Buruh Migran Asal Jember Bisa Pulang dari Riyadh, Kena Denda Rp 5,6 Miliar, Delapan Tahun Berjuang

  • Whatsapp
Buruh Migran asal Jember
Pekerja Migran Indonesia, Sumarwini, menunggu keberangkatan kembali ke Tanah Air dari bandara Riyadh, Arab Saudi, Selasa (19/1/2021).
banner 468x60

NUSADAILY.COM-JAKARTA- Buruh Migran asal Jember di Riyadh bisa pulang, Rabu (20/1/2021). Delapan tahun ia mendapat pendampingan dari Kedutaan Besar RI di Riyadh, Arab Saudi. Hingga KBRI berhasil memulangkan pekerja migran Indonesia asal Jember.

BACA JUGA: Kepolisian Jerman Selidiki Eksploitasi Buruh di Industri Kemas Daging – Imperiumdaily.com

Baca Juga

BACA JUGA: Eks Buruh Migran Menjahit APD Lantaran Prihatin PMI Jember Kehabisan Stok – Nusadaily.com

Buruh migran itu telah dijatuhkan tuntutan denda sebesar Rp 5,6 miliar dan telah menghuni penjara setempat selama lima tahun. 

Dalam keterangan tertulis KBRI Riyadh yang diterima di Jakarta, Rabu (20/1/2021), PMI atas nama Sumarwini meninggalkan kampung halamannya pada tahun 2006 guna mencari pekerjaan dan memperbaiki nasib di Arab Saudi. 

Namun, usai bekerja selama dua tahun di rumah majikan di kota itu, ia dituduh telah melakukan tindak kekerasan. Dan perbuatan tidak sewajarnya kepada dua anak majikan yang masih di bawah umur pada tahun 2008. 

“Karena adanya tekanan pada saat pemeriksaan, perempuan kelahiran 1979 ini akhirnya mengakui perbuatan yang dituduhkan,” demikian keterangan KBRI Riyadh soal Buruh Migran asal Jember di Riyadh itu.

Akibatnya, Sumarwini pun divonis 1 tahun penjara, 240 kali cambuk dan denda ganti rugi sebesar 538 ribu Riyal Saudi (SAR), atau sekitar Rp 1,9 miliar. Serta penahanan selama lima tahun atas tuntutan hak khusus oleh majikan. 

Dalam perkembangan persidangan banding di pengadilan, majikan menaikkan tuntutan ganti rugi menjadi SAR 1, 536.000 (setara Rp. 5,6 miliar). Angka itu sesuai keputusan yang dikeluarkan Komisi Penilaian Kerugian. 

Lima Tahun Dipenjara, KBRI RIyadh Jamin Sumarwini

Akibat putusan tersebut, sejak 27 Desember 2008, Sumarwini mendekam di balik jeruji besi di penjara. Hingga akhirnya pada November 2013, KBRI Riyadh berhasil mengeluarkannya dari tahanan dengan jaminan. 

Sebelumnya KBRI juga telah melakukan upaya banding termasuk untuk menganulir vonis denda ganti rugi materiil tersebut namun ditolak oleh pengadilan.

Keluar dari tahanan, Sumarwini berpindah ke penampungan (shelter) KBRI. Dan hidup bersama sesama PMI kurang beruntung lainnya yang menunggu proses penyelesaian masalah maupun tuntutan hak-hak mereka sebelum dapat pulang ke tanah air. 

Guna menyelesaikan kasus Sumarwini, KBRI menunjuk pengacara khusus berkewarganegaraan Saudi. Namun karena proses peradilan yang berlarut-larut tanpa adanya kepastian hukum yang final. Sumarwini belum bisa pulang ke Indonesia karena statusnya masih dicekal. 

Usai berbagai upaya yang dilakukan KBRI Riyadh, pada 11 Maret 2020 kasus Sumarwini akhirnya ditutup oleh pengadilan. Karena majikan tak pernah lagi datang memenuhi panggilan. Dan pada 17 Januari 2021, KBRI berhasil memperoleh izin keluar melalui Kantor Dinas Ketenagakerjaan setempat. 

“Alhamdulillah ya Rabbi. Terima kasih KBRI Riyadh yang telah banyak membantu saya”, ujar Sumarwini dikutip dari pernyataan KBRI Riyadh. 

Ia pun berangkat ke tanah air menggunakan maskapai Etihad yang berangkat dari Riyadh pada Selasa (19/1/2021) malam.(cak)