Menikmati Wisata Kuliner Khas Suku Sasak Lombok

  • Whatsapp
lombok kuliner
Sate Rembiga (Foto: detikfood.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MATARAM – Di Lombok, sate adalah kuliner yang populer. Salah satu yang paling disukai adalah Sate Rembiga di kawasan Dasan Lekong, Kelurahan Rembiga. Sate bercita rasa agak pedas ini dibanderol Rp20 ribu untuk 10 tusuk.

Tampilan Sate Rembiga sendiri tak ubahnya sate biasa. Keunggulan Sate Rembiga terletak pada penggunaan daging has dalam sapi, yang lebih empuk. Sebelumnya, daging yang sudah ditusuk direndam di saus cabe merah, kemiri, terasi, lombok, dan bumbu lainnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Plesir ke Lombok, Jangan Lupa Santap Ayam Taliwang, Rasanya Melayang

Saat disajikan, seperti umumnya kuliner Lombok, Sate Rembiga juga memiliki sejumlah pendamping. Pilihan lainnya adalah sate ikan bercita rasa pedas yang segar, bisa ditemui di kawasan Tanjung, Lombok Utara. Daerah ini memang dikenal sebagai penghasil ikan segar.

Serupa seperti Sate Rembiga, sate ikan ini dibuat dari daging ikan tengiri segar yang dikepal, lalu dicampur bumbu yang juga pedas. Adonan ini memiliki sedikit warna kuning, yang adalah kunyit sebagai penghilang bau amis ikan. Yang harus jadi catatan, sate ini dijual di kaki lima, sehingga di masa pandemi ini, akan lebih aman untuk membawa pulang daripada makan di tempat.

BACA JUGA: Beberuk Terong, Pendamping Ayam Taliwang yang Sedap

Sate Bulayak

lombok kuliner
Sate Bulayak (Foto: indonesiakaya.com)

Berikutnya, ada Sate Bulayak yang berasal dari kawasan Suranadi, Lombok Barat. Keunikan santapan itu terletak pada bulayak, atau lontong, yang dibungkus dengan daun aren. Sate Bulayak pun disandingkan dengan bumbu kacang halus, menyerupai Sate Padang.

Perburuan kuliner wisatawan bisa dilanjutkan ke desa adat Sade. 45 km dari Mataram, desa ini masih memegang kuat budaya asli Lombok sampai hari. Kuliner yang harus dicoba di Sade adalah Ares, yang dipastikan selalu ada dalam setiap acara adat.

Menurut penduduk lokal Desa Sade, dulunya Ares adalah santapan khusus keluarga kerajaan sebagai sayur pendamping daging sapi. Makanan tersebut disantap memakai tangan, disebut memiliki cita rasa gurih dan pedas. Sementara untuk santap ringan, ada Poteng Jaje Tujak.

Poteng Jaje Tujak terdiri dari dua sajian, yakni poteng atau tape yang dibuat dari ketan putih, dan jaje tujak yang diolah dari campuran ketan putih, ketan hitam, dan kelapa. Pembuatan poteng membutuhkan waktu sampai tiga hari, dan berkesan rasa cenderung manis.

“Biasanya kalau di sini [di Lombok], kami hidangkan [Poteng Jaje Tujak] cuma pas lagi ada acara-acara [adat],” ujar Thamrin, seorang penduduk lokal.

Menjelajah dan mencoba beragam wisata kuliner #DiIndonesiaAja akan membuat Anda tersadar akan kekayaan budaya bangsa. Berwisata tetap bisa dilakukan saat pandemi, asalkan dengan patuh menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE, serta menjaga kesehatan dan lingkungan yang dikunjungi.(han)