Satu per Satu Korban Buka Suara, Jumat Besok 2 Saksi Kunci akan Melapor ke Polda Jatim

  • Whatsapp
Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait.

NUSADAILY.COM-KOTA BATU– Satu per satu korban dugaan pelecehan seksual mulai membuka suara. Diduga pelaku adalah pendiri SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu berinisial JE. Para korban mendapat perlakuan tak senonoh dari JE ketika mereka masih menjadi siswi sekolah yang didirikan 2007 lalu. Kini para korban itu telah berstatus sebagai alumnus SMA SPI.

Bacaan Lainnya

Tiga mantan siswi yang didampingi Komnas PA melaporkan perbuatan JE ke Polda Jatim pada Sabtu, 29 Mei lalu. Upaya mereka memberi efek seperti bola salju yang menggelinding dan memantik simpati dari berbagai kalangan. Sehingga memantik keberanian korban-korban lainnya untuk membuka suara.

Komnas PA menerima empat pengaduan baru yang diterima dari 1 korban pada Rabu kemarin (2/6). Kemudian pada hari ini (Kamis, 3/6), menerima aduan dari 3 pelapor. “Ada empat pengaduan baru yang saya terima. 1 pada hari Rabu kemarin, sedangkan tiga lainnya saya terima pada hari ini,” ujar Arist, Kamis (3/6).

Lebih lanjut, Arist mengungkapkan, pada Jum’at besok (4/6), akan ada dua saksi kunci yang akan melapor ke Polda Jatim. Keduanya merupakan saksi kunci atas perbuatan yang dilakukan JE. “Besok, Jumat (4/6) akan ada dua saksi kunci, berasal dari wilayah Jawa Timur yang akan turut melapor dan memberikan kesaksiannya kepada tim penyidik Polda Jatim,” terangnya.

Hingga kini, secara resmi Polda Jatim telah menerima 12 laporan korban. Dengan rincian, 3 pelapor pada hari Sabtu 29 Mei dan 9 pelapor pada Rabu kemarin (2/6). Maka jika pada Jum’at besok dua saksi kunci melapor ke Polda Jatim, jumlah korban bertambah menjadi 14 korban.

Arist menguraikan, aduan baru dari empat korban yang diterima Komnas PA pada Rabu (2/6) dan Kamis (3/6), diterima dirinya melalui pesan singkat Whatsapp. Empat pengadu baru itu berasal dari daerah yang ada di seluruh Indonesia.

“Selain itu, juga ada seorang ibu yang bercerita, bahwa putranya sempat bersekolah disitu selama tujuh bulan. Namun selama di sana, dia mendapati putranya mengalami kekerasan fisik. Dengan adanya perlakuan itu, ibu tersebut langsung menarik putranya untuk pulang,” beber Arist.

Pengadu Difasilitasi Nomor Hotline

Sementara itu, untuk siswa/alumni Sekolah SPI yang ingin mengadu. Pihaknya bersama dengan Polda Jatim telah memfasilitasi nomor hotline yang bisa dimanfaatkan. “Untuk yang melakukan pengaduan melalui hotline Polda Jatim, hingga saat ini sudah ada sekitar empat sampai lima orang anak. Jumlah itu dimungkinkan bisa terus bertambah,” ujar Arist.

Dengan semakin banyaknya aduan yang dia terima, baik langsung ke dirinya maupun melalui hotline Polda Jatim. Itu merupakan suatu hal yang sangat baik. Karena dengan adanya tambahan pengadu, bisa memperkuat informasi sebagai bukti hukum yang bisa diteruskan ke Polda Jatim.

“Adanya hal ini membuat kami semakin gembira. Karena dengan banyaknya orang yang mengadu, saya kira ini merupakan suatu pembenaran terhadap peristiwa tersebut,” ujarnya.

Disisi lain, dia menjelaskan, salah satu faktor yang membuat siswa/alumni tidak berani mengadu ketika masih berada di dalam sekolah adalah faktor eksploitasi kemiskinan. Lantaran, semua anak yang berada di sekolah itu bercita-cita mendapatkan pendidikan gratis. Namun kenyataannya tidak sama dengan yang diharapkan.

“Faktor utama yang menyebabkan mereka tidak berani melapor adalah tekanan ekonomi. Karena siswa yang ada di sana memiliki latar belakang dari keluarga kurang beruntung,” tegasnya.

Pihaknya bersama dengan Polda Jatim akan senantiasa melindungi siswa/alumni Sekolah SPI yang telah mengadu maupun yang baru akan mengadu. Maka dari itu, dia menghimbau kepada siswa/alumni yang mengalami perlakuan sama, untuk segera melayangkan pengaduan.(wok/aka)

Pos terkait