Australia Tangguhkan Kerja Sama Pertahanan dengan Myanmar

  • Whatsapp
penangguhan kerjasama pertahanan
Sejumlah orang menghadiri proses pemakaman Kyal Sin (19) alias Angel, seorang pengunjuk rasa yang tewas tertembak oleh pihak militer saat berunjuk rasa menentang kudeta militer di Mandalay, Myanmar, Kamis (4/3/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/wsj.
banner 468x60

NUSADAILY.COM – SYDNEY– Australia telah menangguhkan program kerja sama pertahanan dengan Myanmar. Kata Menteri Luar Negeri Marise Payne. Di tengah tindakan keras yang intensif oleh militer negara itu terhadap aksi protes besar-besaran akibat kudeta bulan lalu.

Australia juga akan mengarahkan langsung bantuan kemanusiaan segera kepada komunitas Rohingya dan etnis minoritas lainnya. Kata Payne dalam sebuah pernyataan pada Minggu malam (7/3).

Baca Juga

BACA JUGA: Australia Diajukan, Qatar Tetap Komitmen Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2032

“Kami akan memprioritaskan bantuan kemanusiaan dan yang paling mendesak dan berusaha memastikan keterlibatan bantuan kemanusiaan kami dengan dan melalui organisasi non-pemerintah. Bukan dengan pemerintah atau entitas terkait pemerintah,” kata Payne.

Hubungan kerja sama pertahanan bilateral Australia dengan militer Myanmar dibatasi pada area non-pertempuran seperti pelatihan bahasa Inggris.

Canberra juga akan terus menuntut pembebasan segera Sean Turnell. Yakni seorang ekonom dan penasihat pemimpin Myanmar yang digulingkan, Aung San Suu Kyi, kata pihak berwenang.

Turnell telah ditahan dengan pemberian akses konsuler terbatas sejak peristiwa kudeta militer pada 1 Februari yang menggulingkan pemerintah terpilih Myanmar.

Ratusan orang berkumpul di kota terbesar di Australia, Sydney, selama akhir pekan. Untuk mendesak pemerintah Australia mengambil sikap tegas terhadap kudeta militer Myanmar tersebut.

BACA JUGA: Perselisihan Berlanjut, Australia Tidak Kampanyekan Vaksin COVID-19 di Facebook

Negara Asia Tenggara itu telah jatuh dalam kekacauan setelah tentara mengambil alih kendali pemerintahan Myanmar dan menahan para pemimpin terpilih. Yang disusul dengan aksi protes harian yang menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menewaskan lebih dari 50 orang.

“Kami terus mendesak pasukan keamanan Myanmar untuk menahan diri dan menarik diri dari kekerasan terhadap warga sipil,” kata Payne.

Berbagai serikat pekerja utama di Myanmar telah meminta para anggotanya untuk menutup kegiatan ekonomi mulai Senin. Saat negara itu pada Minggu (7/3) mengalami salah satu hari protes terbesar.(int2)