Hindari Gagal Ginjal, Ini Jumlah Tepat Kebutuhan Cairan Anak

Gagal ginjal akut sebenarnya bukan penyakit baru dalam dunia kesehatan. Menurut dokter spesialis anak Kurniawan Satria Denta, penyakit ini jadi salah satu komplikasi yang paling umum terjadi pada pasien anak di rumah sakit.

Hindari Gagal Ginjal, Ini Jumlah Tepat Kebutuhan Cairan Anak
Ilustrasi. Jumlah kebutuhan cairan anak harian berbeda-beda tergantung pada usia. (shutterstock/LP7)

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Etilen glikol dan dietilen glikol bukan satu-satunya penyebab gagal ginjal akut. Dehidrasi juga bisa memicu penyakit ini.

Air memegang peran penting untuk mencegah dehidrasi pada anak. Dokter menjelaskan jumlah kebutuhan cairan anak harian.

Gagal ginjal akut sebenarnya bukan penyakit baru dalam dunia kesehatan. Menurut dokter spesialis anak Kurniawan Satria Denta, penyakit ini jadi salah satu komplikasi yang paling umum terjadi pada pasien anak di rumah sakit.

"Hampir semua anak saat sakit, dirawat di rumah sakit punya risiko tinggi gangguan ginjal," kata Denta saat sesi Combiphar Health Desk Virtual Talkshow Forum, Kamis (24/11).

BACA JUGA : BPOM Bakal Dampingi Kejagung Hadapi Kasus Gagal Ginjal...

Penyebab gagal ginjal akut sebenarnya beragam, tapi kasus belakangan mengarah pada keracunan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Denta mengingatkan bahwa dehidrasi pun bisa memicu gagal ginjal akut.

Dia berkata, anak, terutama bayi, sangat rentan mengalami dehidrasi, apalagi saat sakit dan malas minum.

Akan tetapi jika orang tua ingin memenuhi kebutuhan cairan anak, perlu memperhatikan jumlahnya.

Jumlah kebutuhan cairan anak

Berikut beberapa jumlah kebutuhan cairan anak berdasarkan usia.

Usia bayi

Bayi usia 0-12 bulan biasanya memiliki berat badan di bawah 10 kilogram. Denta mengatakan, kebutuhan cairan bayi dihitung per kg berat badan. Tiap kg berat badan, bayi memerlukan 100 ml asupan cairan.

Dia memberikan contoh, bayi seberat 8 kg, berarti kebutuhan cairannya 800 ml.

Balita

Usia di bawah lima tahun (balita) sudah bisa mengonsumsi cairan sebanyak 1-1,5 liter per hari. Cairan bisa berasal dari susu, air putih, maupun cairan dari sayur dan buah.

BACA JUGA : Covid-19 Naik Lagi, Ini Kelompok Tertentu yang Rentan Alami...

Denta memberikan catatan bahwa kebutuhan cairan bisa berubah tergantung cuaca dan aktivitas. Saat cuaca sedang panas dan aktivitas banyak, tentu orang tua tidak bisa berpatokan pada angka-angka tadi.

Kemudian anak yang sedang batuk, pilek, demam memerlukan cairan lebih banyak dari jumlah normal.

"Lalu cek enggak cuma dari seberapa banyak anak sudah minum, tapi anak seberapa sering kencing. Dalam waktu 6 jam, anak minimal 1-2 kali kencing. Kalau masih kencing, warnanya kuning jernih, cairan yang diberikan sebelumnya sudah cukup," jelasnya.

Tapi, jika intensitas buang air kecilnya jarang dibarengi dengan warna urine yang keruh, maka orang tua perlu meningkatkan asupan cairan.

Demikian jumlah kebutuhan cairan anak. Orang tua harus selalu waspada dan melakukan upaya agar anak terhindar dari gagal ginjal akut.(lal)