahun lalu, telah membatasi kemampuan mereka dalam mengatasi bencana di Provinsi Khost dan Paktika.

BACA JUGA: Imbas Taliban, Presenter TV Wanita Terpaksa Gunakan Penutup Wajah saat Siaran

Jumlah korban tewas terus bertambah secara bertahap, dengan laporan soal korban jiwa mulai didapatkan dari area-area yang sulit dijangkau di kawasan pegunungan sebelah timur Afghanistan yang terdampak parah gempa yang mengguncang pada Rabu (22/6).

Pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, pada Kamis (23/6) memperingatkan jumlah korban tewas mungkin akan terus bertambah.

Gempa diketahui mengguncang daerah-daerah yang sudah terdampak hujan deras, yang memicu longsoran batu dan lumpur yang semakin menghambat upaya penyelamatan. Upaya tersebut dilanjutkan kembali pada Kamis (23/6) dengan orang-orang menggali puing-puing dengan tangan untuk mencari korban selamat.

Bencana alam ini terjadi saat Afghanistan bergulat dengan krisis ekonomi parah menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban tahun lalu. Ada kekhawatiran yang semakin memuncak terhadap kemampuan Taliban dan badan-badan internasional untuk merespons dengan cepat.

Dengan badan-badan internasional besar masih beroperasi di Afghanistan. Berkuasanya kembali Taliban telah mendorong badan-badan lainnya dan pemerintah mengurangi program bantuan di negara yang 80 persen anggarannya berasal dari bantuan asing.

Seorang pejabat senior Taliban, Abdul Qahar Balkhi, menyatakan pemerintah 'mengapresiasi dan menyambut baik' bantuan yang dijanjikan sejumlah pemerintahan lainnya dan badan-badan bantuan. Seperti Medecins Sans Frontieres dan Palang Merah.

Namun gempa berkekuatan Magnitudo 5,9 awalnya dilaporkan berkekuatan Magnitudo 6 telah memicu kerusakan secara luas dan penderitaan besar. Sehingga dibutuhkan lebih banyak bantuan.

"Sayangnya pemerintah sedang di bawah sanksi. Sehingga secara finansial tidak mampu membantu orang-orang sejauh yang dibutuhkan," ujar Balkhi dikutip dari detikcom.

BACA JUGA: Banyak Wanita Afghanistan Tolak Perintah Taliban Untuk Menutup Wajah

"Bantuan perlu ditingkatkan hingga ke tingkatan yang sangat besar karena ini gempa bumi dahsyat yang belum pernah terjadi dalam bertahun-tahun,"

Gempa bumi ini memberikan tantangan besar bagi Taliban, yang mengisolasi sebagian besar Afghanistan sebagai akibat dari kebijakan Islamis garis keras mereka. Bahkan sebelum Taliban berkuasa kembali, tim respons darurat Afghanistan kesulitan menangani bencana alam yang kerap melanda negara ini.

Tapi hanya dengan sedikit pesawat dan helikopter yang layak terbang, respons langsung terhadap bencana terbaru ini semakin terbatas.(eky)