Hukuman yang Menyenangkan

Hukuman yang menyenangkan? Kalimat yang terasa aneh? Mana ada orang dihukum merasa senang? Hukuman atau punishment biasa disandingkan dengan istilah reward.

Jun 7, 2024 - 06:07
Hukuman yang Menyenangkan
Dr. Rahaju, M.Pd. 

Oleh: Dr. Rahaju, M.Pd. 

Hukuman yang menyenangkan? Kalimat yang terasa aneh? Mana ada orang dihukum merasa senang? Hukuman atau punishment biasa disandingkan dengan istilah reward.

Reward and punishment merupakan alat pendidikan. Reward and punishment sangat berperan strategi perubahan perilaku. Reward and punishment dapat mengoptimalkan motivasi dan prestasi siswa. Reward dapat diartikan imbalan, ganjaran, hadiah, atau penghargaan. Reward merupakan alat pendidikan represif yang menyenangkan. Reward diberikan kepada siswa yang mempunyai prestasi tertentu atau menunjukkan kemajuan. Sebagai contoh, siswa yang berani mengemukakan pendapat dapat dianggap sebagai prestasi atau kemajuan. 

Reward juga diberikan kepada siswa yang berperilaku baik. Dengan pemberian reward, siswa termotivasi melakukan hal-hal baik. Teman-temannya juga akan mencontoh perilaku siswa tersebut agar mendapatkan reward. Ada banyak bentuk reward yang dapat diberikan dalam pembelajaran. Reward dapat berbentuk verbal dan non-verbal.

Reward verbal berupa pujian atau komentar positif. Misal: guru mengatakan “bagus sekali jawabanmu”, “keren banget gambarmu”, dan sebagainya. Reward non-verbal juga beragam. Tepuk tangan yang diberikan kepada siswa yang menjawab pertanyaan dengan benar merupakan reward. Reward non-verbal bisa juga berupa tambahan poin atau nilai, memberi tanda bintang pada buku pekerjaan siswa. Reward verbal dan non-verbal dapat diberikan secara bersamaan. Misal, guru mengatakan “Tepuk tangan, jawabannya bagus sekali”. Guru memberikan acungan jempol sembari mengucapkan “Bagus banget jawabannya”.

Di sisi lain, punishment diartikan hukuman atau sanksi, pemberian tindakan yang kurang menyenangkan. Punishment untuk mengurangi munculnya atau berulangnya perilaku yang tidak diharapkan. Punishment diberikan kepada siswa yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan.

Beberapa ahli berpendapat bahwa sebaiknya menghindari hukuman. Pemberikan hukuman harus dilakukan secara tepat dan bijak. Hal ini akan menimbulkan efek jera dan meningkatkan motivasi. Hukuman yang baik adalah hukuman yang dilakukan dengan sengaja, terencana dan mempertimbangkan dampaknya. Pemberian hukuman kadang menimbulkan stress tersendiri bagi siswa. Misal: siswa yang tidak hafal perkalian diberi hukuman berdiri di depan kelas.

Kadang-kadang guru secara tidak sengaja mengatakan sesuatu. Misal, guru mengatakan “Masak begitu saja tidak bisa?”. Hal ini secara tidak langsung merupakan hukuman bagi siswa. Dengan kalimat tersebut, siswa semakin surut atau tidak berani mengemukakan pendapatnya. Seperti soal Matematika yang cenderung dianggap sulit.

Dalam pembelajaran Matematika, hukuman merupakan hal yang sangat menakutkan. Sebagai contoh, siswa tidak dapat menyelesaikan masalah Matematika. Hal ini saja membuat siswa malu. Apalagi jika ditambah hukuman berdiri di depan kelas. Hal ini semakin menambah kepanikan siswa. Akan tetapi, jika kesalahan tersebut dibiarkan, maka siswa akan sembrono dan mengabaikan tugas dari guru. Bahkan siswa tidak termotivasi untuk berusaha memahami materi dan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, diperlukan hukuman yang menyenangkan. 

Hukuman yang menyenangkan adalah bentuk hukuman yang tidak membuat siswa ketakutan. Siswa salah atau gagal menyelesaikan masalah yang diberikan guru, maka siswa diberi hukuman. Akan tetapi, hukuman tersebut justru menyemangati siswa untuk lebih berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Hukuman yang menyenangkan dapat berupa menyanyi, berpantun, berakting, atau menari,. Siswa diminta menyanyikan suatu lagu. Lirik lagu tersebut diganti dengan vokal yang sama. Misal, lirik lagu Balonku menjadi Bulunku udu lumu, rupu-rupu wurnunyu, dan seterusnya.

Proses pembelajaran diawali dengan memberitahukan bahwa akan ada hukuman bagi siswa yang gagal menyelesaikan soal. Setiap siswa atau kelompok diminta menuliskan hukuman yang tepat pada sebuah kertas kecil (kupon). Kupon tersebut digulung dan diletakkan di meja guru. Guru menyampaikan bahwa siswa dapat memberikan hukuman yang seberat-beratnya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa yang melakukan kesalahan bisa siswa lain (temannya) atau bisa jadi dirinya sendiri.

Penjelasan ini akan mempengaruhi bentuk hukuman yang dituliskan siswa pada kupon hukuman. Penjelasan guru mempengaruhi siswa dalam menentukan bentuk hukuman. Siswa mempertimbangkan bagaimana jika hukuman yang berat tersebut mengenai dirinya sendiri. Hal ini secara tidak langsung mengajarkan karakter toleransi.

Ketika ada siswa yang gagal menyelesaikan soal atau masalah, siswa diminta mengambil kupon hukuman. Setelah membaca isi kupon hukuman, siswa diminta melaksanakan hukuman di depan kelas. Dengan demikian, sebenarnya siswa memilih sendiri hukumannya.

Biasanya hukuman yang diberikan siswa adalah hukuman yang ringan, tetapi lucu. Dalam suatu pembelajaran bagi mahasiswa, terdapat hukuman menyebutkan sila keempat Pancasila. Semula penulis menganggap hukuman ini terlalu mudah. Akan tetapi, mahasiswa tersebut tidak hafal bunyi sila keempat. Berkali-kali ia mengulang-ulang secara tidak lancar. Teman-temannya semakin bersorak. Yang bersangkutan tetap berusaha menjalankan hukuman tersebut, kadang ikut tertawa bersama temannya.

Hukuman tersebut membuat yang dihukum atau siswa lain tertawa. Kondisi ini mencairkan suasana tegang dalam pembelajaran. Hukuman ini dapat berfungsi sebagai selingan atau istirahat berpikir sejenak. Setelah itu, semua siswa tertepuk tangan dengan penuh keceriahan. Hukuman menyenangkan ini tidak membuat siswa ketakutan. Hukuman ini juga mendorong siswa termotivasi untuk belajar. Siswa berharap tidak dihukum, tetapi dialah yang menghukum atau melihat temannya terhukum.

Beberapa kali uji coba menunjukkan bahwa siswa semakin semangat mempelajari materi sebelum pembelajaran. Suasana pembelajaran Matematika yang biasanya menegangkan menjadi lebih santai. Dengan demikian, pemberian hukuman yang menyenangkan menjadi daya tarik tersendiri dalam belajar. Guru atau pendidik harus bijak memilih jenis hukuman. Selain itu, tepat dalam mengelola proses pemberian hukuman. Hal ini akan meningkatkan motivasi dan peran aktif siswa dalam pembelajaran.

 

 

Dr. Rahaju, M.Pd., adalah dosen Prodi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Kanjuruhan Malang dan anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).

Artikel ini telah disunting oleh Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Madiun dan Dewan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).