Pendiri Terbelit Kasus Pelecehan Seksual, Komisi E DPRD Jatim Ingin SMA SPI Kota Batu Tetap Eksis

  • Whatsapp
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Hikmah Bafaqih usai bertemu dengan pengurus SMA Selamat Pagi Indonesia Kota Batu.

NUSADAILY.COM-KOTA BATU– SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu menarik perhatian khalayak belakangan ini. Pendiri sekaligus pemilik sekolah berinisal JE dilaporkan atas dugaan pelecehan seksual kepada belasan siswinya.

Bacaan Lainnya

Para korban dengan didampingi Komnas PA telah melaporkan JE kepada Polda Jatim. Dari penuturan para korban, yang disampaikan Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait menyebutkan di sekolah itu juga diduga melakukan eksploitasi ekonomi. Tak hanya itu, korban juga mendapat perlakuan kasar dari JE berupa kekerasan fisik maupun verbal.

Terkuaknya skandal itu memantik perhatian dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Komisi E DPRD Jatim didampingi Dindik Pemprov Jatim dan DP3AK Pemprov Jatim. Mereka berkunjung menemui jajaran pengurus sekolah SPI yang berkonsep boarding school (Rabu, 2/6).

Sekolah ini didirikan 2007 lalu untuk menampung anak-anak kurang beruntun dari berbagai daerah. Sehingga mereka bisa mengakses pendidikan secara gratis dengan dibekali keterampilan kewirausahaan.

Wakil Ketua DPRD Jatim, Hikmah Bafaqih sangat menyayangkan jika sekolah ini ditutup dan mengorbankan hak pendidikan peserta didik SMA SPI. Menurutnya, sangat tidak adil jika kesalahan satu orang mengakibatkan lenyapnya hak anak dalam mengakses pendidikan. Sehingga ia berharap sekolah ini tetap eksis, sekalipun pemilik sekolah terbelit persoalan hukum.

“Itu kepentingan kami ke sini. Memberi dukungan kepada peserta didik agar terlindungi semua,” kata politisi PKB itu.

Sekolah Perlu Diselamatkan

Sekolah gratis yang dijalankan melalui sokongan donatur ini perlu dilakukan skema upaya penyelamatan. Sehingga sekalipun pemilik terbelit kasus, Bafaqih ingin sekolah ini tetap berdiri. Pihaknya pun telah meminta kepada Wali Kota Batu agar bertemu dengan pengelola sekolah. Hal ini untuk meredam gejolak bagi warga di lingkungan sekolah. Serta agar para peserta didik dapat mengenyam pendidikan tanpa harus terganggun dengan persoalan yang ada.

“Sekalipun founder terbelit kasus, kami ingin sekolah ini tetap bertahan. Jangan sampai karena ulah segelintir orang membawa dampak buruk bagi warga sekolah. Jangan merusak keberlangsungan sekolah yang menurut kami baik,” tukas dia.

Di samping itu, ia meminta kepada pengurus sekolah kooperatif membantu aparat penegak hukum yang kini mendalami laporan para siswi. Dari penuturan yang didapat dari pihak sekolah, Bafaqih mengungkapkan, jika para pelapor itu merupakan alumni siswi-siswi SMA SPI. Ia menekankan, agar tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.

“Tidak boleh takut demi penanganan hukum. Sekalipun secara relasi kuasa, terlapor JE ini merupakan pendiri dan pemilik sekolah,” tegasnya.

Selain itu, dirinya meminta kepada alumni-alumni lainnya yang pernah menjadi korban untuk segera melapor. Agar dapat mempercepat pembuktian sehingga dapat membantu aparat hukum dalam upaya penindakan menyelesaikan proses hukum.

“Kami bersepakat dengan Wali Kota Batu berada pada kepentingan terbaik korban. Kami sudah komunikasi dengan Komnas PA seandainya dibutuhkan proses pemulihan psikis korban. Siap mengakomodir segala kebutuhan korban,” pungkasnya.(wok/aka)