Kamis, Juni 30, 2022
BerandaHeadlineIbu Guru PAUD di Jember Bunuh Bayi Kandung Sendiri Karena Benci

Ibu Guru PAUD di Jember Bunuh Bayi Kandung Sendiri Karena Benci

NUSADAILY.COM – JEMBER – Rabu, 30 Maret 2022, polisi mengungkap motif tersangka maupun profesi keseharian dari pelaku pembunuhan anak kandung sendiri yang masih bayi di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Tersangkanya yaitu Faridatul Nikmah (25), seorang guru salah satu lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) di Dusun Bregoh, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu.

“Yang bersangkutan adalah guru PAUD, tersangka pembunuhan anak kandungnya sendiri, bayi perempuan masih usia 1 bulan,” terang Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo dalam konferensi pers, Rabu 30 Maret 2022.

Menurut Hery, tersangka secara sengaja menceburkan korban ke dalam sumur pada tanggal 23 Maret 2022. Alasannya, walau sang bayi tak berdosa, tapi dirasa oleh tersangka telah menjadi pemicu kebencian dalam dirinya.

“Tersangka sangat benci dengan bayinya. Saat tersangka terjaga, kemudian melihat bayi tidur dengan neneknya tiba-tiba diambil dan diceburkan ke sumur,” urai Hery mengulas kronologi.

Tersangka berusaha menutup perbuatan jahatnya dengan cara berpura-pura bayinya yang dibunuh dikatakan hilang dicuri makhluk halus. Tersangka menyebut kemungkinan yang menculik adalah genderuwo, sebutan bagi hantu dengan mitos berperangai buruk.

Bahkan, tipu daya tersangka berlanjut melalui penampilan diri bak pemain panggung sandiwara. Seketika ia menari kuda lumping tatkala oleh warga ditemukan bayinya telah mati dalam sumur.

Hery menjelaskan, kedok kejahatan tersangka terkuak melalui proses penyelidikan terhadap sejumlah saksi hingga alat bukti di lokasi yang diperkuat keterangan medis berupa hasil autopsi jenasah bayi.

“Barang bukti penutup sumur ada (jejak sidik jari) bukti dibuka oleh tersangka. Serta baju yang dikenakan korban saat diceburkan tersangka ke sumur. Hasil autopsi akan kita buka di persidangan,” papar Hery.

Tersangka akhirnya mengakui semua perbuatannya tanpa bisa mengelak dari serangkaian bukti-bukti. Selama dihadirkan ke hadapan media, tersangka hanya menunduk dan membisu.

Terancam 15 Tahun Penjara

“Tersangka dijerat Pasal 80 Ayat (3) juncto Pasal 76 huruf C Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 atas perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan atau Pasal 44 Ayat (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan KDRT, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp50 juta,” tegas Hery.

Meski bukti menguat, tapi yang bersangkutan tetap berupaya membuat dalih atau alasan yang menyulut tindakan keji dirinya membunuh bayi, darah dagingnya sendiri.

Hery menyebut, tersangka menyalahkan faktor pendorong yang membuatnya kalap lantaran merasa tersudut. Tersangka mengaku penyebabnya seperti kerap menuai ejekan dari keluarga suaminya yang berinisial AM maupun kalangan orang-orang terdekat.

Tersangka ngotot psikisnya diliputi perasaan malu karena sering diejek sebagai perempuan tak berguna. Sebab, hanya bisa memberi asupan susu formula kepada bayinya, bukan dengan air susu ibu (ASI) seperti perempuan pada umumnya.

“Tersangka termotivasi melakukan perbuatan tersebut karena mendapat cemoohan keluarga suaminya. Disebut belum bisa menjadi ibu jika tidak menyusui anaknya,” ulas Hery.

Bunuh Bayi Karena Tensi Naik

Di samping itu, dalih tersangka membunuh bayi gegara kian naik tensi tekanannya akibat pekerjaan sebagai guru PAUD yang bergaji rendah menjadi target perundungan. Tersangka dituding hanya menumpang hidup di keluarga suaminya.

“Dianggap tersangka itu menikahi suaminya dengan tujuan karena faktor ekonomi,” papar Hery tanpa menyebut siapa saja kalangan keluarga AM yang merundung tersangka.

Beragam alasan tersangka boleh jadi kenyataan, tapi lanjut Hery, bagi polisi bukan berarti dapat membenarkan tindakan berbuat kriminal. Kecuali, tersangka tergolong sebagai orang yang terbukti secara medis kurang sempurna akal, sehingga tidak dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya.

“Semua yang menjadi alibi atau keterangan tentunya akan kami tindaklanjuti. Kami akan koordinasi dengan psikolog dan psikiater untuk mendapat gambaran kondisi kejiwaan tersangka. Mengenai pengakuan bullying juga akan kami dalami, kroscek saksi-saksi apakah betul atau justru terjadi hal lain,” tukas Hery.

Polisi menerapkan penahanan kepada tersangka dengan perlakuan khusus bagi tahanan wanita oleh penyidik perempuan dari Unit PPA Satreskrim. Jika berkas perkara rampung, maka kasus ini akan berlanjut ke tahap penuntutan melalui kejaksaan ke pengadilan. (sut/aka)

BERITA KHUSUS

Kabar Gembira! Internet Gratis Masuk RW, Wali Kota Pasuruan: Ada 68 Titik

NUSADAILY.COM – KOTA PASURUAN – Warga Kota Pasuruan kini semakin dimanjakan dengan layanan internet gratis. Tidak hanya sebatas pada ruang publik, seperti taman-taman kota,...

BERITA TERBARU

Transfer Lewandowski ke Barcelona Belum Juga Deal, karena Kendala Ini

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Barcelona belum juga mampu mewujudkan transfer Robert Lewandowski. Barcelona meminta Lewandowski bersabar karena mereka masih terus mengusahakan kepindahannya. Barcelona menjadikan Lewandowski...