Minggu, Desember 5, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaHeadlineDirut Pertamina: Harusnya Premium dan Pertalite Tak Boleh Lagi Dijual

Dirut Pertamina: Harusnya Premium dan Pertalite Tak Boleh Lagi Dijual

- Advertisment -spot_img

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

NUSADAILY.COM – JAKARTA – PT Pertamina (Persero) terus mendorong penggunaan bahan bakar ramah lingkungan (BBM), sebagai upaya untuk menekan emisi gas rumah kaca.

Lebih lanjut, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, pemerintah melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, telah mengeluarkan aturan berupa Permen LHK Nomor 20 Tahun 2017 yang mensyaratkan gasoline yang dijual minimum, harus memiliki nilai Research Octane Number (RON) 91.

Dalam gasoline, Nicke menuturkan, masih ada dua jenis BBM yang RON-nya masih di bawah 91. Ia menyebutkan yakni Premium dengan RON 88 dan Pertalite dengan RON 90.

“Artinya ada dua produk yang kemudian tidak boleh lagi dijual di pasar, kalau mengikuti aturan tersebut, yaitu premium dan pertalite,” ungkap Nicke dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), dengan Komisi VII DPR RI. Di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 31 Agustus 2020.

Namun kedua jenis BBM ini, hingga kini memiliki porsi konsumsi yang paling besar. Misalnya saja di data 22 Agustus 2020, penjualan premium mencapai 24 ribu kiloliter (KL) dan pertalite sebesar 51,5 ribu KL. Sedangkan untuk penjualan BBM dengan RON di atas 91 yakni pertamax. Dengan RON 92 sebesar 10 ribu KL, dan pertamax Turbo dengan RON 98 sebesar 700 KL.

“Oleh karena itu, kita perlu mendorong bagaimana konsumen yang mampu beralih ke BBM ramah lingkungan,” tutur Nicke.

Di sisi lain, dia mengungkapkan, jenis BBM yang dijual di Indonesia lebih banyak dari negara lain. Di Indonesia untuk gasoline saja ada enam jenis dan di negara lain hanya dua sampai tiga jenis.

Nicke memaparkan, ada tujuh negara di dunia termasuk Indonesia yang masih menggunakan BBM. Dengan RON di bawah 90 di antaranya Bangladesh, Kolombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, dan Uzbekistan.

“Jadi itu alasan kenapa kita perlu mengkaji kembali varian BBM ini,” ulas Nicke. (via/aka)

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR