Rabu, Januari 26, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaFoodTolak Beri Sertifikat Halal pada Daging Babi Vegan, MUI Singapura Ungkap Alasannya

Tolak Beri Sertifikat Halal pada Daging Babi Vegan, MUI Singapura Ungkap Alasannya

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Impossible Pork tengah gencar mempromosikan produk daging babi vegan di Singapura sejak 18 November 2021. Namun mengenai kehalalannya, Majelis Ugama Islam (MUI) Singapura tak memberikan sertifikat halal pada produk itu karena alasan ini.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Daging babi vegan adalah produk imitasi daging babi dari bahan nabati (vegan). Salah satu produsennya adalah Impossible Pork.

BACA JUGA: Manfaat Labu Siam, Bisa Kontrol Berat Badan

Pihaknya bekerja sama dengan 120 restoran di sana untuk meluncurkan menu spesial berbahan daging babi vegan. Menu yang ditawarkan beragam, mulai dari pork pie, pork belly, hingga sajian iga babi.

Mengutip Mothership SG (3/12/21), Impossible Pork terbuat dari konsentrat protein kedelai, minyak kelapa, dan air sebagai bahan utamanya. Untuk tekstur dan rasa menyerupai daging didapat dari penggunaan heme.

BACA JUGA: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Bedanya Yakitori dan Sate Ayam

Heme merupakan protein yang ditemukan di setiap makhluk hidup. Karena sifatnya nabati, heme yang dipakai pada Impossible Pork adalah leghemoglobin yang terbuat dari fermentasi ragi rekayasa genetika.

Meski terbuat dari 100% bahan nabati dan tanpa babi sedikitpun, nyatanya produk daging babi vegan ini tidak bisa mendapat sertifikasi halal Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS). Pihaknya menyarankan agar Muslim bisa menahan diri untuk tidak mengonsumsi produk ini.

“Dalam hal ini, (produk babi vegan) dapat menyebabkan kebingungan bagi masyarakat Muslim dari penggunaan nama makanan yang jelas dilarang menurut hukum Islam,” tulis MUIS dikutip dari detikcom.

BACA JUGA: Penting bagi Muslim! Kenali 8 Istilah Makanan Olahan Babi

Sementara itu, Impossible Foods juga menyatakan dengan jelas kalau Impossible Pork bersama produknya yang lain, tidak bersertifikat halal atau bukan tergolong makanan halal.

Perusahaan tetap mempertahankan pemakaian nama babi dalam produk mereka. “Meskipun Impossible Pork pada awalnya dirancang untuk sertifikasi halal dan kosher, kami tidak melanjutkan sertifikasi tersebut. Hal ini karena kami ingin terus menggunakan istilah ‘Pork’ dalam nama produk kami,” tulis Impossible Foods.

Kebijakan MUI Singapura ini sejalan dengan yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk produk makanan yang menyerupai makanan nonhalal. Pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 Tahun 2003 tentang Standarisasi Fatwa Halal, salah satu poinnya menetapkan masalah penggunaan nama dan bahan, yang terdiri dari empat hal.

Pertama, produk tidak boleh menggunakan nama dan/atau simbol-simbol makanan/minuman yang mengarah kepada kekufuran dan kebatilan.

BACA JUGA: Cara Memotong Daging Sapi yang Benar Agar Empuk Saat Dimasak

Kedua, produk tidak boleh menggunakan nama dan/atau simbol-simbol makanan/minuman yang mengarah kepada nama-nama benda/binatang yang diharamkan terutama babi dan khamr, kecuali yang telah mentradisi dan dipastikan tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan seperti nama bakso, bakmi, bakwan, bakpia dan bakpao.

Ketiga, produk tidak boleh menggunakan bahan campuran bagi komponen makanan atau minuman yang menimbulkan rasa atau aroma benda-benda atau binatang yang diharamkan, seperti mie instan rasa babi, bacon flavour.

Keempat, produk tidak boleh mengkonsumsi makanan/minuman yang menggunakan nama-nama makanan/minuman yang diharamkan seperti whisky, brandy, beer, dan lainnya.(mic)

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com Nadzira Shafa sempat hamil anak Ameer Azzikra #tiktoktaiment ♬ Filtered Light - Nik Ammar / Mike Reed